Secangkir Kopi

Sederhana. Biasa. Hangat. Begitulah mungkin sekilas simpulan kita tatkala membaca judul tulisan ini.

Jika secangkir kopi itu dianggap hanya sebuah kebiasaan belaka, atau hanya sebuah minuman kesukaan, secangkir kopi taklah lebih berarti dari itu.

Tapi bagi saya, secangkir kopi, akhir-akhir ini sungguh punya makna yang dalam. Sebuah kenikmatan rasa yang berbeda. Rasa cinta, persaudaraan, emosi, penghargaan, ketulusan dan pengorbanan. Dan juga pastinya, sebuah cita rasa berbeda di lidah, karena konon, itu kopi bukan sembarang kopi, tapi kopi akar. Nah !

Secangkir kopi, setiap Selasa sore saya menikmatinya. Dari seduhan tangan seorang ibu mulia.

Menikmatinya setiap pekan di hari itu adalah sesuatu yang special bagi saya. Saya bisa menikmatinya jika saya memberi sedikit kesungguhan hati untuk datang ke rumah beliau sebelum pkl 17.00. Entahlah… saya bersegera ke sana, istijabah karena jadwal itu atau karena kerinduan akan suguhan secangkir kopi.

Sungguh, betapa menjadi istimewa bagiku, mendapat perlakuan khusus sajian kopi akarnya.

secangkir kopi

Sejak saat itu, entah mengapa, setiap kali saya mendapat sajian kopi, yang teringat adalah suasana rumah itu, senyum perempuan yang menyuguhkannya, kehangatan orang-orang yang datang setelahku.

Secangkir kopi bagi saya, sungguh mengaduk emosi. Dalam kepulan panasnya, ada wajah-wajah perindu syurga yang berkumpul bersenandung dan berbicara tentang kebaikan.

Saya menemukan sebuah ikatan emosi dalam secangkir kopi itu. Saya bukan siapa-siapa, saya sama seperti yang lainnya saudaraku. Hanya karena saya datang mendahului mereka, saya lah yang istimewa, mendapatkan secangkir kopi.

Awalnya biasa saja, tapi waktu bergulir, kebiasaan itu berulang. Dan sungguh saya menikmatinya.

Karena rindu, saya tak ingin melewatkan momen itu setiap pekannya.

Karena cinta, saya bersungguh hati mendapatkannya.

Hanya karena ketulusannya secangkir kopi itu membuatku kasmaran

Hanya karena penghargaannya secangkir kopi itu penuh bermakna.

Jangan pernah enggan melakukan hal-hal kecil. Bisa jadi kecil, sederhana tapi dilakukan dengan ikhlas dampaknya akan menjadi luar biasa.

Janga pernah mengabaikan hal-hal kecil. Belajar untuk saling menghargai, menghormati. Sesederhana apapun caranya.

Untuk mendapatkan sesuatu yang berbeda, butuh pengorbanan. Apresiasilah, sekecil apapun pengorbanannya.

Cinta, rasa persaudaraan, lebih terasa dalam ungkapan sikap. Maka tunjukkanlah rasa cintamu dalam tindakan.

Dan saya pun teringat kata-kata Rumi :
“Jika kau bukan seorang Pecinta, jangan pandang hidupmu adalah hidup. Sebab, tanpa cinta segala perbuatan tidak akan dihitung pada Hari Perhitungan nanti. Setiap waktu yang berlalu tanpa cinta, akan menjelma menjadi wajah yang memalukan di hadapan Tuhan”.

 

 

Untuk seorang naqib

28 Januari 2016

Dalam perjalanan Makassar ke Batavia

Al-Indhibath

Al-Indhibath

oleh Ust. Mujetaba Mustafa

pada acara jalasa ruhy akhwat

14 Rabiul Akhir 1436 H

 

Indhibat bukan saja bermakna disiplin. Tapi juga bermakna :

  1. Al Istiqomah
  2. Ash Shabr
  3. Ats Tsabat

 

Tujuan Instruksional Khusus :

1) Kita akan merasakan muraqabatullah melalui malaikat “tidak ada terucap kata-kata apapun kecuali ada malaikat yang mencatatnya”

 

2) Tidak sekedar ditetapkan 5 waktu sholat oleh Allah SWT tapi ada pelajarannya yakni memelihara

 

3) Melahirkan ‘adamul ‘inad.

 

4) Iltizam bi adabil isti’dzan (Annur : “siapa saja orang beriman tidak layak meninggalkan majlis jika belum meminta ijin, tapi dimintakan ampun kepada Allah SWT”)

 

5) Melahirkan kerapian, pengkondisian diri dengan akhlaq-akhlaq yang baik.

 

6) Mengikatkan diri dengan amal jamai.

Bersekutu pada pahala orang-orang yang ikhlas.

 

Indhibat : dhabata adalah sebuah suasana yang dirasakan oleh seseorang yang mampu menjaga kesempurnaan amal-amalnya.

Lafadz : al jiddiyah wa iltizam : kesungguhan dan komitmen.

Kesungguhan menperbaiki yang ditunaikannya dan usaha untuk memuliakan (ihtiram) hak-hak yang harus dipenuhi.

“Anggota tubuh punya hak”

Termasuk dalamnya : menghadirkan kemampuan hal yang disyariatkan, menghindari apa yang bisa membahayakan dirinya. Juga komitmen langkah demi langkah pada perkembangan yang lebih baik.

 

Indhibat itu muqarobah – apa saja yang dijadikan pendekatan untuk memiliki kemampuan dalam menunaikan amal, yang selalu terbatasi oleh waktu.

