Malam mengantarkan rindu

Ramadhan adalah Puncak Ibadah

Ramadhan adalah momen paling berharga dalam beramal.
Bagaimana tidak, Allah menjanjikan penggandaan pahalanya dari hari biasa.
Ramadhan menyediakan fasilitas malam istimewa bagi kita,
Allah menyebutnya malam seribu bulan.
Rasulullah memperlakukan Ramadhan demikian istimewa, sehingga dalam berinfaq, Rasulullah digambarkan infaqnya lebih cepat dari hembusan angin.
Ramadhan, membuat Rasulullah mengingatkan kita untuk mempersiapkannya 2 bulan sebelumnya.
Dengan ajaran doanya : “Allahumma bariklanaa fii rajab wa sya’ban waballighna Ramadhan”.

Dengan doa itu, kita diperingatkan untuk bersiap 2 bulan sebelum Ramadhan tiba. Persiapannya bukan sekedar membuat kita mengingat bahwa Ramadhan sudah dekat, dan bersiap dengan segala bentuk materialnya.
Persiapan yang dituntut di sini adalah persiapan ruhiyah, mental, fisik, menjelang Ramadhan.
Sehingga tatkala kita memasuki Ramadhan, kita benar-benar maksimal.

Sayang sekali jika dalam Ramadhan ritme ibadah kita biasa-biasa saja.
Ramadhan bulan yang spesial, bukan hanya menunya, tapi juga spesial ibadahnya, spesial shodaqohnya.

Allah sudah memanjakan kita dengan gelimang pahala, sepantasnyalah kita menebusnya dengan pengorbanan.
Mengorbankan banyak hal yang menyenangkan syahwat, untuk meraih keutamaan Ramadhan.
Yang senang nonton sinetron, berkam-jam depan tivi, menangis karena dramanya, maka Ramadhan ini kita alihkan waktu untuk tilawah AQ, menangis karena tadabbur.
Itulah bentuk pengorbanan kita, itulah bentuk kesungguhan kita, itulah bentuk penghormatan kita pada bulan nan suci ini.
Dan dengan pengorbanan itu, kita bisa meraih kemenangan Syawal.

Melalui tulisan ini, saya mencoba berbagi tips bagaimana kita betul-betul mempersiapkan diri jauh sebelum Ramadhan tiba.

Berangkat dari doa Rasulullah SAW : “Allahumma bariklaanaa fii rajab wa sya’ban waballighna ramadhaan”.

Kita mulai berhitung hari dari bulan Rajab.
Jika sebelum Rajab, ibadah kita biasa-biasa saja, maka dalam bulan Rajab, harus kita tingkatkan : kualitas & kuantitasnya. Harus punya target, sehingga kita bisa mengukur pencapaiannya setiap peralihan bulan.
Misalnya, hari-hari biasa kita tilawah sesuka & sedapatnya saja, kadang 2 lembar, ato hanya 1 lembar. Ketika memasuki bulan Rajab, kita komitmen menanmbahkan tilawah menjadi 5 lembar atau 1 juz perhari.
Jika Anda rutin ODOJ ( one day one juz ) di hari-hari biasa, maka dalam Rajab, harus menjadi 2 juz perhari. Demikian seteruanya.

Sholat dhuha, dari yang tidak pernah, jadi dirutinkan minimal 2 rakaat setiap hari. Dan seterusnya demikian perlakuan kita pada ibadah.
Temukan celah waktu Anda, dan yakin Anda pasti bisa.
Up grade kapasitas.

Memasuki Sya’ban, kita tingkatkan lagi targetnya. Dengan ritme sebulan, insya Allah cukup untuk membuat habit baru lagi saat bulan Ramadan.
Tubuh kita sudah terlatih, waktu kita sudah teratur, alarm biologis kita sudah miliki untuk ibadah-ibadah yang kita bangun secara rutin.
Jika dalam Rajab Anda bisa 1 juz perhari, maka dalam Sya’ban, Anda akan dengan mudah menyelesaikan 2 juz perhari. Dan Ramadhan Anda punya habit baru : 3 juz perhari.
Ramadhan adalah klimaks ibadah kita. Dan kita benar-benar menikmati keasyikan beribadahnya.

Dan saya, sungguh merasa merindukan Ramadhan sejak di bulan Rajab.

Ditulis dlm perjalanan Mks – Jkt
15 Juni 2016

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

google-site-verification: googlee1504fd57faec694.html

Design by pakmustain.info