LGBT, Kembalikan ke Jati Dirinya

Di sini, kita mengenalnya dengan istilah bencong atau calabai.
Calabai, bagi laki-laki yang ingin tampil sebagai perempuan atau perempuan yang ingin menjadi laki-laki, balaki.
Bedanya, dulu tidak terorganisir, sehingga kehadiran mereka nyaris terabaikan. Bahkan cendrung menjadi aib sosial.
Keberadaan mereka tanpa propaganda.

Hari ini, kita dikagetkan dengan tema besar dunia atas LGBT.
Lesbi Gay Bisex Transgender, issu ini ramai dibicarakan.
Propaganda mereka sangat sistematik. Masuk ke semua kalangan, gedung sekolah dan perkantoran, pejabat maupun pengangguran.
Dengan kemenangan mereka di Supreme Court menjadikan Amerika, dan beberapa negara Eropa lainnya, menjadi negara yang resmi menghalalkan perkawinan sejenis (same sex marriage).
Kitapun pernah tercengang dengan tulisan hasil reportase wartawan media lokal terhadap kehidupan mereka di Makassar.

Apa yang harus kita lakukan ?
Tentu bukan sekedar membaca berita-berita tentang #daruratLGBT atau ketakutan dan kepanikan pada situasi.
Kekhawatiran harus menghasilkan kewaspadaan, kewaspadaan membuat kita melakukan langkah-langkah preventif.

Penulis sepakat dengan apa yang ditulis oleh imam Shamsi Ali.
“Untuk itu menghadapi gencarnya kampanye dukungan terhadap LGBT diperlukan pendekatan yang menyeluruh. Jangan terpusat pada satu isu. Sebab boleh jadi kita masih sibuk dengan satu isu, mereka sudah mengembangkan ke isu lain dalam rangka agenda besar terselubung.

Dimulai dari pembenahan sistim kekeluargaan, pendidikan anak, sistim kehidupan sosial, hingga kepada pengembangan kultur yang berasas religi dan moral.

Semua itu tentunya memerlukan dukungan politik dan kekuatan finansial.

Oleh karenanya para guru, asatidz, dan para pemain di sektor politik harus bergandengan tangan untuk membangun strategi yang pas dan solid. Tugas ini bukan sekedar tugas sepihak dari tatanan kebangsaan. Tapi tugas kolektif dari seluruh komponen bangsa.”.

Penularan LGBT
Beberapa artikel menuliskan bhw LGBT itu menular. Tentu saja penularan yang dimaksud bukan sebagaimana menularnya penyakit melalui virus, parasit atau bakteri. Tapi penularannya melalui habit, kebiasaan.
Wajar jika ada yang mengatakan LGBT menular dalam perspektif sosial, bukan dalam perspektif medis.

Langkah preventif yang bisa kita ambil adalah 1) menanamkan nilai-nilai idiologis dalam keluarga. Mendekatkan keluarga pada kitab suci. Sehingga anak-anak tumbuh dalam interaksi yang intens dengan kitab sucinya. Penulis haqqul yakin, bahwa semua agama dalam kitab sucinya mengharamkan LGBT.
Jika anak-anak kita difahamkan tentang nilai-nilai kitab sucinya, mereka akan tahu nilai-nilai etis yang harus mereka bangun dalam interaksi dengan laki-laki atau perempuan.
Landasannya adalah moral. Moral terbangun dari nilai-nilai idiologi.

2) membesarkan anak-anak dalam lingkungan kasih sayang, tanpa kekerasan dalam rumah tangga.
Contoh faktor lingkungan yang diduga bisa menyebabkan seseorang mengalami penyimpangan sex adalah perceraian orangtua, pernah mengalami pelecehan seksual, KDRT dan lain lain.
Ada pula karena pola asuh yang salah dari orangtua.
Sebuah fakta yang penulis angkat, bahwa ada orangtua yang sangat menginginkan anak laki-laki karena semua anak yang dilahirkannya adalah perempuan. Saat anak yang terakhir lahir dan faktanya bahwa yang lahir itu adalah perempuan lagi, penulis melihat sendiri, bagaimana orgtuanya membesarkan anak perempuan mereka menjadi seorang laki-laki hanya karena terobsesi memiliki anak laki-laki.
Tampilan kesehariannya sejak kecil didandanin sebagaimana anak laki-laki.
Orangtua, tanpa sadar menggiring anaknya melakukan penyimpangan sex.
Asuh anak sesuai dengan jati dirinya.