Suasana yang dirawat untuk memiliki kemampuan melaksanakan amal-amal yang dibatasi waktu.

 

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surah At-Taghabun ayat 16 :

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Indhibat yang akan mengantarkan kita pada ketaqwaan.

Fattaqullaha masthata’tum : diantaranya adalah dituntut kemampuan kita untuk merawat amal terkecil.

Bilal senantiasa menjaga sholat sunnah setelah wudhu

Amal yang terbaik adalah yang bisa menjaga kelanggengannya.

 

Mendayagunakan potensi semaksimal mungkin.

Mengarahkan potensi untuk menjaga diri dari kekikiran, termasuk kikir dalam menyebut nama saudara kita dalam doa-doa kita.

 

Katalisator indhibat : Taqwa. Ketika tidak berujung taqwa berarti itu hanya amalan duniawi.

Orang yang punya orientasi taqwa : assam’u waththa’ah.

“Karena kasih sayang yang Allah berikan, engkau menjadi lembut pada mereka”

QS Al Imran ; 159

Kalo ada yang lebih berhak marah maka Rasulullah yang paling berhak marah.

 

Panggung-panggung indhibat : majaalul indhibat

  1. Fii ‘ibadii waddin : urusan ibadah dan agama. Fardu dan sunnah.

Mengapa harus ada indhibat pada ibadah sunnah : dan kalo hambaku melanjutkan amalan fardunya dengan menjaganya dengan amalan sunnahnya, maka Aku mejadi tangannya, matanya, kakinya.

  1. Indhibat panggung sosial

Kehilangan sikap-sikap terbaiknya dalam masyarakat.

Ada yang ahli ibadah tapi sering menyakiti tetangganya, maka Rasulullah mengatakan : “dia tidak ke surga dengan sholat dan puasanya, tapi dia ke neraka dengan keburukan-keburukannya”

Selain memelihara ibadah, juga menjaga akhlak sosialnya.

Rasulullah menangis saat ada mayat Yahudi yang lewat : saya sedih karena ada yang meninggal dalam keadaan belum beriman sementara saya ada di sini.

 

  1. Manajemen kehidupan

Allah mencintai seseorang apabila melaksanakan pekerjaan dengan disiplin

Direncanakan dengan baik.

 

  1. Ekonomi

Harta dan anak-anak tidak membuat kita lalai pada dzikrullah

 

  1. Politik

Rasulullah SAW datang untuk mengungguli semuanya dengan integritas.

 

Mazhahirul indhibat : performa

  1. Melaksanakan tugas dengan baik – optimal

 

  1. Ashshabru — melipatgandakan kesabaran dan memikul beban.

     “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

    QS Al Ahzab ; 21

     

    Bahwa menurut tafsir Ibnu Katsir, inilah ayat yang paling dalam maknanya dalam meneladani Rasulullah ketika perang Ahdzab, tentang : kesabaran, pelipatgandaan kesabaran, jiddiyah, daya ikatnya dengan orang lain, optimisme terhadap jalan keluar dari Allah SWT.

 

  1. Fahmun daqiqan : pemahaman yang dalam. Pahami dulu perintah lalu laksanakan. Karena ingin selamat dalam mengeksekusi.

 

  1. Tidak butuh banyak berpikir yang diberikan pada dirinya meskipun saat itu bertentangan : istijabah fauriyah.

 

  1. Selalu nasehat menasehati, memberi masukan-masukan yang baik

 

  1. Sangat komitmen dalam urusan izin

 

  1. Membangun mizan diatas sikap-sikap kejamaahan.

Jamaah ini menghimpun kita untuk merindukan surga.

Di antara tampilan indhibat kita adalah memiliki antusias yang besar dalam menjaga keamanan dan keselamatan jamaah ini

 

  1. Meninggalkan kebiasaan improvisasi jika sudah jelas.

RANPERDA PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN

(Sebuah Harapan Reformasi Pendidikan Sulsel)

Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Penyelenggaraan Pendidikan Propinsi Sulawesi Selatan sementara dalam tahap pembahasan di DPRD.

Ranperda ini ingin mengatur keseluruhan penyelenggaraan pendidikan di Sulawesi Selatan (Sulsel), tapi sayangnya, ranperda ini tidak bisa memberikan gambaran kondisi pendidikan Sulsel 5 tahun ke depan atau 10 tahun ke depan, sebagai sebuah potret utuh apa yang terjadi dalam dunia pendidikan di Sulsel.

Jika penataan kewilayahan membutuhkan regulasi dalam bentuk Peraturan Daerah (Perda) Rencana Tata Ruang dan Wilayah, jika sektor pariwisata saja membutuhkan sebuah regulasi yang menjadi acuan dalam pengembangannya, maka bidang pendidikan-pun butuh sebuah grand design untuk memperjelas potret pendidikan di Sulsel dalam sebuah kurun waktu. Kita butuh master plan pendidikan, yang meyakinkan kita bahwa pemerintah propinsi memberi sebuah kepastian akan pembangunan pendidikan yang sistematik, menyeluruh dan terkendali.

Dalam naskah akademik Ranperda penyelenggaraan pendidikan ini memuat tentang urusan pemerintahan wajib bidang pendidikan yang menjadi kewenangan pemerintah daerah propinsi : pengelolaan pendidikan menengah.

Dalam rasio pendidik dan peserta didik, yang dikemukakan hanyalah tentang jumlahnya, sementara kualifikasi pendidik terabaikan. Padahal kualifikasi dan kompetensi pendidik menjadi amanat dari Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang dijabarkan dalam PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 16 TAHUN 2007 tentang STANDAR KUALIFIKASI AKADEMIK DAN KOMPETENSI GURU, yang menjelaskan bahwa Kualifikasi Akademik Guru SMA/MA atau bentuk lain yang sederajat, harus memiliki kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1) program studi yang sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan/diampu, dan diperoleh dari program studi yang terakreditasi.

