Pos

Elite PKS Sulawesi Selatan ‘Turun Gunung’ Verifikasi dan Konsolidasi Pengurus DPD

Sri Rahmi

Ketua Badan Pemenangan Pemilu dan Pilkada PKS Sulawesi Selatan

Melaporkan dari Makassar

PKS Bergerak, program ini menjadi agenda massif bagi DPWPartai Keadilan Sejahtera (PKS) Sulawesi Selatan.

Ini adalah program konsolidasi dan perapian struktur PKS di semua level.

Kami dari DPW membagi menjadi tiga tim untuk bertanggungjawab pada daerah yang disesuaikan dengan daerah pemilihan DPR RI.

Saya bertanggungjawab di daerah Makassar, Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, dan Selayar.

Kami tergabung dalam koordinator wilayah terdiri dari ketua-ketua bidang atau perwakilan dari bidang yang ada di DPW.

Tugas kami adalah, turun langsung ke DPD untuk melakukan verifikasi struktur dan konsolidasi pengurus.

Semua struktur harus kami siapkan, jauh sebelum Pemilu.

Deadline kami hingga akhir Mei tahun ini harus tuntas.

Kemarin kami ke Takalar, hari ini di Gowa.

Agenda ini harga mati bagi PKS Sulawesi Selatan.

Semua sumber daya kami fokuskan untuk agenda ini hingga Mei tahun ini.(*)

sumber: http://makassar.tribunnews.com/2016/03/17/elite-pks-sulawesi-selatan-turun-gunung-verifikasi-dan-konsolidasi-pengurus-dpd

Launching Bank Sampah, Sri Rahmi Apresiasi RZ

Makassar, AMANAH-Dalam upaya mengurangi tumpukan sampah di kota Makassar, Rumah Zakat melakukan pembinaan dalam mengelola sampah rumah tangga. Ini merupakan inisiatif Rumah Zakat (RZ) untuk membentuk Bank Sampah bagi warga Rappokalling. Selasa, (16/2). Kegiatan ini dihadiri oleh Anggota Komisi E DPRD Provinsi Sri Rahmi, Sekretaris Camat Tallo, Ketua Pertahanan Pangan, Lurah Rappokaalling, serta Brand Manager RZ.

“Saya mengapresiasi warga yang peduli terhadap sampah, juga kepada teman-teman dari RZ yang dengan sabar melakukan pendampingan pada warga dalam mengelola sampahnya,” ujar Sri Rahmi disela-sela launching bank sampah Sikamaseang.

Selain menyediakan bank sampah bagi warga Rappokalling, RZ juga memiliki program hidroponik yakni tanaman yang lebih cepat panen dan lebih efisien. “Ada tiga pilar ketahanan pangan yaitu ketersediaan,  aksesbilitas rumah tangga, dan pemanfaatan pangannya aman. Pengembangan hasil panen selain dikomsumsi bisa menjadi bahan olahan untuk penghasilan tambahan masyarakat,” ungkap Sri Rahmi.

Kegiatan launching bank sampah ini, dirangkaikan dengan panen perdana tanaman sayuran hidroponik. Dengan adanya kegiatan positif warga Rappokalling Sri Rahmi berharap, tanaman hidroponik dan bank sampah Sikamaseang menjadi contoh bagi kelurahan-kelurahan lainnya. “Sekiranya setiap kelurahan mempunyai program seperti ini, maka obsesi dari walikota Makassar untuk menjadikan Makassar dua kali tambah baik akan cepat terwujud,” tuturnya lagi.
Bunda – sapaan akrab Sri Rahmi menambahkan, semoga satu RW dalam satu kelurahan mempunyai program pemberdayaan seperti yang dilakukan oleh warga RW 3, Rappokalling. “Ini sangat signifikan untuk penguatan ekonomi warga. Warga bisa menyediakan sendiri kebutuhan dapurnya, ini jelas sebuah penghematan,”tegasnya.
Editor: Indrawati
sumber : http://amanah.alharamnews.com/post/1980/launching-bank-sampah-sri-rahmi-apresiasi-rz

Tim Nasyid Aligo Milad, Ini Pesan Sri Rahmi

Makassar, AMANAH – Milad Aligo yang ke 9 dihadiri oleh penasehat Aligo Sri Rahmi di Warkop Pa’de jalan Sultan Alauddin. Ahad, (14/2).

