Catatan dari kunker komisi E ke pemkab Pangkep.

83.781 PBI yang sudah didaftarkan & siap diintegrasikan.
79.585 yang lolos verifikasi BPJS.

Banyak warga Pangkep yang sudah daftar BPJS mandiri tapi menunggak sehingga pemkab Pangkep berharap agar BPJS bersedia memutihkan tunggakan warga tersebut.

BPJS sudah memberi peringatan ke pemkab Pangkep karena pembayaran iuran PBI yang belum terbayarkan dari propinsi ( sharing 40% ).

Pangkep sangat butuh tenaga dokter ahli anak & obgin. Pangkep minta diusulkan untuk masuk dalam program nusantara sehat ( daerah kepualuan ) melalui APBN.

Data warga miskin Pangkep masih dalam tahap sinkronisasi dengan BPS, Kemensos.

Tenaga kerja asing, di Bulu Tellue, ada TKA ditemukan tapi berdalih hanya survei.
Perlu penelusuran lebih jauh oleh disnaker setempat.

Terima Kasih Bapak Gubernur

Alhamdulillah, sudah 32 tahun Indonesia memperingati Hari Anak Nasional, sejak ditetapkannya oleh Presiden Soeharto waktu itu.

Dari Presiden ke Presiden, dari Gubernur ke Gubernur, dari Wali kota ke Wali kota.

 

Hari ini, kita kembali memperingatinya. Di tengah hiruk pikuk kasus anak yang terjadi.

Kasus Yuyun, Ali dan lain lain, yang menjadi catatan suram kasus anak Indonesia 2016.

Dalam skala nasional, pemerintah sudah mencanangkan Indonesia Darurat Anak. Untuk itu, Presiden mengeluarkan sebuah keputusan besar : Hukuman kebiri bagi pelaku pemerkosa anak.

 

Keputusan tersebut menuai pro kontra, toh sudah menjadi keputusan. Yang kontra silahkan bersabar, yang pro silahkan mengawal.

Untuk hal tersebut, anak-anak Indonesia patut berucap : “Terima kasih pak Presiden”.

 

Dalam jedah waktu yang tak lama, orangtua dibuat panik dengan terungkapnya kasus vaksin palsu, sekalipun dalam perjalanan investigasinya, Menteri Kesehatan RI menyampaikan bahwa vaksin tersebut tidak berbahaya bagi anak sesuai uji laboratorium yang dilakukan. Tapi itu tidak cukup menenangkan orangtua yang sudah terlanjur memvaksin anaknya.

Beberapa Rumah Sakit yang terdeteksi sebagai pengguna vaksin palsu tersebut segera menjadi sorotan media.

Bagaimana dengan RS/Puskesmas/Klinik yang belum terdeteksi?

Kementerian Kesehatan pun melakukan vaksinasi ulang di Rumah Sakit yang terdeteksi menggunakan vaksin palsu tersebut.

Bagaimana dengan anak-anak yang lain yang belum terdeteksi?

 

Tapi sekali lagi anak-anak Indonesia harus berucap : Terima kasih pak Presiden karena sudah mengusut kasus ini.

Semoga segera tuntas.

 

Dan tiba-tiba Indonesia demam Pokemon.

Beberapa analisis tentang game tersebut, ramai di media. Membuat pak Menteri Pendidikan Anis Baswedan angkat bicara : Melarang siswa dan guru untuk menggunakan applikasi game tersebut.

Fenomena permainan Pokemon Go menarik perhatian Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal), Laksamana TNI Ade Supandi.

Ade melarang seluruh anggota TNI AL bermain game ini dikarenakan game berbasis smartphone itu menggunakan Global Positioning System (GPS) untuk melacak monster-monster Pokemon.

Alasannya, keberadaan masing-masing anggota TNI AL dapat dengan mudah terlacak apabila mengaktifkan game tersebut.

Demikian dirilis oleh media.

Atas dasar keamanan, pelarangan itu dikeluarkan. Sensitifitas atas keamanan negara dari pak Adi Supandi harus diapresiasi.

Demikian juga pelarangan yang disampaikan oleh Wali kota Surabaya – ibu Risma.