Dalam hal ini, pemerintah propinsi harus menyampaikan data existing kondisi kualifikasi pendidik di Sulsel untuk menjadi bagian dari potret pendidikan kita di Sulsel saat ini dengan salah satu pendekatan indikator tenaga pendidik. Dengan begitu, pemerintah propinsi bisa membuat planning pada tahun berapa Sulsel mencapai 100% dari amanat Undang-Undang tersebut.

Demikian pula dengan pembangunan sarana prasarana pendidikan, hendaknya pemerintah propinsi mempunyai data tentang kondisi sarana belajar mengajar di semua sekolah yang menjadi kewenangan urusan pemerintah propinsi, juga mempunyai software untuk mengontrol alokasi biaya pembangunan fisik gedung sekolah, sehingga tidak terjadi tumpang tindih atau pembiayaan berulang pada obyek yang sama.

Dalam naskah akademiknya, Ranperda ini mengambil teori dari Talcott Parsons, bahwa sekolah adalah sarana sosial untuk membangun karakter individu agar memiliki komitmen dan kapasitas pribadi sebagai syarat yang esensial untuk berperan secara optimal dimasa yang akan datang. Parson juga menjadikan sekolah sebagai seleksi dan alokasi yang berfungsi mempersiapkan para peserta diidik untuk memasuki dunia kerja. Bagi Parson, sekolah adalah arena untuk kesamaan kesempatan. Sekolah berfungsi untuk memberi kesempatan interval dan institusional yang sama kepada peserta didik, diperlukan secara wajar dalam penilaian prestasi dari berbagai kemampuan dan motivasi.

Ketika kita konsisten dengan teori Parson diatas, maka kita akan bisa menemukan sebuah terobosan baru dengan paradigma Parson.

Pertama, sekolah dijadikan tempat untuk membangun karakter dan kapasitas anak didik untuk mampu berperan optimal di “masa depannya”. Berarti, sekolah dan seluruh perangkatnya harus mampu menjawab hal tersebut. Kurikulum menjadi poin penting dalam hal ini.

Kedua, sekolah mampu memberikan skill kepada peserta didik, agar mereka siap memasuki dunia kerja.

Ketiga, ada penilaian prestasi dari berbagai kemampuan dan motivasi. Penulis terkesan dengan ungkapan Deddy Corbuzer yang mengatakan : “mengapa anak-anak di sekolah dipaksa untuk punya nilai bagus pada semua bidang study, sementara gurunya sendiri tak mampu seperti itu. Guru fisika, ketika diminta belajar geografi, apakah sang guru bisa menerima dengan bahagia? Atau guru olahraga diminta untuk menghafalkan rumus-rumus kimia ? Apa sang guru bisa mendapatkan nilai yang memuaskan ?

Membayangkan apa yang menjadi tema diskusi penulis dengan seorang kolega di pansus penyelenggaraan pendidikan, bahwa pemerintah propinsi sudah selayaknya memiliki SMK berbasis Sumber Daya Alam (SDA) daerah di masing-masing  kabupaten di Sulsel. Misalnya : Barru ada SMK Peternakan karena di sana ada PT Puli – perusahaan peternakan terbesar di Sulsel. Atau Sidrap dengan SMK Pertaniannya, Toraja dengan SMK Pariwisatanya, Bantaeng dengan SMK Kelautan atau Agro, semua berbasis potensi daerah, sehingga Sumber Daya Manusia (SDM) yang lahir dari sekolah tersebut memiliki lapangan kerja yang luas. Ada pengembangan teknologi berbasis sumber daya alam lokal.

Sidrap bisa menciptakan bibit padi yang unggul, SDM keluarannya menjadi petani modern berbasis teknologi terbaru. Itu lebih terhormat bagi generasi muda kita, dibanding mereka harus ke kota, meninggalkan sumber daya alamnya, sekolah hanya sebuah formalitas, mengejar sebuah ijazah tanpa skill. Semntara sumber daya alam dibiarkan tergarap konvensional tanpa sentuhan kecerdasan.

Apapun yang akan dilakukan oleh pemerintah propinsi dalam bidang pendidikan, sebaiknya ada sebuah acuan – master plan – pendidikan. Ini juga akan memudahkan bagi DPRD -sebagai fungsi kontrol – untuk mengawasi proses pembangunan pendidikan di Sulsel.

Rupert C. Lodge menyatakan bahwa “Life is education, and education is life”. Pendidikan adalah kehidupan dan kehidupan adalah pendidikan. Oleh karena itulah butuh kajian yang mendalam atas penyelenggaraan pendidikan di Sulsel.