3) memperhatikan interaksi pergaulan orang-orang terdekat kita. Baik di dalam apalagi di luar rumah.
Sering-seringlah ajak anak berbicara dan bercerita tentang teman-temannya.
Sehingga jika ada gejala awal bisa segera terdeteksi. Dan kita bisa mengambil langkah bijak dalam menanganinya.

4) Harus tau ciri-ciri atau gelagat LGBT. Ini untuk mendeteksi keberadaan mereka di sekitar kita.
Seorang remaja pernah bercerita pada penulis tentang LGBT. Konon, komunitas ini punya bahasa tubuh untuk saling menandai jika berpapasan di tempat umum. Mereka pun bisa saling mengenali melalui tampilan fisik. Mereka punya sandi.

5) Cek akun medsos org terdekat Anda (anak, istri, suami ) . Sedikit kepo tak apa-apa untuk sebuah langkah penyelamatan.
Pastikan dalam applikasi medsos di smartphonenya tak ada stiker-stiker LGBT atau yang mengarah ke LGBT.

Jika sudah terlanjur berada dalam komunitas tersebut, tetaplah berjuang menyelamatkan mereka.
Berikan lingkungan yang sehat bagi penyembuhan jiwanya.

Ini yang bisa kita lakukan, sebagai warga negara yang sadar moral & taat hukum. Tentu kita juga berharap ada perhatian pemerintah dalam hal ini. Mari kita lakukan apa yang kita bisa untuk menyelamatkan bangsa ini. Sembari menunggu apa yang akan dilakukan oleh pemerintah.

Penulis juga sepakat dengan pernyataan ini :
“Kita memang perlu menyatakan sikap. Namun bersikap kasar, keras, mengatakan bahwa mereka itu “penyakit” itu kontraproduktif. Mereka bisa depresi, karena terus-menerus dianggap busuk, tak punya harapan. Bisa juga menghidupkan sistem pertahanan. Seperti menekan bola dalam air. Makin ditekan, makin besar pula perlawanan. Makin kebas dan mantap untuk menyimpang.

Semua orang berhak mendapatkan dakwah, termasuk LGBT. “Arus penolakan” yang kita lihat sekarang membuat mereka makin represif. Padahal, yang seharusnya dilakukan: Edukasi, lalu solusi.

Sebenarnya, ini rumus content marketing. Bukan mencaci dan mengutuk. Tak akan ada nasihat yang diterima jika disajikan dengan pola “benci dan melaknat.”

“Ini sudah ada sejak jaman nabi Adam, ini penyakit dan harus kita obati. Jangan perlakukan mereka seolah-olah bukan manusia, tentu tidak mudah mendiskusikannya, lebih banyak emosinya,” (Jimly Ashshidiqi)

Berhentilah memaki, berilah solusi, kuatkan iman & imun, mari kita bantu mereka agar kembali ke jati dirinya sebagai Adam atau Hawa.

Belajar dari Nazma Khan ( pelopor hari Hijab Sedunia )

Peringatan Hari Hijab Sedunia jatuh pada tanggal 1 Februari kemarin.
Nazma Khan adalah seorang muslimah yang menggagas momen tersebut.
Khan adalah muslimah asal Bangladesh yang hijrah ke New York saat usia 11 tahun.

Dibalik peringatan hari hijab sedunia, ada pelajaran leadership, sebuah kobaran semangat, kepeloporan dari seorang Nazma Khan.