Untuk itu, kita orangtua patut menyampaikan terimakasih pada pihak yang peduli dengan kondisi tersebut.

 

Itulah serangkaian PR negara terhadap anak-anak Indonesia. Sebagai warga negara yang baik, patutlah kita memberi kontribusi dalam penyelamatan anak bangsa.

 

Kita sadar & mengetahui sepenuhnya, bahwa rangkaian kasus-kasus di atas belum ada yang tuntas.

Penanganan anak yang menjadi korban kekerasan seksual, sindikat vaksin palsu yang masih berkeliaran.

Belum adanya langkah investigasi yang dilakukan pemerintah propinsi sebagai bentuk preventif & protektif atas vaksin palsu, karena tidak mustahil, vaksin palsu tersebut juga beredar di Sulsel.

 

Tapi, dibalik tabir hitam kasus-kasus tersebut, mari ajarkan anak-anak kita untuk mengucapkan TERIMA KASIH terhadap apa yang telah dilakukan pemerintah untuk melindungi kehidupan mereka.

 

Kita pun sebagai masyarakat Sulsel patut berterimakasih pada Gubernur tatkala peraturan gubernur dari Perda Sistem Perlindungan Anak segera dikeluarkan.

Sebagai bentuk kepedulian Gubernur terhadap anak-anak Sulsel, peraturan gubernur tersebut menjadi sebuah hal yang sangat ditunggu.

 

Terimakasih pak Gubernur, semoga pergub tersebut bisa menjadi hadiah bagi anak-anak Sulsel di hari Anak ini.

Perempuan Dalam Pilkada

Pilkada serentak putaran pertama ( 2015 ) telah selesai. Event demokrasi tersebut menyisakan banyak catatan. Khususnya catatan untuk partisipasi perempuan sebagai cakada dalam pilkada tersebut.
KPU Sulsel mencatat, ada 4 cakada perempuan yang bertarung di pilkada Sulsel 2015. Tapi hanya 1 yang lolos sebagai pemenang.
Masyarakat Lutra mencatatkan sejarahnya, memilih bupati perempuan untuk memimpin mereka selama 5 tahun ke depan.

Apa yang terjadi di Lutra, pemilih secara sadar memberikan suaranya pada perempuan. Ini bukan sebuah perkara yang sederhana untuk keluar sebagai pemenang di pilkada tersebut. Kepiawaian memenangkan pertarungan pada pilkada tersebut harus menjadi bahan kajian bagi teman-teman aktifis perempuan di Sulsel.

Secara nasional, Penelusuran Litbang Kompas menunjukkan, dari 1.654 calon kepala dan wakil kepala daerah, hanya 123 perempuan (7,44 persen) yang mengikuti kontestasi akbar tersebut. Proporsi representasi perempuan ini belum beranjak jauh dari proporsi saat pilkada langsung pertama kali dilaksanakan pada 2005. Saat itu, jumlah perempuan yang mengikuti kontestasi pilkada 2005 sekitar 69 orang dari 1.374 peserta atau hanya sekitar 5,02 persen. Minimnya jumlah calon perempuan memperkecil peluang perempuan berkiprah dalam tataran pengambil kebijakan atau perannya dalam tingkat eksekutif.

Dalam pilkada serentak 9 Desember 2015, jumlah keterpilihan perempuan calon kepala dan wakil kepala daerah tercatat tidak mencapai separuh dari jumlah pencalonan perempuan. Data Komisi Pemilihan Umum per 30 Desember 2015 menunjukkan, dari 123 calon perempuan, hanya terdapat 46 perempuan kepala daerah dan wakil kepala daerah yang terpilih. Sebanyak 24 perempuan terpilih sebagai kepala daerah dan 22 terpilih sebagai wakil kepala daerah.

Dari 24 perempuan yang terpilih sebagai kepala daerah, ada 12 perempuan berlatar belakang sebagai petahana dan kader partai. Sementara 22 perempuan yang terpilih sebagai wakil kepala daerah didominasi mantan anggota DPR/DPD/DPRD.