PEMANDANGAN UMUM FRAKSI PARTAI KEADILAN SEJAHTERA

PEMANDANGAN UMUM FRAKSI PARTAI KEADILAN SEJAHTERA

TERHADAP

RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI SULAWESI SELATAN

TENTANG:

  1. RENCANA TATA RUANG KAWASAN TERPADU PUSAT BISNIS, SOSIAL, BUDAYA DAN PARIWISATA CENTER POINT OF INDONESIA ( PUSAT BISNIS TERPADU INDONESIA )
  2. PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN
  3. PENGARUSUTAMAAN GENDER

HADIRIN PESERTA RAPAT PARIPURNA YANG KAMI HORMATI

Pemandangan Umum Fraksi Partai Keadilan Sejahtera terhadap Rancangan Peraturan Daerah Tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Terpadu Pusat Bisnis, Sosial, Budaya dan Pariwisata Center Point of Indonesia (Pusat Bisnis Terpadu Indonesia)
Bapak Gubernur Yang Kami Hormati
Program Legislasi Daerah (Prolegda) Provinsi Sulawesi Selatan 2015 yang telah ditetapkan atas kesepakatan bersama antara DPRD dengan Pemerintah Provinsi salah satunya adalah Prolegda Tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Provinsi dan tidak secara spesifik menyebutkan Kawasan Terpadu Pusat Bisnis, Sosial, Budaya dan Pariwisata Center Point of Indonesia (Pusat Bisnis Terpadu). Sesuai dengan Prolegda dimaksud, Fraksi Partai Keadilan Sejahtera memandang bahwa ketika akan dilanjutkan dengan pembahasan Ranperda usulan Pemerintah maka esensi isi yang akan dibahas adalah mengenai Kawasan Strategis Provinsi Sulawesi Selatan dan tidak spesifik membahas satu kawasan apalagi hanya salah satu bagian dari 2 kecamatan di Kota Makassar. Bukankah untuk menyusun sebuah Ranperda harus sesuai dengan prolegda yang telah ditetapkan bersama ?
Mohon penjelasan Bapak Gubernur.
Khusus terkait pembangunan di kawasan Center Point of Indonesia, saat ini telah menggunakan APBD lebih dari Rp 160 Milliar. Selain itu, terdapat lahan lebih dari 12 Hektar bersertifikat atas nama Pemerintah Propinsi Sulawesi Selatan. Saat ini, Pemerintah Propinsi Sulawesi Selatan telah melakukan perjanjian kerjasama dengan Pihak Ketiga dengan tidak pernah melibatkan DPRD Sulawesi Selatan. Pembangunan dikawasan Center Point of Indonesia -pun sejak awal tidak tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Sulawesi Selatan Tahun 2008-2013 dan baru dimasukkan ke dalam Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Tahun 2013-2018 baru-baru ini. Meskipun APBD tetap dimasukkan dalam pelaksanaan pembangunan dengan memcatumkan bahwa kawasan Center Point of Indonesia sebagai bagian dari Mamminasata.
Fraksi kami sangat khawatir terhadap hal ini. Apakah suatu peraturan yang dibuat hanya untuk menjadi pembenaran atau payung hukum sesuatu hal yang sebelumnya tidak ada dan pembenaran atas suatu tindakan yang akan kita laksanakan?
Fraksi Partai Keadilan Sejahtera berpandangan bahwa kawasan Center Point of Indonesia yang selama ini diikutkan sebagai bagian dari Peraturan Presiden Republik Indonesiaa Nomor 55 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan Makassar, Maros, Sungguminasa, dan Takalar. Dengan demikian supaya lebih efektif dan cakupan Ranperda ini lebih mencakup kewenangan menyeluruh atas wilayah Sulawesi Selatan, maka akan lebih baik bila kandungan isi dari Ranperda tidak secara spesifik mengatur Center Point of Indonesia, akan tetapi seluruh kawasan strategis di Sulawesi Selatan, salah satunya adalah Kawasan Mamminasata yang didalamnya juga terdapat Center Point of Indonesia .
Fraksi Partai Keadilan Sejahtera berpandangan bahwa lingkup Peraturan Daerah harus mencakup Sulawesi Selatan secara keseluruhan bukan hanya mengatur salah satu daerah saja di Sulawesi Selatan apalagi hanya akan mengatur bagian dari 2 Kecamatan di salah satu kota/kabupaten di Sulawesi Selatan. Hal ini selain tidak efektif, juga menunjukkan ketidakpedulian dari Pemerintah Provinsi atas keseimbangan pembangunan antar kawasan di Sulawesi Selatan. Terhadap hal tersebut, kami mohon penjelasan dari Bapak Gubernur.
Selanjutnya kami Fraksi Partai Keadilan Sejahtera sangat mengharapkan agar kiranya Ranperda yang diajukan disesuaikan dengan Prolegda dan lebih diperluas mencakup kawasan strategis yang lain. Mengingat Ranperda ini sangat strategis kami berharap Pansus diberikan waktu yang cukup untuk menelaah dan sekaligus membahas dengan Satuan Kerja Perangkat Daerah dan pihak terkait lainnya.
Sidang Paripurna yang Terhormat
Terkait dengan Rancangan Peraturan Daerah Tentang Penyelenggaraan Pendidikan, kita semua menyadari saat ini kita dihadapkan pada tantangan-tantangan, baik tantangan dari dalam (internal) diantaranya: demokratisasi pendidikan, desentralisasi manajemen pendidikan, dan kualitas pendidikan. Maupun tantangan global yaitu pendidikan yang kompetitif dan inovatif. Untuk dapat survive, bangsa ini membutuhkan kualitas individu yang dapat berkompetisi. Kemampuan berkompetisi hanya mungkin dihasilkan oleh pendidikan yang kondusif dan efektif, peserta didik yang terlatih, mempunyai skill yang memadai, dan berketerampilan hidup.

