The NEW  BANTAENG (?)

the new bantaeng

the new bantaeng

( refleksi 762 tahun Butta Toa )

Bahagia rasanya, Bantaeng yang bergelar Butta Toa berusia 762 tahun. Rangkaian acara penanda hari jadi telah digelar oleh Pemerintah Daerah dengan puncak peringatan nya tanggal 7 Desember 2016 kemarin.

Bangga rasanya, menjadi bagian dari Bantaeng, kota kecil yang pembangunannya pesat 7 tahun terakhir ini. Sungguh sebuah prestasi yang mengukir sejarah, prasasti abadi dari kepemimpinan bupati di masanya. 

Bantaeng dengan tagline pembangunannya “The New Bantaeng”, berhasil menyentuh emosi masyarakat Indonesia, bukan kami saja warga Bantaeng yang terpapar kekaguman, orang se antero nusantara pun berhasrat bertandang ke Bantaeng, sekedar menikmati pantainya, atau belajar tentang metamorfosa sebuah pemerintahan, dari Bantaeng menjadi The New Bantaeng. 

Metamorfosa pemerintahan ini telah berhasil menarik investasi puluhan trilyun rupiah, yang memacu laju pertumbuhan ekonomi daerah, kesejahteraan dan kemajuan, geliat peradaban yang sangat terasa dan teraba oleh

207.975 jiwa warga.

Perpaduan ragam etnis (bugis, makassar, jawa, tionghoa, dll) membawa warna kehidupan sosiologi masyarakat yang khas. Mereka hidup damai dalam harmoni budaya Butta Toa.

Itulah Bantaeng, yang sejak dahulu kala, harmonis, bermoral, religius, dan berkarakter. Jauh dari kontroversi.

Sampai kemudian berita tentang festival waria yang membelalakkan mata itu datang, dan langsung memenuhi ruang-ruang diskusi publik…

Bantaeng kembali menjadi perbincangan, tapi kali ini tentang event aneh nya bersama para waria

Komentar miringpun bersahutan di media sosial, di warkop dan media diskusi lainnya.

Banyak yang mengkhawatirkan The New Bantaeng akan berkembang menjadi sarang waria.

Bantaeng kehilangan identitas budaya nya justru di hari jadi nya yang ke 762,  oleh anomali ide yang mencederai masyarakat Butta Toa

Beragam analisa menjadi tak terbendung lagi, ada yang mengkait-kaitkan nya dengan agenda politik Pilgub, untuk menjaring suara dari kalangan minoritas dengan merangkul LGBT.

Itulah publik dengan ragam pandangannya dalam melihat peristiwa, dan kontroversi buruk ini bagai air bah yang menghantam kehidupan sosial Bantaeng. 

Hujat menghujat, saling tuduh dan saling lempar tanggung jawab terjadi, tentang sosok yang dianggap paling bertanggungjawab atas penyelenggaraan event aneh tersebut.

Begitulah respon-respon logis dari masyarakat yang kotanya terlanjur berjuluk kota religi warisan leluhur. 

Sebagai orang Bantaeng, penulis terpanggil memberi opini, sebagai bentuk tanggungjawab untuk melindungi moral Bantaeng dengan budaya Butta Toa nya.

Bahwa sebenarnya Pemerintah Pusat telah memberi guidance umum dalam kepariwisataan.

Dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan dalam BAB III, PRINSIP PENYELENGGARAAN KEPARIWISATAAN, Pasal 5 disebutkan :

“Kepariwisataan diselenggarakan dengan prinsip menjunjung tinggi norma agama dan nilai budaya sebagai pengejawantahan dari konsep hidup dalam keseimbangan hubungan antara manusia dan Tuhan Yang Maha Esa, hubungan antara manusia dan sesama manusia, dan hubungan manusia dan lingkungan”

Bahkan Presiden Jokowi telah menegaskan dalam Nawacita tentang pentingnya karakter dalam membangun model manusia Indonesia, hingga beliau mendengung-dengungkan perlunya gerakan Revolusi Mental.

Dan tentu saja seluruh Pemerintahan di tingkat Daerah harus menterjemahkan guidance itu dalam bentuk Regulasi Kebijakan dan atau Program Kerja. 

Di bidang Pariwisata, Pemerintah Daerah tidak boleh berlepas tangan, bahkan harus mengambil inisiatif dan tanggungjawab untuk mengembangkan konsep pariwisata yang menjunjung tinggi norma agama dan nilai budaya.

Dan sejarah mencatat, Bantaeng tak sekalipun memiliki leluhur atau budaya sebagaimana yg telah difestivalkan kemarin itu.

Bupati sebagai Nahkoda, harus tegas dan berani memberikan arah yang benar pada pengembangan pariwisata Bantaeng, sebagaimana keberaniannya melakukan terobosan-terobosan pembangunan di kota Butta Toa. 

Dirgahayu Bantaeng ke 762, 

“Bantaeng, Teruskan Karyamu”,

tapi tidak termasuk festival aneh yang kemarin itu. Tolong, jangan diteruskan !!

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

google-site-verification: googlee1504fd57faec694.html

Design by pakmustain.info