Kanjeng Tidak Taat !!

Miris, itulah yang saya rasakan ketika membaca berita sepekan terakhir ini.

Tentang Dimas Kanjeng Taat Pribadi ( DKTP ).
Fenomena penipuan seperti ini sudah sering kita dengar, yang surprise dari kasus yang satu ini, adalah korbannya dari kalangan orang-orang “besar”. Besar UANGnya, besar ILMUnya.

Kemirisan saya bukan hanya pada batas materi yang menjadi objek kerugian, tapi pada AQIDAH korban sang Kanjeng.

Adalah salah seorang pendiri Ikatan Cendekia Muslim Indonesia, yang menjadi salah satu “murid aktif” kanjeng, bertutur sangat lugu.

“Saya menyarankan ke penasehat hukum sebaiknya diberi kesempatan di depan wartawan atau polisi. Ini agar tidak disebut sebagai penipuan”

“Demi rasul saya melihat sendiri. Dan di dalam ruangan kosong kemudian dikunci lalu beliau ditutup, nggak ada orang lain dan beberapa lama kemudian ada uang”
( sumber Tribun Timur, Kamis 29 Sept 2016 )

Sekali lagi, kemirisan saya bukan tentang penipuan atau kerugian materinya. Tapi ini tentang AQIDAH.
Mari kita beristigfhar.

Materi yang hilang, taklah membuat kita masuk neraka ataupun syurga. Tapi aqidah yang rusak, jelaslah tempatnya, menuju neraka jahannam, neraka yang paling dahsyat siksaannya.

Kemirisan lainnya adalah tentang LOGIKAnya.
Lintasan pikiran kita langsung berujar :
“Bisa-bisanya seorang duktur, cerdik cendikia mau percaya tentang bualan si kanjeng”.

Sesuatu yang sifatnya di luar nalar manusia, sebagai cendekia, otomaticly pikirannya tidak bisa menerima fakta tersebut sampai ada penjelasan rasional yang melatarinya.
Tiba-tiba dari tangan si kanjeng keluar uang, si kanjeng bisa melipatgandakan uang dll yang tidak rasional.
Mengapa seorang cerdik cendekia bisa mempercayainya ?
Mungkin karena “keimanan” nya yang ditempatkan pada posisi yang SALAH.
Hak itu milik Allah bukan si kanjeng yang tak taat.

Bersyukurlah mereka yang senantiasa menjaga wirid ini :

“Allahumma inni ‘audzubika min annusyrika bika sya’ian na’lamuhu wa nastaghfiruka limaa laa na’lamuhu”

“Ya Allah…. Sesungguhnya kami berlindung kepadaMU dari menyekutukan Engkau dengan sesuatu yang kami ketahui dan kami mohon ampun kepadaMU untuk sesuatu yang kami tidak ketahui”

#inspirasibunda

Inspirasi Bunda

Bunda Rahmi | Berkhidmat untuk Rakyat:

Bulan..
Malam ini baru aku rasakan kehadiranmu
Karena sepi yang kurasa.

Terimakasih bintang…
Kau masih di sana setia menemani bulan setiap bumi bergeser ke kegelapan

Kiranya kau masih di sana, di atas
Melihatku terdera rindu.

Aku baru merasakan kehadiranmu saat sepi menunggu pagi.

#inspirasibunda

Bunda Rahmi : Amurwa Bhumi

LKH membuktikan dirinya sebagai novelis sejati bukan penulis sejarah apalagi sejarawan.

Jika pada novel edisi Gajah Mada kesan ilmiahnya sangat kental, benar-benar sebuah penelitian sejarah, sentuhan fiksinya hanya 10%, maka di novel Amurwa Bhumi ini kebalikannya.
Fiksinya mendominasi.

Karena karya LKH yang pertama saya baca adalah edisi GM, maka dia membentuk pikiranku terhadap sebuah realita sejarah yang bisa dipertanggungjawabkan. Sehingga tatkala saya membaca Amurwa Bhumi ini, saya nyaris tergiring meninggalkan logika.
Dan akhirnya, saya berhasil berdamai dengan diri sendiri. Ini sebuah fiksi.