Perempuan yang sedang mengemban amanah sebagai anggota Komisi E DPRD Sulsel ini menyampaikan bahwa jika Aligo ingin berkiprah di jalur profesional, Aligo harus punya kebiasaan yang tidak seperti kebanyakan.

“Backham menjadi pesepak bola termahal bukan tiba-tiba, dia berlatih 1000 tendangan setiap hari. Steffy Graf menjadi petenis ternama dia berlatih 4 jam sehari. Royce Gracie, berlatih tanding ju jitsu 50 orang setiap hari, sehingga jika ingin hebat di bidang seni, Aligo juga harus punya kebiasaan yang luar biasa.”

Bunda Rahmi menyampaikan perumpaan dari seorang Bruce Lee bahwa “saya tidak takut pada orang yang memiliki 1000 jurus, tapi saya lebih takut kepada orang yang hanya memiliki satu jurus tapi melatihnya 1000 kali, ” tegasnya dihadapan para aktivis dakwah.
Diakhir sambutannya, Sri Rahmi menyampaikan selamat Milad ke 9 untuk Aligo. Anak-anak muda yang kreatif, menyebar kebaikan melalui seni.
“Semoga semakin banyak anak muda yang kreatif serta memiliki kemampuan mengetahui potensinya masing-masing,” tambahnya.
Reporter: Indrawati
Editor     : Juminah
sumber : http://amanah.alharamnews.com/post/1939/tim-nasyid-aligo-milad-ini-pesan-sri-rahmi

Satire dari Juvenalis

Masih ingatkah tentang sebuah mahakarya sastra dari seorang pujangga Romawi, Decimus Iunius Juvenalis, dalam Satire X, dan menjadi jargon guru olahraga kita doeloe?

Mens sana in corpore sano, dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat.

Doeloe, saya masih memaknainya sangat sederhana, bahwa jika kita berolahraga maka tubuh kita sehat, sirkulasi darah lancar, pikiran jernih, fresh. Hanya itu.

Tapi ketika saya rutin berolahraga saya menemukan sesuatu yang baru dari jorgan tersebut.

Saya ingin berbagi rasa yang kutemukan dalam olahraga dengan peribaratan yang sangat dekat dengan kehidupan kita. Jogging.

Ketika kita ingin memulainya, bersegeralah melakukannya. Tahukah engkau sobat, rasa yang muncul di awal adalah serangan dari rasa malas, rasa capek, rasa jenuh membayangkan track yang akan engkau lalui. Saat itu, paksalah dirimu untuk bangkit dan memulai larimu.

Saat itu, Kita sudah menang atas rasa malas yang mendera. Kita berhasil mengalahkannya, dan membiarkan kemalasan itu terkapar sendiri di tempatnya.

Saat memulainya, kita sudah punya target jarak atau target putaran. Peganglah kuat-kuat target itu hingga tuntas kau penuhi.

Dalam track jogging kita, separuh dari target telah tunai, dan kita akan diserang jenuh karena target terbayang masih jauh, masih butuh tenaga ekstra, masih butuh banyak nafas untuk menyelesaikan target.
Saat kita mengumpulkan energi dan bertekad bulat sampai pada target dan kita berhasil melakukannya, saat itu berarti kita kembali menang. Menang mengalahkan lelah, menang menundukkan jenuh.

Dalam suasana seperti itu, kita melatih jiwa untuk lebih tangguh, mengasah mental untuk lebih kuat,
Jika kita rutin melakukannya, maka jiwa akan terlatih dengan ketangguhannya, mental terlatih dengan kekuatannya.
Maka kita akan lebih tangguh menghadapi dinamika dunia ini.

Benarlah satire dari Juvenalis :
Mens Sana Incopore Sano

#selamatpagiIndonesia

Taujih K.H. Hilmi Aminuddin Pada Rakornas 2016

Taujih KH. Hilmi Aminuddin
Pada pembukaan Rakornas PKS 2016

1. KONSOLIDASI MOTIVASI

Koordinasi pencapaian satuan kordinat. Dimulai dengan konsolidasi.
Konsolidasi hati mengawali semuanya. Wihdatul qulb ini menjadi titik tolak konsolidasi.
Konsolidasi yang terbaik adalah jika kader-kader kita panya kesadaran yang tinggi bahwa jalan dakwah ini adalah pilihan kita yang punya banyak tantangan.

