Kisah Gajah Mada

Yakin yang tersamarkan, jika Dhya Wiyat ada dibalik perang Bubat.

Saya menemukan benang merahnya ketika ramalan Dang Acarya Dharmaraja – sang Budha – diungkapkan oleh Dhiyah Wiyat.
Dhiyah Wiyat memang menyimpan obsesi kegemilangan Sri Sudewi ( putrinya ). Kegemilangan yang diramalkan bagi Dhyah Wiyat adalah kedudukan permaisuri untuk putrinya. Permaisuri raja Majapahit yang tak lain adalah keponakannya sendiri.
Kematian Dyah Pitaloka menjadikan mimpinya hidup kembali.
Ketakjuban yang tak berakhir, untuk karya2 Langit Kresna Hariadi.
Mampu mengombakkan perasaan pembaca dengan ragam konflik cinta di edisi ke 5 Gajah Mada ini.
Endingnya menakjubkan. Semua ihwal terurai habis di edisi ini. Tokoh Bhayangkara yang bertahan di semua edisinya, tetap berjaya di edisi ke 5 ini.
Kanuruhan Gajah Enggon, Pasangguhan Gagak Bongol, Tumenggung Macan Liwung, Pradhabasu adalah Bhayangkara generasi awal Majapahit.
Kisah cinta Dhya Menur – Kudamerta tuntas tak sisakan jejak di hati Dhya Menur.
Kisah cinta anak-anak mereka yang berakhir bahagia.
Kecuali anak semata wayang Gajah Enggon – Kuda Sagara – Bhayangkara yang mengakhiri hidupnya dengan sebuah pengkhianatan hanya karena cintanya pada seorang perempuan Sunda.
Rasa penasaran tentang kisah Prajaka & Saniscara terjawab tuntas. Laki-laki dibalik asmara sekar kedaton Sunda Galuh – Dhya Pitaloka – yang juga calon istri Hayam Wuruk.
Akhirnya, edisi Gajah Mada ini diakhiri dengan kehebatan seorang Mahapatih
Dalam pengasingannya di Sapih – yang dinamainya Madakaripura – Gajah Mada tetap membuktikan sumpahnya untuk meninggalkan perempuan dalam hidupnya.
Sekalipun sudah terhukum karena perang Bubat, dampar Mahapatih Majapahit tak tergantikan.
Akhirnya, Prabu Hayam Wuruk kembali meminta Gajah Mada untuk kembali menduduki damparnya yang setahun kosong karena ditinggal terhukum Gajah Mada.
Yang menarik, LKH mengangkat sekilas tentang perkenalan Gajah Mada dengan agama Islam dalam perjalanannya menuju tempat pengasingan.
Akhirnya, kisah Gajah Mada terlipat rapi dalam sejarah Majapahit. Tak meninggalkan jejak tersamar sekalipun dari asal usul sang Mahapatih Amangkubumi Rakriyan Gajah Mada.
Luar biasa LKH. Tokoh2 Bhayangkara dalam ceritanya sungguh hidup & mampu menjalinkan emosi pembaca.
Hidup sehidup karya seni Prajaka.
Utuh seutuh lukisan Saniscara.
Sungguh sebuah bacaan yang sangat bertanggungjawab dalam teliti sejarahnya. Penelitian ilmiah, menyusuri jejak Majapahit, keindahan sastra, ketekunan & imajinasi menjadi satu dalam karyanya.
Seandainya ini menjadi buku pegangan guru sejarah atau guru sastra …..
Ah sudahlah…..
Aku bukan guru, tapi aku akan mengisahkannya pada anak2 Indonesia di setiap kesempatan yang aku bisa.
Termasuk menuliskannya di “dinding”ku ini.
Semoga Anda terinspirasi.
Tapi sepertinya pikiranku terlampau cepat melukiskan kehebatan Gajah Mada, meninggalkan lidahku yang kelu kehilangan kata.
Bibirku kaku, tak mampu mengikuti khayalanku tentang wibawa Gajah Mada.
Mulutku hanya bisa membuka kosong tanpa suara, tak mampu menjejeri perasaan kagumku pada keberanian sosok Gajah Mada.
Sepertinya, sebelum konsonan vokal itu berderet keluar dari bibirku, huruf-huruf itu akan kembali ke asal bunyinya karena tak mampu mewakili kehebatan Gajah Mada.
Sekalipun dibalik itu, saya tetap menyimpan catatan kelamnya sebagai laki-laki.
‪#‎inspirasibunda‬