Amurwa Bhumi ini, ceritanya jaman Singasari – jamannya Kertajaya, Ken Arok.
Penyebutan Makassar, Sulawesi, dalam novel tersebut, sebagai kota yang masih menyimpan hewan kalong, cukuplah mempertebal hubungan emosi dengan novel ini. Sekalipun yang dimaksud adalah Soppeng, bukan Makassar.
Saya memahami, mengapa LKH hanya menyebut Makassar, padahal tak perlu upaya ekstra untuk tahu kalo kota kalong di Sulsel adalah Soppeng. Pasti LKH tak ingin membuat pembacanya di luar Sulsel bingung dengan penyebutan itu. Makassar mewakili imajinasi pembaca.

Ada kisah yang berulang, dari novel ini. Pengulangan cerita saat GM menuju pengasingan dengan Parrameswara dalam petualangannya.
Ceritanya persis, pelakunya saja yang berbeda. Mungkin LKH suka dengan alur itu, sehingga harus dia ulang. Hehehe…..

Tapi saya takjub dengan imajinasinya yang mempertemukan ranah lampau dengan ranah masa depan.
Mempertemukan 3 generasi yang rentang waktu masing-masing ratusan tahun.

Sekalipun novel ini memiliki 980 halaman, tapi ternyata belum cukup untuk mewadahi tumpahan kata-kata LKH dalam menuntaskan kisahnya.

Anda yang sudah pernah membaca kisah Ken Arok & Ken Dedes, akan bertemu dengan sang Brahmana Loh Gawe, juga bertemu Empu Gandring bukan sekedar sebagai pandai besi.

Bagaimana nasib tokoh-tokoh ranah masa depannya ? LKH tidak menyelesaikannya di sini.

Itulah LKH, to be continue…..

Sebagaimana tetralogi Pramoedya ( Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca ) menurutku, karya terbaik LKH ada di pentalogi Gajah Mada.

Semoga tulisan ini bisa membantu Anda memilah.

#inspirasibunda

Selamat Hari Anak Nasional, selamatkan anak kita.

Peringatan !!

Banyak momen yang berlalu dengan event, baik itu formal hingga non formal. Dari yang sederhana hingga event spektakuler.

Indonesia punya banyak daftar tanggal peristiwa-peristiwa penting. Dan setiap tahun terulang menjadi sebuah perhelatan, sebuah PERINGATAN.

Selayaknya namanya, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata Peringatan tergolong dalam kata benda dengan defenisi
nasihat (teguran dsb) untuk memperingatkan, maka sebuah peringatan hari-hari besar nasional atau keagamaan, hendaknya menjadi momen introspeksi diri semua pihak, khususnya penyelenggara pemerintahan yang padanya urusan hak rakyat diberikan.

Peringatan yang kita alami saat ini adalah sebuah upaya mengingat bahwa ada peristiwa sejarah pada tanggal yang sama di tahun yang lampau. Introspeksi terhadap agenda dari peristiwa tersebut menjadi sambutan-sambutan resmi di semua panggung upacara. Laporan angka-angka mengalir dengan lancarnya, kesenangan-kesenangan sementara di telinga pendengar menghasilkan tepuk tangan yang riuh. Kita memang pencinta berita gembira.

Memperingati hari Pendidikan Nasional, hari Kebangkitan Nasional, hari Kesaktian Pancasila adalah peristiwa penting beruntun yang setiap tahun kita peringati.
Tanggal 29 Juni kemarin, kita juga memperingati Hari Keluarga Nasional. Rangkaian momen penting dalam peri kehidupan masyarakat Indonesia. Dan, apa catatan penting sebagai sebuah kebijakan tindaklanjut untuk semua hal yang kita sudah diingatkan itu ?

Jika pemerintah kita belum punya catatan-catatan itu, marilah kita sebagai masyarakat yang baik membuat catatan-catatan tersebut untuk kita serahkan ke pemerintah agar ditindaklanjuti sebagai penyelenggara pemerintahan.

Dalam catatan resmi pemerintah, ada sekitar 177 event “peringatan” di tanah air kita ini, termasuk peringatan keagamaan.
Sepanjang penelusuran penulis, setidaknya ada 7 momen yang berhubungan langsung dengan anak.
Hari ini, kita kembali memperingati hari anak nasional.
Sejarah hari anak nasional berawal dari gagasan mantan presiden RI ke-2 (Soeharto), yang melihat anak-anak sebagai aset kemajuan bangsa, sehingga sejak tahun 1984 berdasarkan Keputusan Presiden RI No 44 tahun 1984, ditetapkan setiap tanggal 23 Juli sebagai Hari Anak Nasional (HAN). Kegiatan Hari Anak Nasional dilaksanakan mulai dari tingkat pusat, hingga daerah.
Kembali ke tujuan ditetapkannya hari anak nasional, bahwa pemerintah ingin menghargai hak-hak anak, Presiden Soeharto kala itu melihat bahwa anak sebagai sebuah aset bangsa harus dilindungi. Sehingga ditetapkanlah sebuah tanggal di mana momen tersebut dijadikan sebagai pengingat akan semangat penyelamatan yang dilakukan oleh Presiden waktu itu.