Qul Hadzihi Sabili, Ud’u Ilaallah, ‘Alaa Bashiratin.
Kesadaran bhw ini pilihan diungkapkan dalam Al-Qur’an, ada proses tadhiyah, yang pada akhirnya manusia yang memilih.
Orang yang berani memilih adalah syaksiyah yang mustaqim, yang tidak punya keberanian memilih dia bagian dari split personality.
Kita bersama sudah menentukan pilihan. Motivasi itu semakin menguat. Allah yang menuntun kita untuk memilih jalan ini. Inilah kesusaian antara pilihan Khaliq & makhlukNya.
Al An’am : Qul Hadaanii Ilaa Shiratal Mustaqim

Dan inilah klimaksnya:
Qul Innashshalati Wanusuki Wamahyaya Wamaamati Lillahi Rabbil ‘Alamin
Wa Anaa Awwalul Muslimin :
Allah memotivasi untuk selalu berada dalam barisan terdepan dalam perjuangan kalimatilLahi Hiyal ‘Ulya

2. KONSOLIDASI ORIENTASI
Berlomba untuk Fastabiqul Khairat
Bersegeralah melaksanakan tugas-tugas yang bisa mendapatkan ampunan dari Allah SWT.

3. INTEGRASI
Agama ini Syamil Mutakamil.
Kita harus mampu mengintegrasikan semua potensi dalam satu kesatuan yang utuh agar langkah perjuangan kita semakin jelas & tegas.
Kader muda denga kader tua, ikhwan & akhwat, ulama & para pemikir, harus diintegrasikan.

Berkumpulnya kita adalah keberhasilan menyatunya hati kita.
Dalam pergaulan kita dalam berjamaah, pasti kita punya kekurangan.
Maaf maafkanlah…
Lapangkan dada…
Kita harus banyak-banyak memaafkan. Bahkan kita harus proaktif memohonkan ampun saudara-saudara kita pada Allah SWT.

Tekad bersama itu lahir dari kesepakatan.

Konsolidasi yang baik akan menghasilkan koordinasi yang mampu menghasilkan ordinat yang baik.

Konsolidasi terbaik adalah jika kader-kader dengan penuh kesadaran memilih dakwah ini sebagai jalan hidupnya.

Faaidza Faraghta Fanshab Wa Ilaa Rabbika Farghab.

Berarti kita berhasil mengkonsolidasi semua potensi untuk bergerak menjadi lebih baik

Depok, 12 Januari 2016

Berselancar

Politik adalah dunia yang keras, maskulin. Itu kata sebagian orang. Ada pula yang mengatakan bahwa jika ingin menguji kuatnya kepalamu, masuklah ke politik.
Ada yang mengatakan, politik adalah seni.
Saya lebih suka dengan penamaan ini.

Sesungguhnya, saya “terlibat” di dunia politik sejak saya Sekolah Dasar (SD). Membersamai setiap pertemuan-pertemuan parpol Etta saya, membuat saya punya naluri politik.
Tumbuh di kampus bersama para aktivis, membuat saya sepertinya memang tak bisa jauh-jauh dari dunia yang hiruk pikuk ini.

Sibghoh politik dari orang-orang yang berpengaruh dalam hidupku tak kuasa kutampik.

Berselancar, kosa kata yang kukenal sejak awal saya terjun menjadi politisi.
Nasehat ini dari seorang senior, qiyadah dari jamaah ini.
Sejak saat itulah, kosakata itu kupakai dalam kehidupan politik saya.

Kau lihat peselancar? Ombak setinggi apapun dia berani menghadang tanpa harus terbenam ke dasar lautan atau terhempas bersama buih ke tepian.
Peselancar cerdas bermain dengan ombak. Ketinggiannya mengguncang adrenalin, gulungannya menguji batasan rasa takut.
Peselancar mencari tantangan, menunggu ombak yang menjulang untuk membuktikan nyalinya menghadapi alam.
Kau lihat bagaimana Ericson Core menjadikan film pointbreak demikian menakjubkan ? Johny Utah ( Luke Bracey ) sebagai peselancar ekstrem, mencari ombak terekstrem di dunia. Maut adalah tantangannya tapi dia berhasil menaklukkannya.