Untuk itu Fraksi kami meminta penjelasan dalam beberapa hal :

1. Menelaah naskah akademik yang diajukan Pemerintah Propinsi Sulawesi Selatan, pada Bab V ( Jangkauan, Arah Pengaturan, Dan Ruang Lingkup Materi Muatan Peraturan Daerah Propinsi ), pada bagian A ( Sasaran Yang Akan Diwujudkan) alenia kedua disebutkan bahwa sasaran yang hendak diwujudkan melalui Peraturan Daerah tentang Penyelenggaraan Pendidikan antara lain adalah :
a. Meningkatnya akses masyarakat terhadap pelayanan pendidikan menengah dan Pendidikan khusus di Propinsi Sulawesi Selatan secara merata dan terjangkau.
b. Meningkatnya mutu penyelenggaraan pendidikan dan daya saing luaran pendidikan menengah dan pendidikan khusus serta relevansinya dengan kebutuhan dan/atau kondisi masyarakat di Propinsi Sulawesi Selatan.
c. Terselenggarakannya pendidikan menengah dan pendidikan khusus di Propinsi Sulawesi Selatan secara efisien,efektif dan akuntabel.
d. Terlaksananya penyelenggaraan pendidikan yang selaras dan berkelanjutan melalui fasilitasi serta dukungan peningkatan kapasitas pendidik, tenaga kependidikan dan/atau peserta didik.

Artinya, Ranperda ini tidak perlu berisi pasal-pasal yang tidak relevan dengan pendidikan menengah dan pendidikan khusus, seperti di paragraf 2 pasal 20 (pendidikan dasar), paragraf 4 pasal 28 (pendidikan tinggi).
Mohon penjelasan Bapak Gubernur mengenai hal ini.

2. Ada ketidakselarasan antara Tujuan Muatan Lokal (Bab VI, pasal 46) dengan Lingkup Materi Kurikulum Muatan Lokal (Bab VI, pasal 48)
• Dimana pada Pasal 46, disebutkan bahwa Muatan Lokal bertujuan untuk membentuk PEMAHAMAN TERHADAP POTENSI DAERAH masing-masing yang bermanfaat untuk memberikan bekal sikap, perilaku, etos kerja, pengetahuan, dan keterampilan kepada peserta didik agar :
a. Mengenal dan mencintai LINGKUNGAN ALAM, SOSIAL BUDAYA dan NILAI SPIRITUAL setempat, dan;
b. Melestarikan dan mengembangkan KEUNGGULAN serta KEARIFAN LOKAL yang berguna bagi diri dan lingkungannya dalam rangka menunjang pembangunan daerah dan pembangunan nasional.
• Sementara lingkup muatan lokal, antara lain meliputi : seni budaya, prakarya, pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan, bahasa dan/atau teknologi.

Fraksi kami berpendapat bahwa untuk membentuk pemahaman terhadap Potensi Daerah, keunggulan dan kearifan nya, maka seharusnya dipenuhi dari lingkup muatan tentang SEJARAH, ILMU ALAM (geologi, iklim, vegetasi, dst), ILMU SOSIAL (adat istiadat, sosiologi, budaya, dst), SAINS atau lingkup pelajaran lainnya yang lebih relevan. Mohon penjelasan Bapak Gubernur.

3. Tidak bisa dipungkiri bahwa upaya peningkatan mutu pendidikan akan terakselerasi melalui kemitraan/kerjasama dan partisipasi dari kalangan swasta. Kebijakan pelibatan swasta sebagaimana telah dibahas urgensinya dalam naskah akademik tampaknya belum dituangkan dalam Rancangan Peraturan Daerah ini, mohon penjelasan Bapak Gubernur.

Jika penataan kewilayahan membutuhkan regulasi dalam bentuk Perda Tata Ruang dan Wilayah, jika sektor pariwisata saja membutuhkan sebuah regulasi yang menjadi acuan dalam pengembangannya, maka bidang pendidikan pun membutuhkan sebuah grand design untuk memperjelas potret pendidikan di Sulawesi Selatan dalam sebuah kurun waktu. Kita butuh master plan pendidikan, yang meyakinkan kita bahwa pemerintah propinsi memberi sebuah kepastian akan pembangunan pendidikan yang sistemik, menyeluruh dan terkendali.

Hadirin Sidang Paripurna yang Mulia
Terkait dengan Rancangan Peraturan Daerah Tentang Pengarusutamaan Gender, Fraksi kami menanyakan beberapa hal untuk penyempurnaanya.
1. Terkait dengan monitoring dan evaluasi pelaksanaan kebijakan Pengarusutamaan Gender di ruang lingkup Pemerintah Propinsi, Fraksi kami memandang perlu adanya indikator capaian implementasi atas Pengarusutamaan Gender. Dalam Ranperda tersebut belum dicantumkan.

2. Sebagai bentuk fungsi kontrol DPRD, Fraksi kami meminta penjelasan terkait eksisting Pengarusutamaan Gender di Sulawesi Selatan saat ini. Fraksi kami memandang penting, untuk menjadi bahan pembanding setelah Ranperda Pengarusutamaan Gender menjadi kebijakan kolektif di Sulawesi Selatan.

3. Sebagai bentuk keseriusan Pemerintah Propinsi Sulawesi Selatan atas kebijakan terhadap isu-isu Pengarusutamaan Gender, hendaknya dalam Ranperda tersebut ada klausul tentang persentase alokasi anggaran pro-gender dalam setiap Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Propinsi Sulawesi Selatan.

Sidang Paripurna Yang Mulia
Demikianlah Pemandangan Umum dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera. Semoga Allah memberikan petunjuk-Nya kepada kita dalam menjalankan amanah rakyat Sulawesi Selatan yang sama-sama kita cintai.
Assalamu ‘Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu.