32 tahun memperingati hari anak nasional, hari ini, apa yang terjadi dengan anak-anak kita ? Anak-anak Indonesia ?
Masihkah semangat melindungi itu masih ada ?
Masihkah kita menganggapnya sebagai asset yang harus dilindungi ?

Dalam setiap kesempatan berbicara, penulis senantiasa mengingatkan masyarakat, akan pentingnya membangun kepedulian terhadap anak-anak. Karena sesungguhnya, kita tidak hanya memiliki anak biologis, tapi juga anak sosial.
Dan setelah 32 tahun memperingatinya, berita-berita kriminal anak, – baik pelaku maupun korban – nyaris setiap hari ada di media. Bahkan penelusuran data, penulis menemukan fakta bahwa kasus kekerasan anak jumlahnya meningkat dari tahun ke tahun.

Ketika kita membuka berita tentang kasus kekerasan anak, maka deretan peristiwa itu mencengangkan kita. Ada anak yang digergaji oleh ibunya, dibunuh oleh Ayahnya, diperkosa oleh Ayah kandungnya, dan seterusnya. Dan hampir semua kasus tersebut melibatkan orang terdekat anak.
Anak-anak tak memiliki lagi area yang aman bagi dirinya. Di sekolah, ancaman bully dari teman-teman, kekerasan dan atau pelecehan seksual dari guru, di tempat-tempat sucipun seperti itu.

Belum lagi, ketika kita membaca berita tentang begal, yang pelakunya nyata masih berusia muda, kategori anak-anak.
Kasus jaringan narkoba yang diungkap oleh pihak berwajib di Kapasa, melibatkan anak-anak dalam peredarannya.
Bahkan dugaan kuat

bahwa anak-anak kita sudah dimanfaatkan oleh sindikat kejahatan dengan memanfaatkan “kelemahan” UU perlindungan anak yang memberi hukuman sangat ringan bagi pelaku kriminal anak-anak.

Apa yang bisa dilakukan pemerintah untuk menekan jumlah korban & jumlah pelaku dari anak-anak ?

Sebagai bentuk perhatian pemerintah terhadap kekerasan dengan menerbitkan Perppu Perlindungan Anak no 1 Tahun 2016. Tapi ini tidaklah cukup untuk menekan dengan cepat kasus-kasus kekerasan tersebut. Kasus-kasus kekerasan anak tetaplah terjadi dalam tiap hitungan jam.

Orang tua, anak, butuh kepastian keamanan dari pemerintah. Perlindungan keamanan adalah kewajiban pemerintah kepada rakyatnya.
Hak hidup aman, adalah hak warga negara. Pemerintah dari pusat hingga daerah harus melakukan langkah konkrit untuk mengendalikan jumlah kekerasan anak yang meningkat dari tahun ke tahun.
Pemerintah propinsi Sulsel, sudah memiliki perda Sistem Perlindungan Anak yang ditetapkan tahun 2013 kemarin, tapi sayang, ini masih belum cukup untuk menjadi alat pengendali. Selain muatan perdanya yang hanya berisi tentang perlindungan anak pasca kejadian, juga perda ini belum ada pergubnya sebagai implementasi teknis perda tersebut.
Dari sudut pandang produk kebijakan, bisa kita menilai, sejauh mana pemerintah tersebut peduli terhadap anak.

Hasil diskusi teman-teman aktivis LSM, memyimpulkan bahwa salah satu yang dibutuhkan saat ini – untuk pengendalian kekerasan anak – adalah sistem deteksi dini.
Butuh pelibatan & kepedulian semua pihak untuk melakukan hal tersebut.

Marilah kita bersama, semua pihak, bertaut hati untuk menyelamatkan anak-anak kita. Peduli dengan anak-anak sosial kita, adalah kontribusi besar dalam menyelamatkan anak bangsa.

Selamat Hari Anak Nasional, selamatkan anak kita.