Ketika rindu itu menghentak

Ketika rindu itu menghentak
Mencari wajah yang menguasai indra
Tiba-tiba saja semua menjadi tak indah
Karena keindahan itu sudah terkuasai oleh yang terindu.

Ketika cinta itu menuntut
Meminta lebih dari sekedar kata
Tak cukup dengan kosa.
Tiba-tiba saja indra mendengar hilang tanpa ritme
Karena cinta itu tentang rasa, tentang ekspresi.
Kamis, 28 April 2016
#inspirasibunda

Puisi Malam

Gelap membungkus bumi
Bulanpun pelan beranjak dari puncaknya
Beberapa jenak lagi, hari esok dimulai.

Ada yang harus kutinggalkan hari ini
Catatan tentang dosa kecilku, sekalipun.
Mungkin karena lancang lisanku
Aku harus menanggung siksa berdera-dera.

Ampunkan aku wahai Rabbku
Atas pengendalian yang lemah dari lisanku

Aku harus menjadi tuan yang baik bagi hati dan pikiranku.

selamat malam sahabatku…

#inspirasibunda

Ken Arok

Dalam perjalanan kisah seorang tokoh besar, Ken Arok, dari seorang perusuh, designer perang, politisi, negarawan ada seorang Mpu Lehgowo dari brahmana yang menjadi otak runtuhnya Tunggul Ametung Akuwu Tumapel.

Paduan yang apik, Ken Arok yang punya sifat ksatria, dan Mpu Lehgowo pemilik kebijaksanaan.
Ken Arok pemuda yang cerdas & energik, Mpu Lehgowo orangtua yang menjadi “ulama” Syiwa, pemilik kalimat pencerah.

Atas skenario Mpu Lehguwu, Arok berhasil masuk ke pusat kerajaan Tumapel.
Atas masehat Mpu Lehgowo, Arok membunuh musuhnya dengan tangan orang lain.
Kecerdasannya, membuat adu domba antara Mpu Gandring, Kebo Ijo, Belakangka ( perwakilan Kediri di Tumapel ) begitu apik tak berjejak.

Arok, yang dalam dirinya dilukiskan sebagai figur yang sempurna, orang sudra, yang memiliki sikap satria, berhati brahmana.

Sejak usia 15 tahun, Ken Arok sudah mengorganisir perlawanan terhadap Tunggul Ametung.
Usia 20 tahun, Ken Arok sudah menjadi seorang negarawan.

Pramudya meninggalkan pesan yang kuat dari novel Dedes Arok nya, bahwa orang dari kelas sudra pun bisa berkuasa di istana.
Kalangan tertindaspun bisa jadi Raja.

Tentang Menepi

Mungkin kau menikmati berdiam diri
Berdiri di tepian pantai
Menikmati ombak yang pecah menjadi buih

Mungkin kau menikmati
Duduk selonjor di atas pasir pantai
Menikmati luasnya laut
Tanpa beranjak sedikitpun

Mungkin kau menikmati
Duduk bersantai di bawah payung pantai
Menikmati deru ombak, irama & gulungannya.

Mungkin kau menikmati
Berdiri di tepian sambil bersorak cemas
Melihat peselncar bermain ombak

Kau hanya bisa menjadi penonton keindahan itu
Kau hanya bisa menjadi pesorak bagi peselancar yang menaklukkan ombak
Kau hanya bisa terpukau dengan cerita kisah mereka yang mengarungi laut tak berbatas
Kau hanya bisa menikmati kisah-kisah itu

Mungkin karena kau takut basah
Takut tergulung ombak
Takut dengan beribu ancaman laut
Sesungguhnya kau penakut.