Demikianlah seorang politisi. Tidak menantang sepenuhnya jika tidak sepakat, juga tidak menerima sepenuhnya. Tapi tetap menjalankannya dengan melakukan penyesuaian-penyesuaian yang ada ruang-ruang ijtihadnya.
Karena sesungguhnya, qiyadah bukanlah yang ma’shum, bukanlah sumber kebenaran, tapi di dalamnya ada syuro yang harus dihormati, yang harus dijunjung tinggi.
Memadukan dua kutub, menyelaraskan dua warna dalam sebuah harmoni al qiyadah wal jundiyah tanpa harus merasa “tertekan” dengan keputusan-keputusan yang tidak kita sukai.

Ubah kendala jadi sebuah peluang dalam kecerdasan pikirmu.
Ubah ancaman menjadi sebuah tantangan dalam bijak sikapmu.
Tidak harus menambah daftar lawan, karena sesungguhnya bisa jadi di antara mereka ada yang bisa menghantarkanmu ke syurga.
Kurangi daftar nama lawanmu dalam tiap jenaknya, sehingga daftarnya menjadi zero dan bersih. Saat itulah kau menjadi orang yang diinginkan, respek mengalir untukmu.
Jangan mencari kompetitor, karena sesungguhnya manusia itu saudara, sesama politisi itu mitra. Maka tampilkanlah akhlak politikmu yang lebih agung dari mereka.
Senyumlah, sekalipun dihadapan orang yang telah merenggut hakmu, karena sesungguhnya kaulah pemenang atas dirimu.
Cintailah, sekalipun terhadap orang-orang yang mengkhianatimu, karena sesungguhnya janji Allah jelas bagi orang-orang seperti mereka.
Tak ada guna, melampiaskan amarah, meluluhlantakkan harga diri orang.

Tahukah kau, jika di dunia politik tidak mengenal jenis kelamin ? Ini memang dunia dengan gender sesungguhnya.

Kau tidak akan menemui, seorang yang empati pada mu karena seorang perempuan harus pulang malam karena rapat.
Tidak ada pertanyaan, tidak ada penawaran, tidak ada empati. Hatta sesama saudara separtai sekalipun.
Saat itu, jika kau sedih, sedihlah sendiri. Tidak ada yang peduli kecuali suami atau anak-anakmu atau sopirmu.

Maka buanglah rasa itu di dunia ini. Maka kuburlah rasa itu, bersama azzammu ingin berkhidmad di sini.

Ketika kau harus jaulah, sebagai bagian dari amanah partai, meninggalkan anak-anak yang masih belia, meninggalkan suami, ada rasa sedihmu, itu pasti. Tapi yang lebih harus kau pastikan, enyahkan sesegera mungkin agar kau bisa tetap tegar dihadapan para laki-laki.
Karena dunia ini tidak mengenal jenis kelamin, kecuali untuk pada batasan syariatnya.

Saat kau bersama para laki-laki, dimana mereka cepat dalam bertindak, gesit dalam langkah, maka kau jangan tertinggal dari mereka. Jangan pernah meminta kompensasi keterlambatan hanya karena kau seorang perempuan. Jangan pernah minta kau dimaklumi hanya karena kau seorang perempuan. Itu, jika kau ingin berkhidmad sepenuhnya di dunia ini.

Karena kau adalah peselancar.

Ikuti ritme ombaknya. Tanpa harus tergulung ke kedalaman atau terhempas ketepian.

Ingatlah, Berselancarlah !
Aku peselancar. I’m a surfer.

Paropo, 21 Desember 2015

RANPERDA PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN

(Sebuah Harapan Reformasi Pendidikan Sulsel)

Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Penyelenggaraan Pendidikan Propinsi Sulawesi Selatan sementara dalam tahap pembahasan di DPRD.

Ranperda ini ingin mengatur keseluruhan penyelenggaraan pendidikan di Sulawesi Selatan (Sulsel), tapi sayangnya, ranperda ini tidak bisa memberikan gambaran kondisi pendidikan Sulsel 5 tahun ke depan atau 10 tahun ke depan, sebagai sebuah potret utuh apa yang terjadi dalam dunia pendidikan di Sulsel.

Jika penataan kewilayahan membutuhkan regulasi dalam bentuk Peraturan Daerah (Perda) Rencana Tata Ruang dan Wilayah, jika sektor pariwisata saja membutuhkan sebuah regulasi yang menjadi acuan dalam pengembangannya, maka bidang pendidikan-pun butuh sebuah grand design untuk memperjelas potret pendidikan di Sulsel dalam sebuah kurun waktu. Kita butuh master plan pendidikan, yang meyakinkan kita bahwa pemerintah propinsi memberi sebuah kepastian akan pembangunan pendidikan yang sistematik, menyeluruh dan terkendali.