Fatherless Country Renungan di hari Anak Nasional

#OneDayForChildren

32 tahun yang lalu, tepatnya 23 Juli 1984, Presiden Soeharto menetapkan hari itu sebagai hari anak nasional.
Dalam beberapa momen, kita memperingati hari anak. Hari anak internasional, hari anak sedunia.

Apa yang sudah kita berikan pada mereka ? Pada anak-anak Indonesia ? Yang oleh dunia pun di agungkan dan dipedulikan.

Rentetan kasus anak yang terjadi tahun ini, membuat kita semua prihatin, khawatir dan mengutuk para pelaku dibalik kasus tersebut.

Dan Menteri Sosial mengatakan bahwa ini adalah bencana kemanusiaan dan bencana peradaban.
Beberapa rekan aktivis LSM mengatakan ini adalah kejahatan kemanusiaan. Bukan sekedar kasus pelecehan seksual.

Kita pun dibuat terperangah ketika menteri Sosial menyampaikan bahwa Indonesia masuk dalam deretan kedua sebagai Fatherless Country, negara tanpa Ayah. Yang berarti negara dimana anak-anak merasa tidak memiliki Ayah.
Anak-anak tidak merasakan kehadiran dan sentuhan sosok ayah dalam kehidupan mereka, walau sang ayah ada dan hidup bersama mereka.
Fatherless country/father hunger adalah keadaan dimana ayah ada secara fisik, tapi secara psikologis kehadiran ayah tidak ada di dalam jiwa anaknya. Bisa jadi karena sang ayah terlalu sibuk bekerja yang mengakibatkan kurangnya komunikasi dan rasa dekat dengan anak, atau perlakuan sang ayah terlalu kasar terhadap anak sehingga anak tidak lagi merasakan kehadiran sosok ayah dalam hidupnya.

Dalam beberapa penelitian dikatakan bahwa keterlibatan ayah dalam kehidupan anak, berdampak positif dengan perkembangan emosinya. Sosok ayah, memberi dampak penting bagi perkembangan konsep dan harga diri anak.

Sebaliknya, tanpa adanya pengasuhan ayah, anak tumbuh dengan karakter yang rapuh. Inilah yang terjadi saat ini. Remaja dan anak-anak banyak yang terseret dalam pergaulan bebas, pecandu narkoba, karena tak ada benteng, tak ada perisai dalam keluarga mereka. Dan tanpa disadari, dalam waktu yang lama, ketidaklibatan ayah dalam pengasuhan anak, akan membuat negara ini menjadi lemah.

Banyak catatan PR kita pada anak Indonesia. Penelitian di atas perlu disikapi serius oleh pemerintah untuk segera mengambil langkah konkrit menyelematkan anak bangsa.

Dengan momentum hari anak ini, mari kita melakukan gerakan Ayah Sayang Anak untuk mengembalikan peran Ayah dalam membangun karakter anak, sehingga anak-anak Indonesia bisa tumbuh dengan pribadi yang kokoh.

Karena sesungguhnya, suami istri dalam sebuah rumah tangga adalah sepasang pendidik yang saling melengkapi. Ibarat sayap, maka kesempurnaan gerak keduanyalah yang membuatnya bisa terbang.

Ibnul Qayyim dalam kitab Tuhfatul Maudud berkata, “Jika terjadi kerusakan pada anak penyebab utamanya adalah AYAH.”
Ingatlah! Seorang anak bernasab kepada AYAHnya bukan ibu. Nasab yang merujuk pada anak menunjukkan kepada siapa Allah meminta pertanggungjawaban kelak.

Ibu memang madrasah pertama seorang anak, tetapi AYAH tetap menjadi penanggungjawab utama – sebagai qowwam – dalam keluarga.

Dalam sebuah tulisan di kaskus, saya menemukan kalimat ini :
Ibu mengasah kepekaan rasa, Ayah memberi makna terhadap logika. Kedua-duanya dibutuhkan oleh anak.

Jika ibu tak ada, anak menjadi kering cinta. Jika AYAH tak ada, anak tak punya kecerdasan logika.

AYAH mengajarkan anak menjadi pemimpin yang tegas. Ibu membimbingnya menjadi pemimpin yang peduli.

Tegas dan peduli itu sikap utama. Hak anak adalah mendapatkan pengasuh yang lengkap. AYAH terlibat, ibu apalagi. Mari penuhi hak anak untuk melibatkan AYAH dalam pengasuhan.