Maka kau tetap berdiri di tepi sebagai penakut.
Maka sang pemberanilah yang masuk arena.

Ketahuilah….
Menepi itu nyaman, aman tapi tak mengasah jiwamu.

gambar : surforiginal.com

Secangkir Kopi

Sederhana. Biasa. Hangat. Begitulah mungkin sekilas simpulan kita tatkala membaca judul tulisan ini.

Jika secangkir kopi itu dianggap hanya sebuah kebiasaan belaka, atau hanya sebuah minuman kesukaan, secangkir kopi taklah lebih berarti dari itu.

Tapi bagi saya, secangkir kopi, akhir-akhir ini sungguh punya makna yang dalam. Sebuah kenikmatan rasa yang berbeda. Rasa cinta, persaudaraan, emosi, penghargaan, ketulusan dan pengorbanan. Dan juga pastinya, sebuah cita rasa berbeda di lidah, karena konon, itu kopi bukan sembarang kopi, tapi kopi akar. Nah !

Secangkir kopi, setiap Selasa sore saya menikmatinya. Dari seduhan tangan seorang ibu mulia.

Menikmatinya setiap pekan di hari itu adalah sesuatu yang special bagi saya. Saya bisa menikmatinya jika saya memberi sedikit kesungguhan hati untuk datang ke rumah beliau sebelum pkl 17.00. Entahlah… saya bersegera ke sana, istijabah karena jadwal itu atau karena kerinduan akan suguhan secangkir kopi.

Sungguh, betapa menjadi istimewa bagiku, mendapat perlakuan khusus sajian kopi akarnya.

secangkir kopi

Sejak saat itu, entah mengapa, setiap kali saya mendapat sajian kopi, yang teringat adalah suasana rumah itu, senyum perempuan yang menyuguhkannya, kehangatan orang-orang yang datang setelahku.

Secangkir kopi bagi saya, sungguh mengaduk emosi. Dalam kepulan panasnya, ada wajah-wajah perindu syurga yang berkumpul bersenandung dan berbicara tentang kebaikan.

Saya menemukan sebuah ikatan emosi dalam secangkir kopi itu. Saya bukan siapa-siapa, saya sama seperti yang lainnya saudaraku. Hanya karena saya datang mendahului mereka, saya lah yang istimewa, mendapatkan secangkir kopi.

Awalnya biasa saja, tapi waktu bergulir, kebiasaan itu berulang. Dan sungguh saya menikmatinya.

Karena rindu, saya tak ingin melewatkan momen itu setiap pekannya.

Karena cinta, saya bersungguh hati mendapatkannya.

Hanya karena ketulusannya secangkir kopi itu membuatku kasmaran

Hanya karena penghargaannya secangkir kopi itu penuh bermakna.

Jangan pernah enggan melakukan hal-hal kecil. Bisa jadi kecil, sederhana tapi dilakukan dengan ikhlas dampaknya akan menjadi luar biasa.

Janga pernah mengabaikan hal-hal kecil. Belajar untuk saling menghargai, menghormati. Sesederhana apapun caranya.

Untuk mendapatkan sesuatu yang berbeda, butuh pengorbanan. Apresiasilah, sekecil apapun pengorbanannya.

Cinta, rasa persaudaraan, lebih terasa dalam ungkapan sikap. Maka tunjukkanlah rasa cintamu dalam tindakan.

Dan saya pun teringat kata-kata Rumi :
“Jika kau bukan seorang Pecinta, jangan pandang hidupmu adalah hidup. Sebab, tanpa cinta segala perbuatan tidak akan dihitung pada Hari Perhitungan nanti. Setiap waktu yang berlalu tanpa cinta, akan menjelma menjadi wajah yang memalukan di hadapan Tuhan”.

 

 

Untuk seorang naqib

28 Januari 2016

Dalam perjalanan Makassar ke Batavia

Dalam Tulisanku

Aku menulis agar ada yang bisa kalian ingat tentang ku
Agar ada sepenggal sejarah tentang ku
Tentang pikiranku, tentang keinginanku, tentang harapanku.
Juga tentang cintaku, kasih sayangku dan peduliku.