Dalam naskah akademik Ranperda penyelenggaraan pendidikan ini memuat tentang urusan pemerintahan wajib bidang pendidikan yang menjadi kewenangan pemerintah daerah propinsi : pengelolaan pendidikan menengah.

Dalam rasio pendidik dan peserta didik, yang dikemukakan hanyalah tentang jumlahnya, sementara kualifikasi pendidik terabaikan. Padahal kualifikasi dan kompetensi pendidik menjadi amanat dari Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang dijabarkan dalam PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 16 TAHUN 2007 tentang STANDAR KUALIFIKASI AKADEMIK DAN KOMPETENSI GURU, yang menjelaskan bahwa Kualifikasi Akademik Guru SMA/MA atau bentuk lain yang sederajat, harus memiliki kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1) program studi yang sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan/diampu, dan diperoleh dari program studi yang terakreditasi.

Dalam hal ini, pemerintah propinsi harus menyampaikan data existing kondisi kualifikasi pendidik di Sulsel untuk menjadi bagian dari potret pendidikan kita di Sulsel saat ini dengan salah satu pendekatan indikator tenaga pendidik. Dengan begitu, pemerintah propinsi bisa membuat planning pada tahun berapa Sulsel mencapai 100% dari amanat Undang-Undang tersebut.

Demikian pula dengan pembangunan sarana prasarana pendidikan, hendaknya pemerintah propinsi mempunyai data tentang kondisi sarana belajar mengajar di semua sekolah yang menjadi kewenangan urusan pemerintah propinsi, juga mempunyai software untuk mengontrol alokasi biaya pembangunan fisik gedung sekolah, sehingga tidak terjadi tumpang tindih atau pembiayaan berulang pada obyek yang sama.

Dalam naskah akademiknya, Ranperda ini mengambil teori dari Talcott Parsons, bahwa sekolah adalah sarana sosial untuk membangun karakter individu agar memiliki komitmen dan kapasitas pribadi sebagai syarat yang esensial untuk berperan secara optimal dimasa yang akan datang. Parson juga menjadikan sekolah sebagai seleksi dan alokasi yang berfungsi mempersiapkan para peserta diidik untuk memasuki dunia kerja. Bagi Parson, sekolah adalah arena untuk kesamaan kesempatan. Sekolah berfungsi untuk memberi kesempatan interval dan institusional yang sama kepada peserta didik, diperlukan secara wajar dalam penilaian prestasi dari berbagai kemampuan dan motivasi.

Ketika kita konsisten dengan teori Parson diatas, maka kita akan bisa menemukan sebuah terobosan baru dengan paradigma Parson.

Pertama, sekolah dijadikan tempat untuk membangun karakter dan kapasitas anak didik untuk mampu berperan optimal di “masa depannya”. Berarti, sekolah dan seluruh perangkatnya harus mampu menjawab hal tersebut. Kurikulum menjadi poin penting dalam hal ini.

Kedua, sekolah mampu memberikan skill kepada peserta didik, agar mereka siap memasuki dunia kerja.

Ketiga, ada penilaian prestasi dari berbagai kemampuan dan motivasi. Penulis terkesan dengan ungkapan Deddy Corbuzer yang mengatakan : “mengapa anak-anak di sekolah dipaksa untuk punya nilai bagus pada semua bidang study, sementara gurunya sendiri tak mampu seperti itu. Guru fisika, ketika diminta belajar geografi, apakah sang guru bisa menerima dengan bahagia? Atau guru olahraga diminta untuk menghafalkan rumus-rumus kimia ? Apa sang guru bisa mendapatkan nilai yang memuaskan ?

Membayangkan apa yang menjadi tema diskusi penulis dengan seorang kolega di pansus penyelenggaraan pendidikan, bahwa pemerintah propinsi sudah selayaknya memiliki SMK berbasis Sumber Daya Alam (SDA) daerah di masing-masing  kabupaten di Sulsel. Misalnya : Barru ada SMK Peternakan karena di sana ada PT Puli – perusahaan peternakan terbesar di Sulsel. Atau Sidrap dengan SMK Pertaniannya, Toraja dengan SMK Pariwisatanya, Bantaeng dengan SMK Kelautan atau Agro, semua berbasis potensi daerah, sehingga Sumber Daya Manusia (SDM) yang lahir dari sekolah tersebut memiliki lapangan kerja yang luas. Ada pengembangan teknologi berbasis sumber daya alam lokal.