 

Makassar, 14 Desember 2015

Juru Bicara,

 

Hj. Sri Rahmi, S.A.P., M.Adm. K.P

PEMANDANGAN UMUM FRAKSI PARTAI KEADILAN SEJAHTERA

PEMANDANGAN UMUM FRAKSI PARTAI KEADILAN SEJAHTERA

TERHADAP

RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI SULAWESI SELATAN

TENTANG:

  1. RENCANA TATA RUANG KAWASAN TERPADU PUSAT BISNIS, SOSIAL, BUDAYA DAN PARIWISATA CENTER POINT OF INDONESIA ( PUSAT BISNIS TERPADU INDONESIA )
  2. PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN
  3. PENGARUSUTAMAAN GENDER

HADIRIN PESERTA RAPAT PARIPURNA YANG KAMI HORMATI

Pemandangan Umum Fraksi Partai Keadilan Sejahtera terhadap Rancangan Peraturan Daerah Tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Terpadu Pusat Bisnis, Sosial, Budaya dan Pariwisata Center Point of Indonesia (Pusat Bisnis Terpadu Indonesia)
Bapak Gubernur Yang Kami Hormati
Program Legislasi Daerah (Prolegda) Provinsi Sulawesi Selatan 2015 yang telah ditetapkan atas kesepakatan bersama antara DPRD dengan Pemerintah Provinsi salah satunya adalah Prolegda Tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Provinsi dan tidak secara spesifik menyebutkan Kawasan Terpadu Pusat Bisnis, Sosial, Budaya dan Pariwisata Center Point of Indonesia (Pusat Bisnis Terpadu). Sesuai dengan Prolegda dimaksud, Fraksi Partai Keadilan Sejahtera memandang bahwa ketika akan dilanjutkan dengan pembahasan Ranperda usulan Pemerintah maka esensi isi yang akan dibahas adalah mengenai Kawasan Strategis Provinsi Sulawesi Selatan dan tidak spesifik membahas satu kawasan apalagi hanya salah satu bagian dari 2 kecamatan di Kota Makassar. Bukankah untuk menyusun sebuah Ranperda harus sesuai dengan prolegda yang telah ditetapkan bersama ?
Mohon penjelasan Bapak Gubernur.
Khusus terkait pembangunan di kawasan Center Point of Indonesia, saat ini telah menggunakan APBD lebih dari Rp 160 Milliar. Selain itu, terdapat lahan lebih dari 12 Hektar bersertifikat atas nama Pemerintah Propinsi Sulawesi Selatan. Saat ini, Pemerintah Propinsi Sulawesi Selatan telah melakukan perjanjian kerjasama dengan Pihak Ketiga dengan tidak pernah melibatkan DPRD Sulawesi Selatan. Pembangunan dikawasan Center Point of Indonesia -pun sejak awal tidak tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Sulawesi Selatan Tahun 2008-2013 dan baru dimasukkan ke dalam Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Tahun 2013-2018 baru-baru ini. Meskipun APBD tetap dimasukkan dalam pelaksanaan pembangunan dengan memcatumkan bahwa kawasan Center Point of Indonesia sebagai bagian dari Mamminasata.
Fraksi kami sangat khawatir terhadap hal ini. Apakah suatu peraturan yang dibuat hanya untuk menjadi pembenaran atau payung hukum sesuatu hal yang sebelumnya tidak ada dan pembenaran atas suatu tindakan yang akan kita laksanakan?
Fraksi Partai Keadilan Sejahtera berpandangan bahwa kawasan Center Point of Indonesia yang selama ini diikutkan sebagai bagian dari Peraturan Presiden Republik Indonesiaa Nomor 55 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan Makassar, Maros, Sungguminasa, dan Takalar. Dengan demikian supaya lebih efektif dan cakupan Ranperda ini lebih mencakup kewenangan menyeluruh atas wilayah Sulawesi Selatan, maka akan lebih baik bila kandungan isi dari Ranperda tidak secara spesifik mengatur Center Point of Indonesia, akan tetapi seluruh kawasan strategis di Sulawesi Selatan, salah satunya adalah Kawasan Mamminasata yang didalamnya juga terdapat Center Point of Indonesia .
Fraksi Partai Keadilan Sejahtera berpandangan bahwa lingkup Peraturan Daerah harus mencakup Sulawesi Selatan secara keseluruhan bukan hanya mengatur salah satu daerah saja di Sulawesi Selatan apalagi hanya akan mengatur bagian dari 2 Kecamatan di salah satu kota/kabupaten di Sulawesi Selatan. Hal ini selain tidak efektif, juga menunjukkan ketidakpedulian dari Pemerintah Provinsi atas keseimbangan pembangunan antar kawasan di Sulawesi Selatan. Terhadap hal tersebut, kami mohon penjelasan dari Bapak Gubernur.
Selanjutnya kami Fraksi Partai Keadilan Sejahtera sangat mengharapkan agar kiranya Ranperda yang diajukan disesuaikan dengan Prolegda dan lebih diperluas mencakup kawasan strategis yang lain. Mengingat Ranperda ini sangat strategis kami berharap Pansus diberikan waktu yang cukup untuk menelaah dan sekaligus membahas dengan Satuan Kerja Perangkat Daerah dan pihak terkait lainnya.
Sidang Paripurna yang Terhormat
Terkait dengan Rancangan Peraturan Daerah Tentang Penyelenggaraan Pendidikan, kita semua menyadari saat ini kita dihadapkan pada tantangan-tantangan, baik tantangan dari dalam (internal) diantaranya: demokratisasi pendidikan, desentralisasi manajemen pendidikan, dan kualitas pendidikan. Maupun tantangan global yaitu pendidikan yang kompetitif dan inovatif. Untuk dapat survive, bangsa ini membutuhkan kualitas individu yang dapat berkompetisi. Kemampuan berkompetisi hanya mungkin dihasilkan oleh pendidikan yang kondusif dan efektif, peserta didik yang terlatih, mempunyai skill yang memadai, dan berketerampilan hidup.