  1. Semangat untuk melepaskan diri dari diskriminasi yang dialami oleh muslimah yang berhijab.
    Upaya remaja muslimah ini untuk melepaskan diri dari kungkungan diskriminasi muslimah yang berhijab saat itu, sungguh gigih. Khan tampil percaya diri dengan hijabnya sekalipun dibully oleh teman-temannya dengan panggilan Osama bin Laden, Batman, Ninja atau dijuluki sebagai teroris. Lingkungan yang tidak kondusif itu, tidak membuat Khan serta merta melepas hijabnya. Tapi dari kondisi tertekan seperti itu, Khan bisa tampil “melawan” lingkungannya.
    Berkat rasa percaya dirinya, Khan berhasil meyakinkan publik bahwa hijab tidak identik dengan teroris.
    Penulis tertarik mengangkat tema ini, karena sangat relevan dengan kondisi bangsa kita akhir-akhir ini yang medianya diserang “teroris”.
    Sampai-sampai terkesan mendiskreditkan agama tertentu dalam agenda pemberantasan teroris. Buku-buku agama tertentu dicurigai, simbol-simbol dan pakaian agama tertentu juga dicurigai sebagai biang teroris.
    Khan di New York sana berhasil menghapus stigma itu dengan hijabnya.
    Bagaimana dengan kita di Indonesia ?

    2. Semangat untuk meyakinkan publik bahwa hijab itu bukan hanya milik kaum muslim tapi juga non muslim.
    Khan tampil memperkenalkan hijab dengan sudut pandang yang berbeda.
    Khan menggunakan pendekatan kemanusiaan, tatanan kesopanan dalam berpakaian. Khan menggunakan nilai-nilai sosial, nilai-nilai universal dalam memperkenalkan hijab.
    Sehingga Khan berhasil menggalang masyarakat non muslim untuk memakai hijab bersama pada tanggal 1 Februari 2013 silam.
    Tentu saja kita harus mengapresiasi upaya Khan membumikan hijab. Ada cara pandang yang unik yang telah dilakukan oleh Khan dan berhasil menggalang simpati dari muslim dan non muslim di 50 negara. Informasi tentang gerakan Khan di media sosial pun telah diterjemahkan ke dalam 22 bahasa.
    Khan berhasil meyakinkan perempuan non muslim bahwa memakai hijab tidak harus masuk Islam, karena hijab itu tentang kesopanan dalam berpakaian, tentang kesantunan dalam perilaku.

    Sangat banyak nilai-nilai Islam, ajaran dalam Al-Qur’an yang bersifat universal. Butuh kepiawaian para da’i mengemasnya, sehingga nilai-nilai tersebut diterima oleh semua kalangan.
    Khan sudah membuktikannya. Remaja muslimah ini sudah mengajari kita, menyadarkan kita tentang hal tersebut.

    3. Media sosial sebuah sarana komunikasi yang sangat efektif.
    Gerakan Khan untuk membebaskan diri dari diskriminasi karena hijabnya berbuah manis. Gerakan tersebut digaungkan melalui media sosial dan disambut gempita oleh dunia.
    Lahirlah Hari Hijab Sedunia.
    Apa medianya? Media sosial.
    Khan tidak perlu tampil di majalah ternama New York, Khan tidak butuh dana besar untuk memobilisasi gerakannya, cukup dengan seruan di akun miliknya, tentang kisah-kisahnya diperlakukan diskriminatif dalam lingkungannya hanya karena berhijab.
    Masih ingatkah kita terhadap revolusi Mesir ? Perlawanan rakyat Mesir akhirnya berhasil menumbangkan Husni Mubarak, berawal dari media sosial. Seruan perlawanan rakyatnyapun melalui media sosial. Sungguh, media sosial sebuah kekuatan yang tak terabaikan.
    Kembali Khan membuktikan hal itu.

    Khan berhasil membalik sebuah tantangan menjadi sebuah peluang. Dan Khan berhasil menjadi ikon, tokoh hijab sedunia.
    Jika sekiranya John C Maxwell membaca berita tentang Khan, niscaya dia akan memasukkannya dalam tulisan kisah-kisah kepemimpinan. Karena Khan memiliki apa yang Maxwell sering ungkapkan dalam buku-buku edisi kepemimpinannya.
    Khan mampu bangkit sebagai pemimpin ditengah masalahnya, Khan berhasil menjadikan tantangannya sebagai peluang, Khan tidak menghindari masalah. Khan luwes, Khan berhasil menemukan momennya, Khan punya visi. Khan pun berhasil memahami apa yang dikatakan oleh John W. Gardner : “Jika saya harus menyebutkan satu-satunya instrumen kepemimpinan serba guna, itu pasti komunikasi”.
    Kemudian Maxwell mengatakan : “Jika Anda cukup sering membaca buku-buku kepemimpinan yang saya tulis, mungkin Anda tahu bahwa saya percaya bahwa segala sesuatunya ditentukan oleh kepemimpinan. Yang belum saya sebutkan adalah bahwa kepemimpinan sangat ditentukan oleh komunikasi”.

