Pos

Selamat Memilih!

Kurang 2 hari lagi pemilihan kepala daerah serentak dilakukan se Indonesia. Di Sulsel ada 11 daerah yang melakukan pilkada tahun ini. Di bagian utara Maros, Pangkep, Barru, Soppeng, Tator, Torut, Lutra, Lutim. Di bagian selatan ada Gowa, Bulukumba dan Selayar. Semua melalui proses yang sama dalam waktu yang sama.

Belajar dari proses pilkada tahun ini, penulis – yang membersamai proses pilkada ini sejak awal, membuat beberapa catatan penting dari sudut pandang sebagai kandidat dan juga sebagai pemilih.

Dalam proses menuju penetapan calon, sudah banyak kandidat yang berguguran. Semua daerah mengalami hal yang sama. Ada bakal calon yang gugur sebelum bertanding, batal jadi calon karena persyaratan dari KPU tidak terpenuhi.
Faktor penyebab kegagalan itu lebih banyak pada aspek keterpenuhan kursi pengusung, syarat parpol pengusung yang diatur dalam
PKPU No 9 tahun 2015. Yang mengharuskan 20% kursi bagi parpol pengusung.
Demikian juga dengan syarat dari KPU bahwa anggota DPRD harus melepaskan jabatannya ketika telah ditetapkan sebagai calon kepala daerah.
Dua faktor ini yang mendominasi gugurnya beberapa bakal calon bupati/wakil bupati.

Ketidakmampuan dalam komunikasi politik menjadi faktor utama kegagalan bakal calon mendapatkan dukungan kursi dari parpol sesuai yang disyaratkan oleh KPU.
Ini adalah hal yang sederhana tapi urgen dalam dunia politik.
Mungkin inilah asbabnya, mengapa politik didefinisikan sebagai sebuah seni. Ya.. Politisi harus mampu membangun komunikasi yang baik dengan semua pihak. Dari sekian banyak teori tentang komunikasi politik ( hypodermic, kepala batu, dll ) sepertinya teori empathy & teori hemopil efektif diterapkan dalam proses mencari partai pengusung dalam pilkada.
Dalam komunikasi politik, kemampuan memproyeksikan diri sendiri ke dalam titik pandang dan empati orang lain memberi peluang kepada seorang politikus untuk berhasil dalam pembicaraan politiknya. Akan tetapi, menempatkan diri sendiri sebagai orang lain itu memang sangat tidak mudah. Justru itu, empati dapat ditingkatkan atau dikembangkan oleh seorang politikus melalui komunikasi sosial dan komunikasi politik yang sering dilakukan.


Secara sederhana dapat disebutkan bahwa empati adalah kemampuan menempatkan diri pada situasi dan kondisi orang lain. Dalam hal ini K. Berlo (1960) memperkenalkan teori yang dikenal dengan nama influence theory of emphaty (teori penurunan dari penempatan diri kedalam diri orang lain). Artinya, komunikator mengandaikan diri, bagaimana kalau ia berada pada posisi komunikan. Dalam hal ini individu memiliki pribadi khayal sehingga individu-individu yang berinteraksi dapat menemukan dan mengidentifikasi persamaan-persamaan dan perbedaan masing-masing, yang kemudian menjadi dasar dalam melakukan penyesuaian.


Dengan demikian, empati dalam komunikasi politik adalah sifat yang sangat dekat dengan citra seseorang politikus tentang diri dan tentang orang lain. Itulah sebabnya empati dapat dinegosiasikan atau dimantapkan melalui komunikasi antarpersonal.

Inilah hal paling mendasar yang harus dimiliki oleh politisi yang berniat maju di pilkada berikutnya.

Selain itu, politisi yang ingin maju pilkada melalui parpol, pandai-pandailah melihat track record parpol tersebut, bukan sekedar menjadi kendaraan tapi juga mesin politiknya bisa bekerja maksimal untuk kerja-kerja pemenangannya.

Pilkada tahun ini, sekaligus juga ajang menilai parpol yang bergerak untuk pemenangan kandidatnya. Yang punya niat maju pilkada, silahkan menilai parpol pd event ini.
Bagi parpol cerdas, mampu memanfaatkan event ini untuk melakukan konsolidasi suara grassroot, konsolidasi simpul-simpul vote getter. Yang jika parpol tersebut melakukannya, maka “nilai politik”nya akan melambung pada pilkada serentak putaran berikutnya.

Catatan penting yang sayang untuk diabaikan dalam proses pilkada ini, keterlibatan kandidat independen yang masih sangat minim.
Dari 11 daerah pilkada, hanya ada 3 daerah yang punya calon independen : Gowa, Pangkep & Bulukumba. Dari penelusuran penulis ke KPU, ternyata kegagalan mereka pada pemenuhan syarat dukungan KTP yang harus dipenuhi. Selain itu, peminat jalur ini memang sangat minim. Terbukti tidak semua daerah pilkada ada bakal calonnya dari jalur independen.
Ini berarti, jalur independen sepi peminat.
Penulis, sebagai politisi, menyarankan bagi yang ingin maju pilkada, lebih efektif melalui jalur parpol.
Mungkin pembaca mengatakan penulis subyektif karena penulis seorang politisi.
Biarlah nanit menjadi PR bersama bagi sahabat-sahabat saya pengamat politik, untuk menuliskan tentang plus minus jalur independen. Biar menjadi acuan bersama bg yang berniat maju pilkada berikutnya.

Bagian kedua dari tulisan ini, adalah tentang pemilih.
Parpol sudah bekerja mengusung kandidat, diarak dari desa ke desa, orasi dari panggung ke panggung. Pada akhirnya, pemilihlah yang menentukan kemenangannya. 1 suara jangan diabaikan.
Masa tenang ini benar-benar harus dimanfaatkan kandidat untuk mengamankan calon pemilih mereka.
Pada fase inilah, supply data dari konsultan pendamping sangat penting. Bagi calon yang memiliki manajemen kampanye yang rapi ( manajemem modern ), tepat dalam mengambil tindakan akhir, tentu saja tanpa mengabaikan Kehendak Allah SWT.

Akhirnya, masyarakat yang menentukan siapa pemimpin daerah mereka kelak. Dari deretan cabup/cawabup yang ada di 11 pilkada ini, beragam latar belakang. Ada pengusaha, ada birokrat, politisi, bahkan disinyalir ada yang background pendidikan paket C, semua punya peluang menang yang sama. Sekali lagi, kembali ke pemilih, kembali ke masyarakat nya.

Apa yang disampaikan oleh Abu Ishaq As Sabi’y ( seorang ulama ahli hadits ) : kamaa takuunuu, yuwalla ‘alaikum : sebagaimana kalian, demikian pula pemimpin kalian.

Mari kita lihat tanggal 9 besok.

Selamat memilih kepada saudara-saudaraku di Maros, Pangkep, Barru, Soppeng, Tator, Toraja Utara, Luwu Utara, Luwu Timut, Gowa, Selayar & Bulukumba.
Di tangan kalian pemimpin daerahmu.

google-site-verification: googlee1504fd57faec694.html

Design by pakmustain.info