Sidrap bisa menciptakan bibit padi yang unggul, SDM keluarannya menjadi petani modern berbasis teknologi terbaru. Itu lebih terhormat bagi generasi muda kita, dibanding mereka harus ke kota, meninggalkan sumber daya alamnya, sekolah hanya sebuah formalitas, mengejar sebuah ijazah tanpa skill. Semntara sumber daya alam dibiarkan tergarap konvensional tanpa sentuhan kecerdasan.

Apapun yang akan dilakukan oleh pemerintah propinsi dalam bidang pendidikan, sebaiknya ada sebuah acuan – master plan – pendidikan. Ini juga akan memudahkan bagi DPRD -sebagai fungsi kontrol – untuk mengawasi proses pembangunan pendidikan di Sulsel.

Rupert C. Lodge menyatakan bahwa “Life is education, and education is life”. Pendidikan adalah kehidupan dan kehidupan adalah pendidikan. Oleh karena itulah butuh kajian yang mendalam atas penyelenggaraan pendidikan di Sulsel.

PEMANDANGAN UMUM FRAKSI PARTAI KEADILAN SEJAHTERA

PEMANDANGAN UMUM FRAKSI PARTAI KEADILAN SEJAHTERA

TERHADAP

RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI SULAWESI SELATAN

TENTANG:

  1. RENCANA TATA RUANG KAWASAN TERPADU PUSAT BISNIS, SOSIAL, BUDAYA DAN PARIWISATA CENTER POINT OF INDONESIA ( PUSAT BISNIS TERPADU INDONESIA )
  2. PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN
  3. PENGARUSUTAMAAN GENDER