Secangkir Kopi

Sederhana. Biasa. Hangat. Begitulah mungkin sekilas simpulan kita tatkala membaca judul tulisan ini.

Jika secangkir kopi itu dianggap hanya sebuah kebiasaan belaka, atau hanya sebuah minuman kesukaan, secangkir kopi taklah lebih berarti dari itu.

Tapi bagi saya, secangkir kopi, akhir-akhir ini sungguh punya makna yang dalam. Sebuah kenikmatan rasa yang berbeda. Rasa cinta, persaudaraan, emosi, penghargaan, ketulusan dan pengorbanan. Dan juga pastinya, sebuah cita rasa berbeda di lidah, karena konon, itu kopi bukan sembarang kopi, tapi kopi akar. Nah !

Secangkir kopi, setiap Selasa sore saya menikmatinya. Dari seduhan tangan seorang ibu mulia.

Menikmatinya setiap pekan di hari itu adalah sesuatu yang special bagi saya. Saya bisa menikmatinya jika saya memberi sedikit kesungguhan hati untuk datang ke rumah beliau sebelum pkl 17.00. Entahlah… saya bersegera ke sana, istijabah karena jadwal itu atau karena kerinduan akan suguhan secangkir kopi.

Sungguh, betapa menjadi istimewa bagiku, mendapat perlakuan khusus sajian kopi akarnya.

secangkir kopi

Sejak saat itu, entah mengapa, setiap kali saya mendapat sajian kopi, yang teringat adalah suasana rumah itu, senyum perempuan yang menyuguhkannya, kehangatan orang-orang yang datang setelahku.

Secangkir kopi bagi saya, sungguh mengaduk emosi. Dalam kepulan panasnya, ada wajah-wajah perindu syurga yang berkumpul bersenandung dan berbicara tentang kebaikan.

Saya menemukan sebuah ikatan emosi dalam secangkir kopi itu. Saya bukan siapa-siapa, saya sama seperti yang lainnya saudaraku. Hanya karena saya datang mendahului mereka, saya lah yang istimewa, mendapatkan secangkir kopi.

Awalnya biasa saja, tapi waktu bergulir, kebiasaan itu berulang. Dan sungguh saya menikmatinya.

Karena rindu, saya tak ingin melewatkan momen itu setiap pekannya.

Karena cinta, saya bersungguh hati mendapatkannya.

Hanya karena ketulusannya secangkir kopi itu membuatku kasmaran

Hanya karena penghargaannya secangkir kopi itu penuh bermakna.

Jangan pernah enggan melakukan hal-hal kecil. Bisa jadi kecil, sederhana tapi dilakukan dengan ikhlas dampaknya akan menjadi luar biasa.

Janga pernah mengabaikan hal-hal kecil. Belajar untuk saling menghargai, menghormati. Sesederhana apapun caranya.

Untuk mendapatkan sesuatu yang berbeda, butuh pengorbanan. Apresiasilah, sekecil apapun pengorbanannya.

Cinta, rasa persaudaraan, lebih terasa dalam ungkapan sikap. Maka tunjukkanlah rasa cintamu dalam tindakan.

Dan saya pun teringat kata-kata Rumi :
“Jika kau bukan seorang Pecinta, jangan pandang hidupmu adalah hidup. Sebab, tanpa cinta segala perbuatan tidak akan dihitung pada Hari Perhitungan nanti. Setiap waktu yang berlalu tanpa cinta, akan menjelma menjadi wajah yang memalukan di hadapan Tuhan”.