Apa yang terjadi secara nasional & lokal, harus menjadi bahan kajian untuk menyusun strategi pemenangan perempuan di pilkada.

Lutra adalah bagian dari rangkaian sejarah kiprah perempuan Sulsel yang sudah dimulai sejak jaman dulu.
Crawfurd – pengamat Barat abad ke -19 menulis dalam buku Manusia Bugis : “perempuan tampil di muka umum adalah sesuatu yang wajar, mereka aktif dalam semua bidang kehidupan, menjadi mitra diskusi pria dalam segenap utusan publik, bahkan tak jarang menduduki tahta kerajaan, padahal menjadi raja ditentukan lewat proses pemilihan”.

Perempuan yang menjadi penguasa kerajaan juga bukanlah hal yang baru dalam sejarah Bugis, sebuah fakta yang ditulis oleh Crawfurd :

” Pada acara-acara kerajaan, perempuan juga hadir di tengah kaum pria, duduk dalam sidang yang membahas masalah-masalah kenegaraan, bahkan berhak memberi pertimbangan. Saat ini, kerajaan Luwu di Sulawesi Selatan dipimpin istri raja Soppeng, tetapi raja Soppeng tidak berhak mencampuri urusan dalam negri kerajaan Luwu, yang diperintah oleh istrinya”.

KPP, hadiah hari Kartini untuk Perempuan Parlemen.

Tahun ke-2 kiprah perempuan politik di parlemen Sulsel akhirnya berhasil membentuk Kaukus Perempuan Parlemen Sulsel.

Kaukus Perempuan Parlemen Republik Indonesia pertama kali didirikan pada tanggal 19 Juli 2001, keberadaan perempuan di DPR saat itu hanya 9 persen atau 46 orang dari 500 kursi parlemen. Rendahnya angka keterwakilan perempuan ini menginspirasi 44 orang perempuan anggota parlemen untuk membentuk suatu wadah bagi perempuan anggota DPR dalam upaya peningkatan keterwakilan perempuan di parlemen dan memastikan integrasi gender dalam kebijakan, yaitu Kaukus Perempuan Parlemen Republik Indonesia (KPP-RI). Kemudian KPP- RI merupakan gabungan keanggotaan dan kepengurusan antara perempuan anggota DPR dengan perempuan anggota DPD-RI sebagaimana yang tertuang dalam “Ketentuan Dasar KPP-RI” yang disahkan setelah 5 tahun berdiri, yaitu pada tanggal 27 Februari 2006.

KPP-RI adalah organisasi informal yang pada awalnya dibentuk atas kesadaran terhadap pentingnya komunikasi, upaya peningkatan kapasitas secara bersama, sinergi gerakan perempuan parlemen, dan untuk memudahkan komunikasi efektif antar perempuan anggota parlemen dan dengan para pemangku kepentingan lainnya. KPP-RI juga dibentuk untuk menggalang kekuatan perempuan dalam merumuskan dan mendorong kebijakan yang responsif gender.

KPP adalah wadah untuk perjuangan perempuan di parlemen, dengan 3 fungsi yang melekat padanya sebagai anggota parlemen budgeting, controlling dan legislasi.

Perjuangan kaum perempuan Indonesia atas hak politik harus mendapat apresiasi yang layak. Reformasi memberi ruang gerak yang lebih luas kepada perempuan. Perjuangan teman-teman aktifis perempuan yang berhasil menggolkan aturan afirmatif action menjadi klausul dalam UU No 8/2012 sungguh menjadi sebuah prestasi yang membanggakan. Mereka berjuang bukan untuk dirinya, tapi untuk kaumnya.

Atas perjuangan itulah, kran partisipasi politik perempuan di parlemen terbuka. Dan parpolpun dibuat “galau” setiap pencalegan karena ketidaksiapan SDM politisi perempuannya.
Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam konteks Indonesia persoalan mengenai keterwakilan perempuan di parlemen masih menghadapi sejumlah tantangan, baik internal maupun eksternal. Padahal sebagai warga negara seluruh hak kaum perempuan dijamin dalam konstitusi, termasuk hak untuk berpartisipasi di bidang politik. Bahkan, jaminan terhadap hak politik kaum perempuan tidak hanya di tingkat nasional, tapi juga di tingkat global seperti Konvensi Hak-hak Politik Wanita dalam Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Convention on the Elimination of All Forms Discrimination Against Women.
Atas kehadiran KPP di DPRD propinsi Sulsel memberi warna baru dalam kanvas perjuangan perempuan di Sulsel. Harapan tentang pembangunan yang berprespektif gender semakin terang, dengan ditetapkannya peraturan daerah PUG beberapa bulan lalu.