Ayah… Berikan perhatianmu hari ini dan hari-hari besok pada anak-anakmu agar mereka menemukan kekuatan untuk tegak berdiri mengarungi kehidupan.

Ayah.. Berikan cintamu hari ini dan hari-hari besok agar mereka hidup dengan harga diri.

Puisi menyambut Hari Anak Nasional tgl 23 Juli besok.

Puisi ini lahir atas keprihatinan saya karena Indonesia menjadi negara peringkat ke 2 sebagai Fatherless Country – Negri Tanpa Ayah

Ayah
Peluklah aku, sebelum masa memisahkan kita
Yang akan membuatku berlari untuk mengejar mimpiku sendiri

Ayah
Tuntunlah aku, sebelum dunia ini memisahkan kita
Yang akan berbeda dari apa yang kau alami dahulu.
Ini duniaku.

Ayah
Ajari aku menjadi kuat, agar bisa kokoh berpijak di bumi.
Ajari aku mengenal penciptaku, yang menghembuskan ruh dalam ragaku.
Ajari aku menjadi pemimpin, memimpin syahwatku, memimpin keinginanku, memimpin keluargaku kelak.

Ayah
Ajari aku mencintai, sebagaimana engkau mencintai ibu dengan segenap kekurangannya
Ajari aku menyayangi, sayang yang sarat logika, tanpa terfitnah.

Ayah
Berikan waktumu untuk berbincang denganku, karena banyak hal yang butuh pertimbangan logikamu.
Ulurkan tanganmu untuk menuntunku, agar kelak aku mengenangnya saat dirimu tak kuat lagi mengangkat diriku.

Ayah
Sesungguhnya ruang di hatiku begitu luas menunggumu
Kukosongkan khusus untukmu, sebagai tempat patri sosokmu & nasehat-nasehatmu.

Ayah
Aku merindukanmu.
I lobe you.

Hormatku,
Anakmu dari Fatherless Country.

#inspirasibunda

Tunaikan kewajibanmu, baru tuntutanmu.

Anakku, jika kau ingin istrimu penuh pengabdian, tak perlu kau perintahkan.
Tunaikanlah hak-haknya, maka dia akan tunduk patuh padamu.

Anakku, jika kau ingin istrimu setia dalam suka & duka, penuhi kehidupannya dengan kasih sayang, agar dia tetap merasa tenang dalam dukanya.

Anakku, perbanyaklah penunaian kewajibanmu pada istrimu, karena untuk itu, kau tak harus menuntutnya maka dia akan melayanimu sepenuh jiwa.

Kau akan mendapatkan yang terbaik darinya jika kau penuhi hak-haknya.

#inspirasibunda

Cinta tak cukup hanya diucapkan, Cinta butuh biaya.

Anakku, kau laki-laki
Di tanganmu kehidupan dunia anak istrimu,
Maka kokohkanlah genggamanmu pada dunia

Anakku, kau laki-laki
Di pundakmu tanggungjawab lahir batin anak istrimu
Maka kuatkanlah, untuk mengambil lebih banyak kewajiban membahagiakan mereka dunia akhirat.

Cinta, tak cukup hanya kau ungkapkan.
Karena anak istrimu punya hak hidup layak.
Istrimu butuh gizi untuk bisa tetap sehat melayanimu & melahirkan anak-anak yang sehat pula.
Istrimu butuh pakaian yang layak untuk engkau pandangi agar bisa menjadi pemanja matamu.

Anak-anakmu butuh gizi yang cukup untuk tumbuh kembangnya sebagai generasi pelanjut
Anak-anakmu butuh ilmu untuk bisa menaklukkan dunia

Dan kau tahu nak…. Itu semua butuh biaya.
Dan kaulah orang pertama yang bertanggungjawab untuk itu.

Kau tahu nak… Betapa banyak laki-laki yang terbuang karena hal itu.
Karena dia tak mampu menunaikan kewajibannya sebagai Ayah.

Aku tak ingin kau kehilangan harga diri karena itu.
Untuk itu, Ayah Bunda melatih tanganmu agar kuat, pijakanmu kokoh, agar kelak, kau menjadi laki-laki sejati.

Kau tak boleh mengatakan bahwa karena cinta, hal itu bisa diabaikan.
Makan gak makan yang penting ngumpul.

Lupakan itu nak….

Sebagai bukti cintamu, bahagiakan mereka dunia akhirat.