 

 

Untuk seorang naqib

28 Januari 2016

Dalam perjalanan Makassar ke Batavia

Pembahasan Ranperda Penyelenggaraan Pendidikan

Pembahasan batang tubuh Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Penyelenggaraan Pendidikan sudah memasuki pembahasan batang tubuh. Sudah dua kali rapat pembahasan namun belum menemui titik temu.
Ada beberapa pasal yang memerlukan diskusi panjang.
Siang tadi memasuki pembahasan pasal 19 membahas terkait bab penyelenggaraan pendidikan, dalam pasal tersebut ada 6 ayat, dan yang menjadi perdebatan di Pansus adalah ayat 2 yang berbunyi:

“Satuan pendidikan menengah yang diselenggarakan oleh pemerintah atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangan masing-masing wajib mengalokasikan tempat bagi calon peserta didik berkewarganegaraan Indonesia, yang memiliki potensi akademik memadai dan kurang mampu secara ekonomi paling sedikit 20 persen dari jumlah keseluruhan peserta didik baru”.
Ayat ini memberikan interpretasi bahwa pendidikan di Sulawesi Selatan masih mengenal kaya miskin sehingga butuh ruang khusus untuk orang yang tidak mampu secara ekonomi. Ada anggota pansus yang mengusulkan agar ayat 2 tersebut dihapus saja.

Namun realitas yang harus kita akui bahwa kebanyakan sekolah unggulan saat ini masih didominasi oleh orang berduit, sehingga klausul dari ayat 2 ini menjadi sebuah afirmatif action di dunia pendidikan sebagaimana afirmatif action 30 persen kuota caleg perempuan. Dan angka 20 persen itu adalah amanat dari PP 17 tahun 2010.

Yang jadi pembahasan alot selanjutnya adalah ayat 5 tentang bantuan biaya pendidikan.
bantuan biaya pendidikan yang dimaksud dalam ayat ini menurut Diknas adalah bantuan baju, transportasi dan makan minum siswa.

Dalam hal ini Dinas Pendidikan belum punya kajian penganggaran yang kemudian menjelaskan bahwa seluruh kebutuhan wajib biaya pendidikan sudah terpenuhi sehingga masih ada ruang untuk memberikan biaya-biaya bantuan pendidikan lainnya yang termasuk bukan wajib. Yang diinginkan oleh anggota Pansus adalah adanya riset yang jelas, sehingga bisa memenuhi bantuan yang wajib, jika ada lebihnya baru dialokasikan ke bantuan yang tidak wajib.

Pansus penyelenggaraan pendidikan tidak berniat memperlambat pembahasan namun kami ingin Ranperda ini tidak menjadi Ranperda banci.
Ada 25 item dalam ranperda ini yang ujung-ujungnya harus diatur melalui peraturan gubernur.
Ini yang harus dicermati oleh teman-teman pansus.

Kami ingin ranperda ini betul-betul bisa diimplementasikan, bisa mandiri. Kalaupun membutuhkan pergub untuk implementasinya, kita harus meminimalisir.

Karena hasil evaluasi kami di Badan Pembuat Peraturan Daerah, perda-perda yang tidak terimplementasi, kebanyakan karena tidak terbitnya pergub sebagai penjelas dari perda tersebut.

Satire dari Juvenalis

Masih ingatkah tentang sebuah mahakarya sastra dari seorang pujangga Romawi, Decimus Iunius Juvenalis, dalam Satire X, dan menjadi jargon guru olahraga kita doeloe?

Mens sana in corpore sano, dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat.

Doeloe, saya masih memaknainya sangat sederhana, bahwa jika kita berolahraga maka tubuh kita sehat, sirkulasi darah lancar, pikiran jernih, fresh. Hanya itu.

Tapi ketika saya rutin berolahraga saya menemukan sesuatu yang baru dari jorgan tersebut.

Saya ingin berbagi rasa yang kutemukan dalam olahraga dengan peribaratan yang sangat dekat dengan kehidupan kita. Jogging.

Ketika kita ingin memulainya, bersegeralah melakukannya. Tahukah engkau sobat, rasa yang muncul di awal adalah serangan dari rasa malas, rasa capek, rasa jenuh membayangkan track yang akan engkau lalui. Saat itu, paksalah dirimu untuk bangkit dan memulai larimu.

Saat itu, Kita sudah menang atas rasa malas yang mendera. Kita berhasil mengalahkannya, dan membiarkan kemalasan itu terkapar sendiri di tempatnya.