Perda PUG yang memuat kebijakan-kebijakan umum tentang gender, bisa dipastikan akan menjadi agenda bersama di KPP Sulsel.

PR perempuan di parlemen masih banyak. Panggilan nurani seorang ibu ( perempuan ) biasanya lebih kuat dibanding laki-laki. Masalah perempuan dan anak masih mendominasi kasus di Sulsel. Pelecehan sexual pada anak, KDRT, narkoba yang melibatkan anak dibawah umur, begal, tingkat perceraian yang tinggi. Ini adalah PR bersama perempuan Sulsel.
Institusi keluarga harus dikokohkan, sebagai sebuah awal dari lingkungan kehidupan manusia. Dari keluarga kita bisa melakukan perubahan untuk menyelamatkan anak-anak bangsa.
Ranperda Ketahanan Keluarga juga haruslah menjadi agenda perjuangan dari KPP Sulsel, ini sebagai bentuk komitmen menyelamatkan perempuan dan anak melalui keluarga yang kokoh.

Marilah kita merenungi surat Kartini
kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1901
“Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak wanita, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak wanita itu menjadi saingan laki-laki dalam hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya yang diserahkan alam (sunatullah) sendiri ke dalam tangannya : menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama”.
Dengan hadirnya 2 tools ( kaukus & perda ) perjuangan perempuan ini akan membuat agenda-agenda perempuan semakin kuat. Tinggal sinergitas yang indah lintas parpol, karena menjadi sebuah kode etik dalam parpol untuk memperjuangkan agenda partai masing-masing tanpa pendekatan gender. Pada titik inilah perempuan harus mencari sebuah gerakan indah yang mampu menyelamatkan posisinya dan ke”perempuanan”nya.

dimuat di Kolom Opini Harian Fajar, 20 April 2016

Tukangpun Bisa Proaktif

Kebocoran pipa saluran PDAM depan rumah menyebabkan tutupan got kami (beton) harus dijebol untuk bisa memperbaiki pipa tersebut.

Itu menyisakan lubang yang membuat kami harus menghindarkan roda mobil dari ketidakberdayaannya saat terperangkap di sana.

Selang beberapa hari kemudian, lubangnya sudah tertutup dengan bongkahan-bongkahannya. Sekalipun tak serapi diawal, tapi kami sudah bisa parkir dengan tenang.

Ternyata perbaikan itu inisiatif dari tukang rumah sebelah. Tanpa diminta, mereka proaktif melakukannya.

Mungkin ada diantara Anda yang menganggapnya sepele, tapi tidak untuk saya.
Saya sungguh mengapresiasi atas sikap PROAKTIF dari tukang tersebut.
Memperbaiki lubang, itu hanyalah sebuah tindakan dari sikap mental – proaktif yang ada padanya.

Dia mengambil sebuah tanggungjawab untuk memberi value atas dirinya.

Tentu saja, tukang itu melakukannya bukan karena belajar tentang Seven Habitsnya Covey.
Yang lahir itu adalah sikap mental, menembus batas IQ akademik. Dorongan rasa tanggungjawab yang tinggi melahirkan inisiatif untuk melakukan sesuatu.

Wajarlah jika orang yang proaktif di lingkungan kita mendapat posisi terbaik di hati orang-orang yang berinteraksi dengannya.

Apapun pekerjaan Anda, dimanapun posisi Anda, jadilah PROAKTIF.

Ken Arok

Dalam perjalanan kisah seorang tokoh besar, Ken Arok, dari seorang perusuh, designer perang, politisi, negarawan ada seorang Mpu Lehgowo dari brahmana yang menjadi otak runtuhnya Tunggul Ametung Akuwu Tumapel.