#inspirasibunda

 

Malam mengantarkan rindu

Ramadhan adalah Puncak Ibadah

Ramadhan adalah momen paling berharga dalam beramal.
Bagaimana tidak, Allah menjanjikan penggandaan pahalanya dari hari biasa.
Ramadhan menyediakan fasilitas malam istimewa bagi kita,
Allah menyebutnya malam seribu bulan.
Rasulullah memperlakukan Ramadhan demikian istimewa, sehingga dalam berinfaq, Rasulullah digambarkan infaqnya lebih cepat dari hembusan angin.
Ramadhan, membuat Rasulullah mengingatkan kita untuk mempersiapkannya 2 bulan sebelumnya.
Dengan ajaran doanya : “Allahumma bariklanaa fii rajab wa sya’ban waballighna Ramadhan”.

Dengan doa itu, kita diperingatkan untuk bersiap 2 bulan sebelum Ramadhan tiba. Persiapannya bukan sekedar membuat kita mengingat bahwa Ramadhan sudah dekat, dan bersiap dengan segala bentuk materialnya.
Persiapan yang dituntut di sini adalah persiapan ruhiyah, mental, fisik, menjelang Ramadhan.
Sehingga tatkala kita memasuki Ramadhan, kita benar-benar maksimal.

Sayang sekali jika dalam Ramadhan ritme ibadah kita biasa-biasa saja.
Ramadhan bulan yang spesial, bukan hanya menunya, tapi juga spesial ibadahnya, spesial shodaqohnya.

Allah sudah memanjakan kita dengan gelimang pahala, sepantasnyalah kita menebusnya dengan pengorbanan.
Mengorbankan banyak hal yang menyenangkan syahwat, untuk meraih keutamaan Ramadhan.
Yang senang nonton sinetron, berkam-jam depan tivi, menangis karena dramanya, maka Ramadhan ini kita alihkan waktu untuk tilawah AQ, menangis karena tadabbur.
Itulah bentuk pengorbanan kita, itulah bentuk kesungguhan kita, itulah bentuk penghormatan kita pada bulan nan suci ini.
Dan dengan pengorbanan itu, kita bisa meraih kemenangan Syawal.

Melalui tulisan ini, saya mencoba berbagi tips bagaimana kita betul-betul mempersiapkan diri jauh sebelum Ramadhan tiba.

Berangkat dari doa Rasulullah SAW : “Allahumma bariklaanaa fii rajab wa sya’ban waballighna ramadhaan”.

Kita mulai berhitung hari dari bulan Rajab.
Jika sebelum Rajab, ibadah kita biasa-biasa saja, maka dalam bulan Rajab, harus kita tingkatkan : kualitas & kuantitasnya. Harus punya target, sehingga kita bisa mengukur pencapaiannya setiap peralihan bulan.
Misalnya, hari-hari biasa kita tilawah sesuka & sedapatnya saja, kadang 2 lembar, ato hanya 1 lembar. Ketika memasuki bulan Rajab, kita komitmen menanmbahkan tilawah menjadi 5 lembar atau 1 juz perhari.
Jika Anda rutin ODOJ ( one day one juz ) di hari-hari biasa, maka dalam Rajab, harus menjadi 2 juz perhari. Demikian seteruanya.

Sholat dhuha, dari yang tidak pernah, jadi dirutinkan minimal 2 rakaat setiap hari. Dan seterusnya demikian perlakuan kita pada ibadah.
Temukan celah waktu Anda, dan yakin Anda pasti bisa.
Up grade kapasitas.

Memasuki Sya’ban, kita tingkatkan lagi targetnya. Dengan ritme sebulan, insya Allah cukup untuk membuat habit baru lagi saat bulan Ramadan.
Tubuh kita sudah terlatih, waktu kita sudah teratur, alarm biologis kita sudah miliki untuk ibadah-ibadah yang kita bangun secara rutin.
Jika dalam Rajab Anda bisa 1 juz perhari, maka dalam Sya’ban, Anda akan dengan mudah menyelesaikan 2 juz perhari. Dan Ramadhan Anda punya habit baru : 3 juz perhari.
Ramadhan adalah klimaks ibadah kita. Dan kita benar-benar menikmati keasyikan beribadahnya.

Dan saya, sungguh merasa merindukan Ramadhan sejak di bulan Rajab.