Aku menulis, berharap suatu hari yang berahasia, ada yang terinspirasi dari kisah-kisahku.
Dari perjalanan cintaku.

Aku menulis tentang banyak.
Cerita-cerita tentang pengabdian, tentang cinta dan tentang pengorbanan.

Aku menulis tentang kegalauanku, kefuturanku, agar ada yang bisa belajar dari kata-kata yang kususun itu.

Mungkin tak indah, mungkin berlebihan, mungkin menyakitkan, mungkin menyinggung, maafkanlah atas lemahnya kosa kataku.
Aku belum sepandai Rumi dalam merangkai kata cinta,
Juga belum selihai Pramudya dalam mengungkap kisah,
Juga belum sekuat Putu Wijaya dalam pesan sastranya.
Sesungguhnya aku ingin…. Tapi kosa kataku masih terbata-bata.

Aku cuma punya sedikit keberanian untuk menuliskan pesanku. Karena hanya itu yang bisa abadi. Mengalirkan pahala untukku jika ada kebaikannya untukmu, sekalipun jasadku sudah lebur dalam asalnya.

Sungguh… Hanya sedikit itu yang kumiliki.

28 Januari 2016
Di udara
Jelang landing di Soetta

Berselancar

Politik adalah dunia yang keras, maskulin. Itu kata sebagian orang. Ada pula yang mengatakan bahwa jika ingin menguji kuatnya kepalamu, masuklah ke politik.
Ada yang mengatakan, politik adalah seni.
Saya lebih suka dengan penamaan ini.

Sesungguhnya, saya “terlibat” di dunia politik sejak saya Sekolah Dasar (SD). Membersamai setiap pertemuan-pertemuan parpol Etta saya, membuat saya punya naluri politik.
Tumbuh di kampus bersama para aktivis, membuat saya sepertinya memang tak bisa jauh-jauh dari dunia yang hiruk pikuk ini.

Sibghoh politik dari orang-orang yang berpengaruh dalam hidupku tak kuasa kutampik.

Berselancar, kosa kata yang kukenal sejak awal saya terjun menjadi politisi.
Nasehat ini dari seorang senior, qiyadah dari jamaah ini.
Sejak saat itulah, kosakata itu kupakai dalam kehidupan politik saya.

Kau lihat peselancar? Ombak setinggi apapun dia berani menghadang tanpa harus terbenam ke dasar lautan atau terhempas bersama buih ke tepian.
Peselancar cerdas bermain dengan ombak. Ketinggiannya mengguncang adrenalin, gulungannya menguji batasan rasa takut.
Peselancar mencari tantangan, menunggu ombak yang menjulang untuk membuktikan nyalinya menghadapi alam.
Kau lihat bagaimana Ericson Core menjadikan film pointbreak demikian menakjubkan ? Johny Utah ( Luke Bracey ) sebagai peselancar ekstrem, mencari ombak terekstrem di dunia. Maut adalah tantangannya tapi dia berhasil menaklukkannya.

Demikianlah seorang politisi. Tidak menantang sepenuhnya jika tidak sepakat, juga tidak menerima sepenuhnya. Tapi tetap menjalankannya dengan melakukan penyesuaian-penyesuaian yang ada ruang-ruang ijtihadnya.
Karena sesungguhnya, qiyadah bukanlah yang ma’shum, bukanlah sumber kebenaran, tapi di dalamnya ada syuro yang harus dihormati, yang harus dijunjung tinggi.
Memadukan dua kutub, menyelaraskan dua warna dalam sebuah harmoni al qiyadah wal jundiyah tanpa harus merasa “tertekan” dengan keputusan-keputusan yang tidak kita sukai.