Paduan yang apik, Ken Arok yang punya sifat ksatria, dan Mpu Lehgowo pemilik kebijaksanaan.
Ken Arok pemuda yang cerdas & energik, Mpu Lehgowo orangtua yang menjadi “ulama” Syiwa, pemilik kalimat pencerah.

Atas skenario Mpu Lehguwu, Arok berhasil masuk ke pusat kerajaan Tumapel.
Atas masehat Mpu Lehgowo, Arok membunuh musuhnya dengan tangan orang lain.
Kecerdasannya, membuat adu domba antara Mpu Gandring, Kebo Ijo, Belakangka ( perwakilan Kediri di Tumapel ) begitu apik tak berjejak.

Arok, yang dalam dirinya dilukiskan sebagai figur yang sempurna, orang sudra, yang memiliki sikap satria, berhati brahmana.

Sejak usia 15 tahun, Ken Arok sudah mengorganisir perlawanan terhadap Tunggul Ametung.
Usia 20 tahun, Ken Arok sudah menjadi seorang negarawan.

Pramudya meninggalkan pesan yang kuat dari novel Dedes Arok nya, bahwa orang dari kelas sudra pun bisa berkuasa di istana.
Kalangan tertindaspun bisa jadi Raja.

Budaya mencium tabukah ?

Suatu sore, saya mengisi pengajian majlis taklim. Oleh pengurusnya, saya diminta menyampaikan tema tentang keluarga.

Dan saya pastinya menyampaikan hal-hal yang mudah mereka lakukan dan berdampak besar pada kehidupan keluarga.

Usia pernikahan yang hadir saat itu bervariasi, dari 10 tahun sampai 36 tahun usia pernikahan mereka.

Ketika saya bertanya, siapa yang biasa mencium suaminya ?
Tak satupun jamaah yang angkat tangan.
Ketika saya gali lebih jauh, ternyata mereka merasa malu melakukannya.
Merasa sudah tua, malu dilihat cucu, dst dst alasan yang kadang kita buat sendiri.

Apakah mencium suami dosa ?
Mereka jawab : Tidak !

Berat mana mencium suami daripada mengangkat seember air ?
Mereka jawab : angkat seember air !

Kalau begitu apa yang menghalangi kita membiasakan mencium suami ?
Jawab mereka : budaya kita di sini.

Siapa yang membuat budaya ? Allah atau manusia ?
Jika yang membuat budaya itu adalah manusia, maka berarti kitapun bisa membuat budaya baru yang lebih baik.

Mengapa harus menyalahkan nenek moyang kita ? Yang mewariskan budaya itu ?

Suatu masa, kitalah nenek moyang yang akan disebut-sebut oleh keturunan kita.
kita yang lebih maju peradabannya – dibanding moyang kita dulu – harus mewariskan nilai-nilai yang lebih baik bagi kehidupan keluarga anak cucu kita.

Sadarkah kita, ketika anak atau cucu kita melihat Ibunya mencium Ayahnya, atau Ayah mencium Ibu, maka ekspresi saling mencintai, saling menyayangi itu, akan berbekas sangat dalam di hati mereka.
Dan merekapun tumbuh dengan sifat penyayangnya.
Banyak nasehat yang tidak harus keluar dengan kata-kata.
Membiasakan mencium & memeluk adalah nasehat tentang saling menyayangi.

Mencium harus kita wariskan sebagai budaya harmonis dalam keluarga.

Mencium pasangan, mencium anak-anak, pun mereka telah beranjak remaja.

Karena dalam ciuman, mengalir rasa disayangi & menyayangi.
Tentunya hanya bagi orang-orang yang halal mendapatkannya.

Pasangan yang Baik dan Asyik

Semua perempuan pasti mendambakan suami yang baik. Yang rajin ibadah, yang membimbing pada kebaikan, yang sabar, yang penyayang, yang santun, dan banyak kebaikan lainnya yang bernilai spiritual.
Demikian juga dengan pria. Mereka mendambakan istri yang baik, santun, dan taat.