HADIRIN PESERTA RAPAT PARIPURNA YANG KAMI HORMATI

Pemandangan Umum Fraksi Partai Keadilan Sejahtera terhadap Rancangan Peraturan Daerah Tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Terpadu Pusat Bisnis, Sosial, Budaya dan Pariwisata Center Point of Indonesia (Pusat Bisnis Terpadu Indonesia)
Bapak Gubernur Yang Kami Hormati
Program Legislasi Daerah (Prolegda) Provinsi Sulawesi Selatan 2015 yang telah ditetapkan atas kesepakatan bersama antara DPRD dengan Pemerintah Provinsi salah satunya adalah Prolegda Tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Provinsi dan tidak secara spesifik menyebutkan Kawasan Terpadu Pusat Bisnis, Sosial, Budaya dan Pariwisata Center Point of Indonesia (Pusat Bisnis Terpadu). Sesuai dengan Prolegda dimaksud, Fraksi Partai Keadilan Sejahtera memandang bahwa ketika akan dilanjutkan dengan pembahasan Ranperda usulan Pemerintah maka esensi isi yang akan dibahas adalah mengenai Kawasan Strategis Provinsi Sulawesi Selatan dan tidak spesifik membahas satu kawasan apalagi hanya salah satu bagian dari 2 kecamatan di Kota Makassar. Bukankah untuk menyusun sebuah Ranperda harus sesuai dengan prolegda yang telah ditetapkan bersama ?
Mohon penjelasan Bapak Gubernur.
Khusus terkait pembangunan di kawasan Center Point of Indonesia, saat ini telah menggunakan APBD lebih dari Rp 160 Milliar. Selain itu, terdapat lahan lebih dari 12 Hektar bersertifikat atas nama Pemerintah Propinsi Sulawesi Selatan. Saat ini, Pemerintah Propinsi Sulawesi Selatan telah melakukan perjanjian kerjasama dengan Pihak Ketiga dengan tidak pernah melibatkan DPRD Sulawesi Selatan. Pembangunan dikawasan Center Point of Indonesia -pun sejak awal tidak tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Sulawesi Selatan Tahun 2008-2013 dan baru dimasukkan ke dalam Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Tahun 2013-2018 baru-baru ini. Meskipun APBD tetap dimasukkan dalam pelaksanaan pembangunan dengan memcatumkan bahwa kawasan Center Point of Indonesia sebagai bagian dari Mamminasata.
Fraksi kami sangat khawatir terhadap hal ini. Apakah suatu peraturan yang dibuat hanya untuk menjadi pembenaran atau payung hukum sesuatu hal yang sebelumnya tidak ada dan pembenaran atas suatu tindakan yang akan kita laksanakan?
Fraksi Partai Keadilan Sejahtera berpandangan bahwa kawasan Center Point of Indonesia yang selama ini diikutkan sebagai bagian dari Peraturan Presiden Republik Indonesiaa Nomor 55 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan Makassar, Maros, Sungguminasa, dan Takalar. Dengan demikian supaya lebih efektif dan cakupan Ranperda ini lebih mencakup kewenangan menyeluruh atas wilayah Sulawesi Selatan, maka akan lebih baik bila kandungan isi dari Ranperda tidak secara spesifik mengatur Center Point of Indonesia, akan tetapi seluruh kawasan strategis di Sulawesi Selatan, salah satunya adalah Kawasan Mamminasata yang didalamnya juga terdapat Center Point of Indonesia .
Fraksi Partai Keadilan Sejahtera berpandangan bahwa lingkup Peraturan Daerah harus mencakup Sulawesi Selatan secara keseluruhan bukan hanya mengatur salah satu daerah saja di Sulawesi Selatan apalagi hanya akan mengatur bagian dari 2 Kecamatan di salah satu kota/kabupaten di Sulawesi Selatan. Hal ini selain tidak efektif, juga menunjukkan ketidakpedulian dari Pemerintah Provinsi atas keseimbangan pembangunan antar kawasan di Sulawesi Selatan. Terhadap hal tersebut, kami mohon penjelasan dari Bapak Gubernur.
Selanjutnya kami Fraksi Partai Keadilan Sejahtera sangat mengharapkan agar kiranya Ranperda yang diajukan disesuaikan dengan Prolegda dan lebih diperluas mencakup kawasan strategis yang lain. Mengingat Ranperda ini sangat strategis kami berharap Pansus diberikan waktu yang cukup untuk menelaah dan sekaligus membahas dengan Satuan Kerja Perangkat Daerah dan pihak terkait lainnya.
Sidang Paripurna yang Terhormat
Terkait dengan Rancangan Peraturan Daerah Tentang Penyelenggaraan Pendidikan, kita semua menyadari saat ini kita dihadapkan pada tantangan-tantangan, baik tantangan dari dalam (internal) diantaranya: demokratisasi pendidikan, desentralisasi manajemen pendidikan, dan kualitas pendidikan. Maupun tantangan global yaitu pendidikan yang kompetitif dan inovatif. Untuk dapat survive, bangsa ini membutuhkan kualitas individu yang dapat berkompetisi. Kemampuan berkompetisi hanya mungkin dihasilkan oleh pendidikan yang kondusif dan efektif, peserta didik yang terlatih, mempunyai skill yang memadai, dan berketerampilan hidup.

Untuk itu Fraksi kami meminta penjelasan dalam beberapa hal :

1. Menelaah naskah akademik yang diajukan Pemerintah Propinsi Sulawesi Selatan, pada Bab V ( Jangkauan, Arah Pengaturan, Dan Ruang Lingkup Materi Muatan Peraturan Daerah Propinsi ), pada bagian A ( Sasaran Yang Akan Diwujudkan) alenia kedua disebutkan bahwa sasaran yang hendak diwujudkan melalui Peraturan Daerah tentang Penyelenggaraan Pendidikan antara lain adalah :
a. Meningkatnya akses masyarakat terhadap pelayanan pendidikan menengah dan Pendidikan khusus di Propinsi Sulawesi Selatan secara merata dan terjangkau.
b. Meningkatnya mutu penyelenggaraan pendidikan dan daya saing luaran pendidikan menengah dan pendidikan khusus serta relevansinya dengan kebutuhan dan/atau kondisi masyarakat di Propinsi Sulawesi Selatan.
c. Terselenggarakannya pendidikan menengah dan pendidikan khusus di Propinsi Sulawesi Selatan secara efisien,efektif dan akuntabel.
d. Terlaksananya penyelenggaraan pendidikan yang selaras dan berkelanjutan melalui fasilitasi serta dukungan peningkatan kapasitas pendidik, tenaga kependidikan dan/atau peserta didik.

Artinya, Ranperda ini tidak perlu berisi pasal-pasal yang tidak relevan dengan pendidikan menengah dan pendidikan khusus, seperti di paragraf 2 pasal 20 (pendidikan dasar), paragraf 4 pasal 28 (pendidikan tinggi).
Mohon penjelasan Bapak Gubernur mengenai hal ini.