Untuk itu Fraksi kami meminta penjelasan dalam beberapa hal :

1. Menelaah naskah akademik yang diajukan Pemerintah Propinsi Sulawesi Selatan, pada Bab V ( Jangkauan, Arah Pengaturan, Dan Ruang Lingkup Materi Muatan Peraturan Daerah Propinsi ), pada bagian A ( Sasaran Yang Akan Diwujudkan) alenia kedua disebutkan bahwa sasaran yang hendak diwujudkan melalui Peraturan Daerah tentang Penyelenggaraan Pendidikan antara lain adalah :
a. Meningkatnya akses masyarakat terhadap pelayanan pendidikan menengah dan Pendidikan khusus di   Propinsi Sulawesi Selatan secara merata dan terjangkau.
b. Meningkatnya mutu penyelenggaraan pendidikan dan daya saing luaran pendidikan menengah dan pendidikan khusus serta relevansinya dengan kebutuhan dan/atau kondisi masyarakat di Propinsi Sulawesi Selatan.
c. Terselenggarakannya pendidikan menengah dan pendidikan khusus di Propinsi Sulawesi Selatan secara efisien,efektif dan akuntabel.
d. Terlaksananya penyelenggaraan pendidikan yang selaras dan berkelanjutan melalui fasilitasi serta dukungan peningkatan kapasitas pendidik, tenaga kependidikan dan/atau peserta didik.

Artinya, Ranperda ini tidak perlu berisi pasal-pasal yang tidak relevan dengan pendidikan menengah dan pendidikan khusus, seperti di paragraf 2 pasal 20 (pendidikan dasar), paragraf 4 pasal 28 (pendidikan tinggi).
Mohon penjelasan Bapak Gubernur mengenai hal ini.

2. Ada ketidakselarasan antara Tujuan Muatan Lokal (Bab VI, pasal 46) dengan Lingkup Materi Kurikulum Muatan Lokal (Bab VI, pasal 48)
• Dimana pada Pasal 46, disebutkan bahwa Muatan Lokal bertujuan untuk membentuk PEMAHAMAN TERHADAP POTENSI DAERAH masing-masing yang bermanfaat untuk memberikan bekal sikap, perilaku, etos kerja, pengetahuan, dan keterampilan kepada peserta didik agar :
a. Mengenal dan mencintai LINGKUNGAN ALAM, SOSIAL BUDAYA dan NILAI SPIRITUAL setempat, dan;
b. Melestarikan dan mengembangkan KEUNGGULAN serta KEARIFAN LOKAL yang berguna bagi diri dan lingkungannya dalam rangka menunjang pembangunan daerah dan pembangunan nasional.
• Sementara lingkup muatan lokal, antara lain meliputi : seni budaya, prakarya, pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan, bahasa dan/atau teknologi.

Fraksi kami berpendapat bahwa untuk membentuk pemahaman terhadap Potensi Daerah, keunggulan dan kearifan nya, maka seharusnya dipenuhi dari lingkup muatan tentang SEJARAH, ILMU ALAM (geologi, iklim, vegetasi, dst), ILMU SOSIAL (adat istiadat, sosiologi, budaya, dst), SAINS atau lingkup pelajaran lainnya yang lebih relevan. Mohon penjelasan Bapak Gubernur.

3. Tidak bisa dipungkiri bahwa upaya peningkatan mutu pendidikan akan terakselerasi melalui kemitraan/kerjasama dan partisipasi dari kalangan swasta. Kebijakan pelibatan swasta sebagaimana telah dibahas urgensinya dalam naskah akademik tampaknya belum dituangkan dalam Rancangan Peraturan Daerah ini, mohon penjelasan Bapak Gubernur.

Jika penataan kewilayahan membutuhkan regulasi dalam bentuk Perda Tata Ruang dan Wilayah, jika sektor pariwisata saja membutuhkan sebuah regulasi yang menjadi acuan dalam pengembangannya, maka bidang pendidikan pun membutuhkan sebuah grand design untuk memperjelas potret pendidikan di Sulawesi Selatan dalam sebuah kurun waktu. Kita butuh master plan pendidikan, yang meyakinkan kita bahwa pemerintah propinsi memberi sebuah kepastian akan pembangunan pendidikan yang sistemik, menyeluruh dan terkendali.

Hadirin Sidang Paripurna yang Mulia
Terkait dengan Rancangan Peraturan Daerah Tentang Pengarusutamaan Gender, Fraksi kami menanyakan beberapa hal untuk penyempurnaanya.
1. Terkait dengan monitoring dan evaluasi pelaksanaan kebijakan Pengarusutamaan Gender di ruang lingkup Pemerintah Propinsi, Fraksi kami memandang perlu adanya indikator capaian implementasi atas Pengarusutamaan Gender. Dalam Ranperda tersebut belum dicantumkan.

2. Sebagai bentuk fungsi kontrol DPRD, Fraksi kami meminta penjelasan terkait eksisting Pengarusutamaan Gender di Sulawesi Selatan saat ini. Fraksi kami memandang penting, untuk menjadi bahan pembanding setelah Ranperda Pengarusutamaan Gender menjadi kebijakan kolektif di Sulawesi Selatan.

3. Sebagai bentuk keseriusan Pemerintah Propinsi Sulawesi Selatan atas kebijakan terhadap isu-isu Pengarusutamaan Gender, hendaknya dalam Ranperda tersebut ada klausul tentang persentase alokasi anggaran pro-gender dalam setiap Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Propinsi Sulawesi Selatan.