Tapi…

Tidak cukup hanya itu. Istri juga suka yang baik tapi juga yang asyik.
Demikan juga dengan suami. Mereka suka istri yang baik tapi juga asyik.
Karena hidup ini bukan hanya untuk melakukan hal-hal yang “serius”.
Dalam quadran kebutuhan ada yang penting dan mendesak, ada yang tidak penting tapi mendesak, ada yang penting tidak mendesak, ada yang tidak penting tidak mendesak.

Nah… Kalo pasangan yang asyik, biasanya jeli memainkan quadran ini.
Penting mendesak tidak harus melulu hal-hal yang serius.
Ajak pasangan Anda nonton, dinner bersama, atau sekedar jalan berdua. Ini bisa jadi kebutuhan yang penting dan mendesak.

Pasangan Anda butuh hiburan, sekalipun dia wanita karir, tetap saja lebih happy kalau diajakin nonton bareng oleh suami.

Sekalipun wanita karir, tetap saja senang kalau suami ngajakin makan bareng di luar. Apalagi kalau istri seharian di rumah ngerjain setumpuk tugas logistik, keluar rumah bareng suami menjadi momen yang sangat menyenangkan.

Anda sebagai istri, juga harus meluangkan waktu untuk jadi istri yang asyik bagi suami. Sekalipun masih banyak kerjaan rumah atau kantor, ada saatnya ajakan suami yang harus diprioritaskan. Timingnya, pasti Anda lah yang lebih tahu.

Gak harus mahal kan ?? Yang penting asyik.

Pasangan yang asyik, kalo dia bisa diajak ngobrol. Juga enjoy diajak bercanda.
Serius bagus, sesekali refreshkan dengan canda.
Sa’atan wa sa’atan.

Sesekali ubahlah tampilan, untuk memberikan surprise ringan bagi pasangan Anda. Karena sesungguhnya semua manusia suka hal-hal yang baru, meskipun itu bersembunyi di bawah alam sadarnya.
Menciptakan sesuatu yang baru bisa dari warna atau model.

Asyik itu simple kan ?

Ini Tentang Belajar dalam Kehidupan

Saat Anda membaca kisah ini dengan cermat,  saya mendoakan Anda, agar mendapatkan inspirasi dari tulisan saya ini.

Yakinkanlah diri Anda, bahwa Anda betul-betul sangat memaknai kisah ini.

 

Sahabatku…

 

Ketika menengok jauh ke belakang dalam lini masa lalu saya, sungguh sebuah kelucuan yang terlihat.

 

Tumbuh alami dengan pribadi yang terbentuk tanpa pola, penyerahan murni sepenuhnya pada lingkungan. Sampai suatu hari, berhasil menemukan diri Saya “sebagai” obor dalam sebuah achievement motivation training.

Untuk coach ku saat itu, kuucapkan terima kasih tak terhingga.

Itulah momen  awal dalam hidupku. Mengenali jati diri. Sungguh pengalaman spiritual yang luar biasa saat itu.

 

Mengenali diri, ternyata tak cukup untuk improve attitude. Hanya kepuasan sepihak, tanpa guidence.

 

Alhamdulillah…..My love mempertemukanku dengan Steven Covey melalui bukunya Seven Habits.

Kali ini, My love adalah coachku.

 

Pengalaman yang sungguh luar biasa. Bersama My love, melalui hari-hari dengan teori Covey. Merasakan sensasi peristiwa demi peristiwa bersama Seven Habits. Subhanallah….. Saya sungguh merasakan perubahan dalam kepribadian dan tentunya dalam kehidupan kami.

Terima kasih My love, sudah menjadi coach yang baik bagiku.

 

Tahun berlalu, masih dalam pengaruh Covey. Hingga Erbe Sentanu muncul dengan teori Quantum Ikhlasnya yang sungguh menghipnotis Saya. Seven Habits jadi begitu sempurna bergandeng dengan Quantum Ikhlas. It’s excellent.

 

Kesempurnaan Covey – Erbe kembali kami alami berdua. Sekali lagi, My love tetap menjadi coach yang sabar.