Ubah kendala jadi sebuah peluang dalam kecerdasan pikirmu.
Ubah ancaman menjadi sebuah tantangan dalam bijak sikapmu.
Tidak harus menambah daftar lawan, karena sesungguhnya bisa jadi di antara mereka ada yang bisa menghantarkanmu ke syurga.
Kurangi daftar nama lawanmu dalam tiap jenaknya, sehingga daftarnya menjadi zero dan bersih. Saat itulah kau menjadi orang yang diinginkan, respek mengalir untukmu.
Jangan mencari kompetitor, karena sesungguhnya manusia itu saudara, sesama politisi itu mitra. Maka tampilkanlah akhlak politikmu yang lebih agung dari mereka.
Senyumlah, sekalipun dihadapan orang yang telah merenggut hakmu, karena sesungguhnya kaulah pemenang atas dirimu.
Cintailah, sekalipun terhadap orang-orang yang mengkhianatimu, karena sesungguhnya janji Allah jelas bagi orang-orang seperti mereka.
Tak ada guna, melampiaskan amarah, meluluhlantakkan harga diri orang.

Tahukah kau, jika di dunia politik tidak mengenal jenis kelamin ? Ini memang dunia dengan gender sesungguhnya.

Kau tidak akan menemui, seorang yang empati pada mu karena seorang perempuan harus pulang malam karena rapat.
Tidak ada pertanyaan, tidak ada penawaran, tidak ada empati. Hatta sesama saudara separtai sekalipun.
Saat itu, jika kau sedih, sedihlah sendiri. Tidak ada yang peduli kecuali suami atau anak-anakmu atau sopirmu.

Maka buanglah rasa itu di dunia ini. Maka kuburlah rasa itu, bersama azzammu ingin berkhidmad di sini.

Ketika kau harus jaulah, sebagai bagian dari amanah partai, meninggalkan anak-anak yang masih belia, meninggalkan suami, ada rasa sedihmu, itu pasti. Tapi yang lebih harus kau pastikan, enyahkan sesegera mungkin agar kau bisa tetap tegar dihadapan para laki-laki.
Karena dunia ini tidak mengenal jenis kelamin, kecuali untuk pada batasan syariatnya.

Saat kau bersama para laki-laki, dimana mereka cepat dalam bertindak, gesit dalam langkah, maka kau jangan tertinggal dari mereka. Jangan pernah meminta kompensasi keterlambatan hanya karena kau seorang perempuan. Jangan pernah minta kau dimaklumi hanya karena kau seorang perempuan. Itu, jika kau ingin berkhidmad sepenuhnya di dunia ini.

Karena kau adalah peselancar.

Ikuti ritme ombaknya. Tanpa harus tergulung ke kedalaman atau terhempas ketepian.

Ingatlah, Berselancarlah !
Aku peselancar. I’m a surfer.

Paropo, 21 Desember 2015

Penghujung Hari

Malam telah datang
Membentang menyelimuti bumi
Cinta berdiam dalam gelap
Tenang dalam dekapan tuannya

Rintik pun lirih
Nyaris hilang terpapar angin
Cinta hening dalam basahnya bumi
Menunggu belaian tuannya

Aku masih di sini
Menemani malam bersama cintaku
Menyaksikan gemilangnya gemintang
Menikmati dinginnya hujan

Makassar, 15 Desember 2015
Pe

Untukmu Ibu

Dalam jejak kasihmu

Ada kami dalam hidupmu
Menikmati belaianmu
Sempurna dalam senyummu .

Dalam rangkaian kasihmu
Ada kami dalam rangkulanmu
Menikmati tatapanmu
Sempurna dalam kehangatanmu.

Keindahan cinta kau ajarkan
Kehangatan keluarga kau wariskan
Ketegaran kau teladankan
Sendiri menanggung, hidup dengan sayap yang rak utuh

Kau perempuan setia menyimpan cinta
Kami akan mengikutimu
Kau perempuan tegar menanggung duka
Kami melihatmu
Kau perempuan yang penuh cinta
Untuk itu, kami harus mencintaimu lebih dari cintamu pada kami

Untukmu Ibu
Kumencintaimu dengan segala hati kami
Kumenyayangimu dengan segenap jiwa kami

Maafkan kami jika cinta kami belum sempurna.

Selamat ulang tahun yang ke 70
Doa terbaik untukmu Ibu

Love dari Makassar ❤️
Bani Setiawan

Makassar, 14 Desember 2015

google-site-verification: googlee1504fd57faec694.html

Design by pakmustain.info