Perempuan Dalam Pilkada

Pilkada serentak putaran pertama ( 2015 ) telah selesai. Event demokrasi tersebut menyisakan banyak catatan. Khususnya catatan untuk partisipasi perempuan sebagai cakada dalam pilkada tersebut.
KPU Sulsel mencatat, ada 4 cakada perempuan yang bertarung di pilkada Sulsel 2015. Tapi hanya 1 yang lolos sebagai pemenang.
Masyarakat Lutra mencatatkan sejarahnya, memilih bupati perempuan untuk memimpin mereka selama 5 tahun ke depan.

Apa yang terjadi di Lutra, pemilih secara sadar memberikan suaranya pada perempuan. Ini bukan sebuah perkara yang sederhana untuk keluar sebagai pemenang di pilkada tersebut. Kepiawaian memenangkan pertarungan pada pilkada tersebut harus menjadi bahan kajian bagi teman-teman aktifis perempuan di Sulsel.

Secara nasional, Penelusuran Litbang Kompas menunjukkan, dari 1.654 calon kepala dan wakil kepala daerah, hanya 123 perempuan (7,44 persen) yang mengikuti kontestasi akbar tersebut. Proporsi representasi perempuan ini belum beranjak jauh dari proporsi saat pilkada langsung pertama kali dilaksanakan pada 2005. Saat itu, jumlah perempuan yang mengikuti kontestasi pilkada 2005 sekitar 69 orang dari 1.374 peserta atau hanya sekitar 5,02 persen. Minimnya jumlah calon perempuan memperkecil peluang perempuan berkiprah dalam tataran pengambil kebijakan atau perannya dalam tingkat eksekutif.

Dalam pilkada serentak 9 Desember 2015, jumlah keterpilihan perempuan calon kepala dan wakil kepala daerah tercatat tidak mencapai separuh dari jumlah pencalonan perempuan. Data Komisi Pemilihan Umum per 30 Desember 2015 menunjukkan, dari 123 calon perempuan, hanya terdapat 46 perempuan kepala daerah dan wakil kepala daerah yang terpilih. Sebanyak 24 perempuan terpilih sebagai kepala daerah dan 22 terpilih sebagai wakil kepala daerah.

Dari 24 perempuan yang terpilih sebagai kepala daerah, ada 12 perempuan berlatar belakang sebagai petahana dan kader partai. Sementara 22 perempuan yang terpilih sebagai wakil kepala daerah didominasi mantan anggota DPR/DPD/DPRD.

Apa yang terjadi secara nasional & lokal, harus menjadi bahan kajian untuk menyusun strategi pemenangan perempuan di pilkada.

Lutra adalah bagian dari rangkaian sejarah kiprah perempuan Sulsel yang sudah dimulai sejak jaman dulu.
Crawfurd – pengamat Barat abad ke -19 menulis dalam buku Manusia Bugis : “perempuan tampil di muka umum adalah sesuatu yang wajar, mereka aktif dalam semua bidang kehidupan, menjadi mitra diskusi pria dalam segenap utusan publik, bahkan tak jarang menduduki tahta kerajaan, padahal menjadi raja ditentukan lewat proses pemilihan”.

Perempuan yang menjadi penguasa kerajaan juga bukanlah hal yang baru dalam sejarah Bugis, sebuah fakta yang ditulis oleh Crawfurd :

” Pada acara-acara kerajaan, perempuan juga hadir di tengah kaum pria, duduk dalam sidang yang membahas masalah-masalah kenegaraan, bahkan berhak memberi pertimbangan. Saat ini, kerajaan Luwu di Sulawesi Selatan dipimpin istri raja Soppeng, tetapi raja Soppeng tidak berhak mencampuri urusan dalam negri kerajaan Luwu, yang diperintah oleh istrinya”.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

google-site-verification: googlee1504fd57faec694.html

Design by pakmustain.info