Dalam perjalanannya, kami dipertemukan dengan komunitas positif. Dalam sebuah booth camp, berhasil membuat kami seperti baru terlahir. Ibarat seekor ulat baru keluar dari kepompong. Menjadi seekor kupu-kupu yang sangat indah saat keluar dari camp tersebut.

Terima kasih bagi kalian yang telah menggiring kami ke camp yang sungguh amazing bagi improving attitude kami.

 

Masa romantisme bersama Covey dan Erbe berjalan cukup lama (sekitar 12 tahun)  hingga suatu hari saya merasa ada sesuatu yang harus diimprove dalam diri Saya.

 

Terima kasih tak terhingga kepada kalian yang telah berinteraksi dengan Saya, yang memberi Saya inspirasi dan keingintahuan yang semakin dalam terhadap hal-hal yang Saya belum temukan pada Covey dan Erbe.

 

Dalam pergulatan diri, dalam kesyukuran yang tak berujung, mengecap, merasa, setiap peristiwa dalam pemaknaan yang ternyata belum maksimal, Saya tiba-tiba dipertemukan dengan Richard and Robbin.

 

Saya berhasil menemukan kekosongan dari penyempurnaan Covey and Erbe.

Banyak kata-kata kunci yang Saya temukan dalam Richard and Robbin.

Maha Kaya Allah, sungguh limpahan ilmu dan potensi diri menjadi sebuah kejutan.

 

Hidup ini adalah sebuah kesempatan langka untuk belajar.

 

Mungkin, dalam hitungan hari, kuantitas ibadah kita istiqomah. Tapi sudahkah memberi porsi pada diri kita untuk introspeksi lebih dalam tentang “sesuatu” yang tersembunyi dalam diri kita?

 

Mungkin tentang attitude? Atau mungkin tentang gairah? Tekad? Atau paradigma? Atau apalah yang kita memberi padanya sebuah penamaan.

 

Karena sesungguhnya, hidupnya ruh bukan hanya karena kita di atas sebuah hamparan sajadah.

 

Mungkin Anda memberi kesimpulan terlalu dini jika Anda menganggap Saya lebih baik. Tapi cukuplah bagiku untuk mengaminkan semua kebaikan.

 

Di luar sana banyak orang yang lebih baik, karena mereka ingin bertumbuh dan mencari jalan untuk bertumbuh.

Makassar ( bisa ) Hebat dari Sampah

( memperingati hari peduli sampah nasional )

 

Atas dasar kepedulian pemerintah terhadap sampah, tanggal 21 Februari diterapkan sebagai Hari Peduli Sampah Nasional.

Mengapa 21 Februari ? Karena 11 tahun yang lalu, tepatnya 21 Februari 2005 terjadi tragedi longsornya sampah di Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat. Peristiwa itu menjadi isu besar, menjadi sorotan media, akademisi, politisi, dan NGO.

 

Tahun ini, peringatan Hari Peduli Sampah Nasional di pusatkan di Makassar. Sebuah kehormatan tentunya. Perolehan Adipura yang menjadi simbol kebersihan kota adalah sebuah penghargaan yang harus dijaga oleh Pemerintah Kota.

 

Sampah dalam semua defenisinya adalah sesuatu yang  tidak berguna.

Marilah kita lihat beberapa defenisi sampah. Menurut kamus lingkungan,

Sampah adalah bahan yang tidak mempunyai nilai atau tidak berharga untuk digunakan secara biasa atau khusus dalam produksi atau pemakaian; barang rusak atau cacat selama manufaktur; atau materi berlebihan atau buangan.

 

Ketika kita membuka-buka pendapat ahli tentang sampah, semua memberi defenisi dengan simpulan bahwa sampah itu adalah sesuatu yang tidak berguna.

 

Sepertinya defenisi ini yang harus dirubah untuk menciptakan sebuah sikap yang lebih bersahabat dengan sampah.

 

Defenisi lama harus kita delete. Karena faktanya sampah sekarang banyak manfaatnya.

 

3 R, cara akrab dengan sampah.

 

Dengan pola 3 R, kita bisa merubah sampah menjadi sesuatu yang luar biasa berharga.