Saat memulainya, kita sudah punya target jarak atau target putaran. Peganglah kuat-kuat target itu hingga tuntas kau penuhi.

Dalam track jogging kita, separuh dari target telah tunai, dan kita akan diserang jenuh karena target terbayang masih jauh, masih butuh tenaga ekstra, masih butuh banyak nafas untuk menyelesaikan target.
Saat kita mengumpulkan energi dan bertekad bulat sampai pada target dan kita berhasil melakukannya, saat itu berarti kita kembali menang. Menang mengalahkan lelah, menang menundukkan jenuh.

Dalam suasana seperti itu, kita melatih jiwa untuk lebih tangguh, mengasah mental untuk lebih kuat,
Jika kita rutin melakukannya, maka jiwa akan terlatih dengan ketangguhannya, mental terlatih dengan kekuatannya.
Maka kita akan lebih tangguh menghadapi dinamika dunia ini.

Benarlah satire dari Juvenalis :
Mens Sana Incopore Sano

#selamatpagiIndonesia

Puber Politik

Oleh : Sri Rahmi

Istilah ini saya dapat ketika ngobrol lepas dengan beberapa kawan politisi. Tema obrolan kami seputar hasil pilkada serentak putaran pertama di Sulsel. Beberapa dari kandidat calon bupati/wakil bupati yang tidak lolos menjadi hot issue di beberapa warkop, dan tiba-tiba muncul istilah bagi mereka yang dianggap belum layak untuk maju di pilkada sebagai orang yang sedang puber politik.

Menurut Prawirohardjo (1999: 127) pubertas merupakan masa peralihan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa. Menurut Soetjiningsih (2004: 134) pubertas adalah suatu periode perubahan dari tidak matang menjadi matang.a

Orang yang mengalami pubertas, cenderung memiliki sifat melankolis dan romantis, juga ditandai dengan mudahnya jatuh cinta pada lawan jenis. Masa-masa inilah yang sering membuat orang yang mengalaminya menjadi tidak rasional dalam berpikir dan mengambil tindakan. Hal-hal yang tidak biasa dilakukan tiba-tiba menjadi kebiasaan untuk sebuah obsesi rasa cinta. Untuk itu, “penderita” rela berkorban jiwa sekalipun.

Demikian pula dengan mereka yang dianggap terkena puber politik. Ini bukan tentang kalah menang, tapi tentang kepantasannya maju bertarung dalam pilkada. Ini bukan tentang besar kecilnya parpol yang dimiliki, tapi tentang momentnya apakah tepat untuk ikut bertarung dalam pilkada.

Ini bukan tentang sedikit banyaknya dukungan suara saat pileg sebelumnya, tapi tentang kemampuan mengkapitalisasi semua sumber daya pemenangan. Ini juga bukan tentang usia biologis, tapi tentang senior yuniornya dalam dunia politik.

Demikian banyak timbangannya, amat banyak kacamata pandangnya. Intinya, bagi yang sedang puber politik, dianggap oleh banyak kalangan belum saatnya dia maju sebagai kandidat di pilkada. Hanya karena menjadi korban “provokator”, menjadi korban bualan politik. Mungkin tepat dengan lagu “Layu sebelum Berkembang”.

Banyak yang kalah dalam pilkada, tapi tidak mendapat julukan puber politik, karena dianggap matang dalam perhitungan, hanya takdir saja yang belum berpihak padanya.

Realita pilkada serentak putaran pertama 2015, memberi banyak pelajaran bagi kita semua. Berhati-hatilah dalam mengukur kekuatan sendiri, jangan terprovokasi bahwa Anda harus maju. Hitunglah dengan seksama konsekuensi biaya yang Anda harus keluarkan saat maju pilkada. Jangan tergiur dengan iming-iming pasangan kandidat Anda yang sering melancarkan bujuk rayunya untuk mendapatkan kursi partai Anda.

Sesaat lupakanlah puber politik, tetap saja kita harus mengapresiasi apa yang telah dilakukan oleh mereka para petarung. Mereka sudah membuktikan nyalinya, kita yang tak sanggup hanya menjadi penonton, pengamat, dan penghibur.

google-site-verification: googlee1504fd57faec694.html

Design by pakmustain.info