Sidang Paripurna Yang Mulia
Demikianlah Pemandangan Umum dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera. Semoga Allah memberikan petunjuk-Nya kepada kita dalam menjalankan amanah rakyat Sulawesi Selatan yang sama-sama kita cintai.
Assalamu ‘Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu.

                                                                                                                                                  Makassar, 14 Desember 2015

                                                                                                                                                                        Juru Bicara,

 

Hj. Sri Rahmi, S.A.P., M.Adm. K.P

Untukmu Ibu

Dalam jejak kasihmu

Ada kami dalam hidupmu
Menikmati belaianmu
Sempurna dalam senyummu .

Dalam rangkaian kasihmu
Ada kami dalam rangkulanmu
Menikmati tatapanmu
Sempurna dalam kehangatanmu.

Keindahan cinta kau ajarkan
Kehangatan keluarga kau wariskan
Ketegaran kau teladankan
Sendiri menanggung, hidup dengan sayap yang rak utuh

Kau perempuan setia menyimpan cinta
Kami akan mengikutimu
Kau perempuan tegar menanggung duka
Kami melihatmu
Kau perempuan yang penuh cinta
Untuk itu, kami harus mencintaimu lebih dari cintamu pada kami

Untukmu Ibu
Kumencintaimu dengan segala hati kami
Kumenyayangimu dengan segenap jiwa kami

Maafkan kami jika cinta kami belum sempurna.

Selamat ulang tahun yang ke 70
Doa terbaik untukmu Ibu

Love dari Makassar ❤️
Bani Setiawan

Makassar, 14 Desember 2015

Sajak Pejuang

Salam ‘alaika yaa pejuang

Engkau telah bekerja
Kita telah berkeringat bersama
Kalian telah menyaksikannya
Atas itu semua akan berbuah pahala

Jalan jalan telah engkau lewati
Kelokan demi kelokan telah kami rasakan
Desa demi desa telah menjadi saksi kehadiran kita
Bukit dan gunung telah engkau taklukkan
Sungai dan laut telah engkau belah dengan semangatmu
Batu dan pasir menjadi saksi perjalanan kita
Berdebu dan berderu sepanjang jalan
Semua menjadi saksi perjuangan kita.

Sahabat…
Aku tahu, masa ini ada mimpi yang terwujud
Ada impian yang tertunda nyatanya.
Itu hanya tentang waktu
Itu hanya tentang takdir
Karena engkau pejuang yang sesungguhnya
Bagi kalian yang telah bertarung sepenuh jiwa.

Sahabat…..
Ada sedih bagi impian yang tertunda
Tapi yakinkan aku, itu hanya sedih dalam jenak waktu yang singkat
Karena aku tak ingin melihatmu murung padahal kau seorang pejuang.

Saudaraku….
Tahukah engkau, bahwa kau tak sendiri
Menang kalahmu kita tetap bersama
Karena kita adalah saudara.

Sahabatku…
Engkau telah mengajarkan pada kami
Tentang nilai perjuangan
Tentang takaran pengorbanan
Tentang daya pertarungan.
Kami memberi penghormatan untukmu pejuangku.

Sambutlah harimu dengan senyum.
Berdiri setegar karang
Karena engkau adalah pejuang.

Gowa, 10 Desember 2015

Catatan Kecil Pilkada 2015

PDIP lebih siap
Walaupun sepenuhnya tidak betul, tapi inilah pembacaan saya selama proses pemenangan pilkada tahun ini.

Dari roadshow pilkada yang saya lakukan, saya mengamati PDIP yang paling siap menghadapi event ini.

DPPnya membuat kebijakan, anggota DPR RI harus kembali ke dapil untuk memenangkan pilkada di dapilnya.
Anggota DPR RI tidak boleh ada yang ke luar negeri jelang pilkada, semua harus fokus ke daerah pilkadanya.

Khusus Soppeng, saya mengamati aleg DPR RI nya demikian agresif.
Samsu Niang, dari dapil Sulsel 2 DPR RI, memback up SDM saksi. Ini sebuah langkah awal memegang kendali dan membangun jaringan untuk dirinya.
Pada pilkada tahun ini, dia menggarap dua daerah ( Pangkep & Soppeng ) sebagai basis suaranya untuk periode berikutnya menuju DPR RI.
Tokoh-tokohnyapun diturunkan saat kampanye akbar.
Nyaris tak ada panggung kampanye yang tidak disentuh oleh DPPnya.

PDIP cermat memilih lokus untuk dipush. Ini cara dia untuk menanamkan cengkramannya pada penguasa ( calon kuat ).

Gerindra lain lagi.

Penokohan Prabowo ditonjolkan. Dengan modal rekaman suara yang hanya berdurasi kurang dari 5 menit, Prabowo berhasil “hadir” di tengah keriuhan kampanye-kampanye akbar usungannya.
Suaranya yang khas, menggema lewat loudspeaker panggung, menyapa massa, yang disambut dengan gemuruh tepuk tangan.
Sepele, tapi cerdas mengambil momen.
Bukan hal yang baru. Bedanya adalah, Gerindra melakukannya, yang lain tidak.
Tak cukup dengan itu, Prabowo pun hadir dengan surat terbukanya yang ditulis tangan sendiri oleh Prabowo & dibacakan oleh kadernya di panggung-panggung kampanye.
Itulah Prabowo, berhasil menghadirkan kharismanya di hadapan massa tanpa harus hadir secara fisik.

google-site-verification: googlee1504fd57faec694.html

Design by pakmustain.info