 

3R terdiri atas reuse, reduce, dan recycle. Reuse berarti menggunakan kembali sampah yang masih dapat digunakan untuk fungsi yang sama ataupun fungsi lainnya. Reduce berarti mengurangi segala sesuatu yang mengakibatkan sampah. Dan Recycle berarti mengolah kembali (daur ulang) sampah menjadi barang atau produk baru yang bermanfaat.

 

Belanda, Korea, Swedia, Austria, Jerman, Mesir, Jepang adalah negara-negara yang berhasil mendaur ulang sampah menjadi bernilai ekonomis.

 

Mereka berhasil memanfaatkan sampah menjadi sumber listrik, membuat proyek raksasa, membuka lapangan kerja massif, bahkan Swedia butuh suplai sampah dari negara-negara terangganya. Swedia menjadi negara pengimpor sampah.

 

Contoh di atas adalah skala negara. Kita bisa membuatnya dalam skala kecil yang juga bermanfaat. Salah satu program walikota dalam menjadikan Makassar 2x+ baik adalah tukar sampah dengan beras. Ini harus menjadi model yang massif di kota Makassar. Maraknya bank sampah di beberapa kelurahan, menjadi sebuah indikator adanya perubahan pola pikir masyarakat tentang sampah. Gerakan ini harus dimassifkan, sehingga semua lapisan masyarakat melakukan dan menikmatinya.

 

Apresiasi kita berikan kepada beberapa kelompok masyarakat yang mendirikan bank sampah secara swadaya tanpa bantuan pemerintah. Dalam skala kecil – tingkat RW – upaya ini sangat membantu. Mereka melakukan edukasi hidup bersih dan merubah mindset masyarakat bahwa sampah itu sekarang punya nilai ekonomis.

 

Ada 2 hal yang harus dilakukan pemerintah kota dalam menangani sampah di kota Makassar.

 

Pertama Mengolah sampah di TPA dengan membuat proyek besar yang menjadikan sampah sebagai bahan utama industri.

 

Dengan volume sampah di TPA Tamangapa, yang  sudah berdampak pada pencemaran lingkungan (bau dan lain lain), pemerintah kota harus berani mengalokasikan anggaran untuk mengolah sampah menjadi sebuah industri yang bermanfaat atau berani bekerja sama dengan pihak ke 3 yang berani berinvestasi untuk itu.

 

Kedua Mengelola sampah. Volume  sampah yang ke TPA harus dikurangi. Salah satu cara mencegah sampah masuk ke TPA adalah dengan membuat “terminal” sementara atau tempat pembuangan sementara, yang dikelola oleh RW. Dari terminal sementara inilah, dilakukan 3 R oleh warga.

 

Atau bisa juga dengan mengedukasi masyarakat untuk membuat keranjang kompos (takakura) di rumah masing-masing.

 

Selain itu, pola hidup bersih dan pola hidup ramah lingkungan harus dibudayakan. Misalnya dengan meminimalisir penggunaan bahan-bahan plastik.

 

Program-program  tersebut sebenarnya sudah pernah dilakukan oleh Pemerintah Kota, sampai sekarang pun program 3 R masih berlangsung. Program tersebut butuh lebih masif lagi karena selama ini hanya menyentuh beberapa kelompok kecil masyarakat.

 

Pemerintah kota perlu memiliki sensory acuity, peka menilai program-program tersebut untuk memastikan bahwa program tersebut kearah pencapaian outcome-nya dan melakukan monitoring dan evaluasi terhadap program tersebut.  Partisipasi aktif masyarakat  juga sangat dibutuhkan dalam menangani sampah.

 

Pemerintah tak punya cukup sumber daya untuk melakukan semuanya, masyarakat pun tak cukup mandiri untuk melakukannya. Pemerintahan yang baik adalah pemerintah yang berhasil menggandeng masyarakat sebagai mitra pembangunan, bukan sekedar obyek.

 

dimuat di kolom Opini Harian Fajar edisi Senin, 22 Februari 2016.

google-site-verification: googlee1504fd57faec694.html

Design by pakmustain.info