Ditulis dlm perjalanan Mks – Jkt
15 Juni 2016

Ramadhan adalah Puncak Ibadah

Ramadhan adalah Puncak Ibadah

Ramadhan adalah momen paling berharga dalam beramal.
Bagaimana tidak, Allah menjanjikan penggandaan pahalanya dari hari biasa.
Ramadhan menyediakan fasilitas malam istimewa bagi kita,
Allah menyebutnya malam seribu bulan.
Rasulullah memperlakukan Ramadhan demikian istimewa, sehingga dalam berinfaq, Rasulullah digambarkan infaqnya lebih cepat dari hembusan angin.
Ramadhan, membuat Rasulullah mengingatkan kita untuk mempersiapkannya 2 bulan sebelumnya.
Dengan ajaran doanya : “Allahumma bariklanaa fii rajab wa sya’ban waballighna Ramadhan”.

Dengan doa itu, kita diperingatkan untuk bersiap 2 bulan sebelum Ramadhan tiba. Persiapannya bukan sekedar membuat kita mengingat bahwa Ramadhan sudah dekat, dan bersiap dengan segala bentuk materialnya.
Persiapan yang dituntut di sini adalah persiapan ruhiyah, mental, fisik, menjelang Ramadhan.
Sehingga tatkala kita memasuki Ramadhan, kita benar-benar maksimal.

Sayang sekali jika dalam Ramadhan ritme ibadah kita biasa-biasa saja.
Ramadhan bulan yang spesial, bukan hanya menunya, tapi juga spesial ibadahnya, spesial shodaqohnya.

Allah sudah memanjakan kita dengan gelimang pahala, sepantasnyalah kita menebusnya dengan pengorbanan.
Mengorbankan banyak hal yang menyenangkan syahwat, untuk meraih keutamaan Ramadhan.
Yang senang nonton sinetron, berkam-jam depan tivi, menangis karena dramanya, maka Ramadhan ini kita alihkan waktu untuk tilawah AQ, menangis karena tadabbur.
Itulah bentuk pengorbanan kita, itulah bentuk kesungguhan kita, itulah bentuk penghormatan kita pada bulan nan suci ini.
Dan dengan pengorbanan itu, kita bisa meraih kemenangan Syawal.

Melalui tulisan ini, saya mencoba berbagi tips bagaimana kita betul-betul mempersiapkan diri jauh sebelum Ramadhan tiba.

Berangkat dari doa Rasulullah SAW : “Allahumma bariklaanaa fii rajab wa sya’ban waballighna ramadhaan”.

Kita mulai berhitung hari dari bulan Rajab.
Jika sebelum Rajab, ibadah kita biasa-biasa saja, maka dalam bulan Rajab, harus kita tingkatkan : kualitas & kuantitasnya. Harus punya target, sehingga kita bisa mengukur pencapaiannya setiap peralihan bulan.
Misalnya, hari-hari biasa kita tilawah sesuka & sedapatnya saja, kadang 2 lembar, ato hanya 1 lembar. Ketika memasuki bulan Rajab, kita komitmen menanmbahkan tilawah menjadi 5 lembar atau 1 juz perhari.
Jika Anda rutin ODOJ ( one day one juz ) di hari-hari biasa, maka dalam Rajab, harus menjadi 2 juz perhari. Demikian seteruanya.

Sholat dhuha, dari yang tidak pernah, jadi dirutinkan minimal 2 rakaat setiap hari. Dan seterusnya demikian perlakuan kita pada ibadah.
Temukan celah waktu Anda, dan yakin Anda pasti bisa.
Up grade kapasitas.

Memasuki Sya’ban, kita tingkatkan lagi targetnya. Dengan ritme sebulan, insya Allah cukup untuk membuat habit baru lagi saat bulan Ramadan.
Tubuh kita sudah terlatih, waktu kita sudah teratur, alarm biologis kita sudah miliki untuk ibadah-ibadah yang kita bangun secara rutin.
Jika dalam Rajab Anda bisa 1 juz perhari, maka dalam Sya’ban, Anda akan dengan mudah menyelesaikan 2 juz perhari. Dan Ramadhan Anda punya habit baru : 3 juz perhari.
Ramadhan adalah klimaks ibadah kita. Dan kita benar-benar menikmati keasyikan beribadahnya.

Dan saya, sungguh merasa merindukan Ramadhan sejak di bulan Rajab.

Ditulis dlm perjalanan Mks – Jkt
15 Juni 2016

google-site-verification: googlee1504fd57faec694.html

Design by pakmustain.info