Fatherless Country Renungan di hari Anak Nasional

#OneDayForChildren

32 tahun yang lalu, tepatnya 23 Juli 1984, Presiden Soeharto menetapkan hari itu sebagai hari anak nasional.
Dalam beberapa momen, kita memperingati hari anak. Hari anak internasional, hari anak sedunia.

Apa yang sudah kita berikan pada mereka ? Pada anak-anak Indonesia ? Yang oleh dunia pun di agungkan dan dipedulikan.

Rentetan kasus anak yang terjadi tahun ini, membuat kita semua prihatin, khawatir dan mengutuk para pelaku dibalik kasus tersebut.

Dan Menteri Sosial mengatakan bahwa ini adalah bencana kemanusiaan dan bencana peradaban.
Beberapa rekan aktivis LSM mengatakan ini adalah kejahatan kemanusiaan. Bukan sekedar kasus pelecehan seksual.

Kita pun dibuat terperangah ketika menteri Sosial menyampaikan bahwa Indonesia masuk dalam deretan kedua sebagai Fatherless Country, negara tanpa Ayah. Yang berarti negara dimana anak-anak merasa tidak memiliki Ayah.
Anak-anak tidak merasakan kehadiran dan sentuhan sosok ayah dalam kehidupan mereka, walau sang ayah ada dan hidup bersama mereka.
Fatherless country/father hunger adalah keadaan dimana ayah ada secara fisik, tapi secara psikologis kehadiran ayah tidak ada di dalam jiwa anaknya. Bisa jadi karena sang ayah terlalu sibuk bekerja yang mengakibatkan kurangnya komunikasi dan rasa dekat dengan anak, atau perlakuan sang ayah terlalu kasar terhadap anak sehingga anak tidak lagi merasakan kehadiran sosok ayah dalam hidupnya.

Dalam beberapa penelitian dikatakan bahwa keterlibatan ayah dalam kehidupan anak, berdampak positif dengan perkembangan emosinya. Sosok ayah, memberi dampak penting bagi perkembangan konsep dan harga diri anak.

Sebaliknya, tanpa adanya pengasuhan ayah, anak tumbuh dengan karakter yang rapuh. Inilah yang terjadi saat ini. Remaja dan anak-anak banyak yang terseret dalam pergaulan bebas, pecandu narkoba, karena tak ada benteng, tak ada perisai dalam keluarga mereka. Dan tanpa disadari, dalam waktu yang lama, ketidaklibatan ayah dalam pengasuhan anak, akan membuat negara ini menjadi lemah.

Banyak catatan PR kita pada anak Indonesia. Penelitian di atas perlu disikapi serius oleh pemerintah untuk segera mengambil langkah konkrit menyelematkan anak bangsa.

Dengan momentum hari anak ini, mari kita melakukan gerakan Ayah Sayang Anak untuk mengembalikan peran Ayah dalam membangun karakter anak, sehingga anak-anak Indonesia bisa tumbuh dengan pribadi yang kokoh.

Karena sesungguhnya, suami istri dalam sebuah rumah tangga adalah sepasang pendidik yang saling melengkapi. Ibarat sayap, maka kesempurnaan gerak keduanyalah yang membuatnya bisa terbang.

Ibnul Qayyim dalam kitab Tuhfatul Maudud berkata, “Jika terjadi kerusakan pada anak penyebab utamanya adalah AYAH.”
Ingatlah! Seorang anak bernasab kepada AYAHnya bukan ibu. Nasab yang merujuk pada anak menunjukkan kepada siapa Allah meminta pertanggungjawaban kelak.

Ibu memang madrasah pertama seorang anak, tetapi AYAH tetap menjadi penanggungjawab utama – sebagai qowwam – dalam keluarga.

Dalam sebuah tulisan di kaskus, saya menemukan kalimat ini :
Ibu mengasah kepekaan rasa, Ayah memberi makna terhadap logika. Kedua-duanya dibutuhkan oleh anak.

Jika ibu tak ada, anak menjadi kering cinta. Jika AYAH tak ada, anak tak punya kecerdasan logika.

AYAH mengajarkan anak menjadi pemimpin yang tegas. Ibu membimbingnya menjadi pemimpin yang peduli.

Tegas dan peduli itu sikap utama. Hak anak adalah mendapatkan pengasuh yang lengkap. AYAH terlibat, ibu apalagi. Mari penuhi hak anak untuk melibatkan AYAH dalam pengasuhan.

Ayah… Berikan perhatianmu hari ini dan hari-hari besok pada anak-anakmu agar mereka menemukan kekuatan untuk tegak berdiri mengarungi kehidupan.

Ayah.. Berikan cintamu hari ini dan hari-hari besok agar mereka hidup dengan harga diri.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

google-site-verification: googlee1504fd57faec694.html

Design by pakmustain.info