2. Ada ketidakselarasan antara Tujuan Muatan Lokal (Bab VI, pasal 46) dengan Lingkup Materi Kurikulum Muatan Lokal (Bab VI, pasal 48)
• Dimana pada Pasal 46, disebutkan bahwa Muatan Lokal bertujuan untuk membentuk PEMAHAMAN TERHADAP POTENSI DAERAH masing-masing yang bermanfaat untuk memberikan bekal sikap, perilaku, etos kerja, pengetahuan, dan keterampilan kepada peserta didik agar :
a. Mengenal dan mencintai LINGKUNGAN ALAM, SOSIAL BUDAYA dan NILAI SPIRITUAL setempat, dan;
b. Melestarikan dan mengembangkan KEUNGGULAN serta KEARIFAN LOKAL yang berguna bagi diri dan lingkungannya dalam rangka menunjang pembangunan daerah dan pembangunan nasional.
• Sementara lingkup muatan lokal, antara lain meliputi : seni budaya, prakarya, pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan, bahasa dan/atau teknologi.

Fraksi kami berpendapat bahwa untuk membentuk pemahaman terhadap Potensi Daerah, keunggulan dan kearifan nya, maka seharusnya dipenuhi dari lingkup muatan tentang SEJARAH, ILMU ALAM (geologi, iklim, vegetasi, dst), ILMU SOSIAL (adat istiadat, sosiologi, budaya, dst), SAINS atau lingkup pelajaran lainnya yang lebih relevan. Mohon penjelasan Bapak Gubernur.

3. Tidak bisa dipungkiri bahwa upaya peningkatan mutu pendidikan akan terakselerasi melalui kemitraan/kerjasama dan partisipasi dari kalangan swasta. Kebijakan pelibatan swasta sebagaimana telah dibahas urgensinya dalam naskah akademik tampaknya belum dituangkan dalam Rancangan Peraturan Daerah ini, mohon penjelasan Bapak Gubernur.

Jika penataan kewilayahan membutuhkan regulasi dalam bentuk Perda Tata Ruang dan Wilayah, jika sektor pariwisata saja membutuhkan sebuah regulasi yang menjadi acuan dalam pengembangannya, maka bidang pendidikan pun membutuhkan sebuah grand design untuk memperjelas potret pendidikan di Sulawesi Selatan dalam sebuah kurun waktu. Kita butuh master plan pendidikan, yang meyakinkan kita bahwa pemerintah propinsi memberi sebuah kepastian akan pembangunan pendidikan yang sistemik, menyeluruh dan terkendali.

Hadirin Sidang Paripurna yang Mulia
Terkait dengan Rancangan Peraturan Daerah Tentang Pengarusutamaan Gender, Fraksi kami menanyakan beberapa hal untuk penyempurnaanya.
1. Terkait dengan monitoring dan evaluasi pelaksanaan kebijakan Pengarusutamaan Gender di ruang lingkup Pemerintah Propinsi, Fraksi kami memandang perlu adanya indikator capaian implementasi atas Pengarusutamaan Gender. Dalam Ranperda tersebut belum dicantumkan.

2. Sebagai bentuk fungsi kontrol DPRD, Fraksi kami meminta penjelasan terkait eksisting Pengarusutamaan Gender di Sulawesi Selatan saat ini. Fraksi kami memandang penting, untuk menjadi bahan pembanding setelah Ranperda Pengarusutamaan Gender menjadi kebijakan kolektif di Sulawesi Selatan.

3. Sebagai bentuk keseriusan Pemerintah Propinsi Sulawesi Selatan atas kebijakan terhadap isu-isu Pengarusutamaan Gender, hendaknya dalam Ranperda tersebut ada klausul tentang persentase alokasi anggaran pro-gender dalam setiap Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Propinsi Sulawesi Selatan.

Sidang Paripurna Yang Mulia
Demikianlah Pemandangan Umum dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera. Semoga Allah memberikan petunjuk-Nya kepada kita dalam menjalankan amanah rakyat Sulawesi Selatan yang sama-sama kita cintai.
Assalamu ‘Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu.

 

Makassar, 14 Desember 2015

Juru Bicara,

 

Hj. Sri Rahmi, S.A.P., M.Adm. K.P

google-site-verification: googlee1504fd57faec694.html

Design by pakmustain.info