Misteri yang Tersisa Dari Perang Bubat

Menyelesaikan penuturan Langit Krisna Hariadi tentang drama perang Bubat yang tak dipersiapkan, menyisakan misteri.

Apakah sesungguhnya Patih Gajah Mada yang merakayasa kegaduhan itu ?
Sekalipun dalam kisahnya, dalam perkembangan konspirasi internal itu, Gajah Mada tidak terlibat langsung karena melakukan puasa pati geni & tidak keluar dari sanggar pamujaan selama 5 hari 5 malam.
Dan selama itu pula, loyalis Gajah Mada bebas melakukan manuver dengan menterjemahkan perintah Gajah Mada. Mungkin bisa jadi Gajah Mada jujur, bahwa itu adalah sikap yang diplintir oleh loyalisnya selama dia dalam sanggar pamujaan.

Keluar dari sanggar pamujaannya, kondisi politik Majapahit sudah tak terkendali.

Kehadiran sosok Saniscara yang tiba-tiba dan tanpa asal usul, bersamaan dengan Prajaka ( anak prajurit Bhayangkara Majapahit yang amnesia , hilang dari keluarganya ) yang terdampar di Losari – Sunda Galuh , dengan usia & rambut yang sama gondrongnya, sama-sama seniman, sama ketampanannya, membuat semua pembaca baru menyadarinya disaat akhir dari drama tersebut.

Saniscara yang ingin segera menjemput maut, menyusul kekasih hatinya Dyah Pitaloka, terbunuh oleh anak panah dari seorang laki-laki tua dari barisan Majapahit.
Dan ternyata, laki-laki tua yang anak panahnya menembus jantung pemuda yang sekarat itu adalah ayahnya sendiri.

Dan drama perang di tengah lapangan Bubat itu menyisakan tangis pilu pertemuan Ayah & anak yang telah lama terpisah, yang sekaligus perpisahan untuk selamanya.

Benarkah Saniscara itu Prajaka yang hilang ?

Ini bagian misteri yang diselundupkan penuturnya diakhir kisah perang Bubat

Tukangpun Bisa Proaktif

Kebocoran pipa saluran PDAM depan rumah menyebabkan tutupan got kami (beton) harus dijebol untuk bisa memperbaiki pipa tersebut.

Itu menyisakan lubang yang membuat kami harus menghindarkan roda mobil dari ketidakberdayaannya saat terperangkap di sana.

Selang beberapa hari kemudian, lubangnya sudah tertutup dengan bongkahan-bongkahannya. Sekalipun tak serapi diawal, tapi kami sudah bisa parkir dengan tenang.

Ternyata perbaikan itu inisiatif dari tukang rumah sebelah. Tanpa diminta, mereka proaktif melakukannya.

Mungkin ada diantara Anda yang menganggapnya sepele, tapi tidak untuk saya.
Saya sungguh mengapresiasi atas sikap PROAKTIF dari tukang tersebut.
Memperbaiki lubang, itu hanyalah sebuah tindakan dari sikap mental – proaktif yang ada padanya.

Dia mengambil sebuah tanggungjawab untuk memberi value atas dirinya.

Tentu saja, tukang itu melakukannya bukan karena belajar tentang Seven Habitsnya Covey.
Yang lahir itu adalah sikap mental, menembus batas IQ akademik. Dorongan rasa tanggungjawab yang tinggi melahirkan inisiatif untuk melakukan sesuatu.

Wajarlah jika orang yang proaktif di lingkungan kita mendapat posisi terbaik di hati orang-orang yang berinteraksi dengannya.

Apapun pekerjaan Anda, dimanapun posisi Anda, jadilah PROAKTIF.

Budaya mencium tabukah ?

Suatu sore, saya mengisi pengajian majlis taklim. Oleh pengurusnya, saya diminta menyampaikan tema tentang keluarga.

Dan saya pastinya menyampaikan hal-hal yang mudah mereka lakukan dan berdampak besar pada kehidupan keluarga.

Usia pernikahan yang hadir saat itu bervariasi, dari 10 tahun sampai 36 tahun usia pernikahan mereka.

Ketika saya bertanya, siapa yang biasa mencium suaminya ?
Tak satupun jamaah yang angkat tangan.
Ketika saya gali lebih jauh, ternyata mereka merasa malu melakukannya.
Merasa sudah tua, malu dilihat cucu, dst dst alasan yang kadang kita buat sendiri.

Apakah mencium suami dosa ?
Mereka jawab : Tidak !

Berat mana mencium suami daripada mengangkat seember air ?
Mereka jawab : angkat seember air !

Kalau begitu apa yang menghalangi kita membiasakan mencium suami ?
Jawab mereka : budaya kita di sini.

Siapa yang membuat budaya ? Allah atau manusia ?
Jika yang membuat budaya itu adalah manusia, maka berarti kitapun bisa membuat budaya baru yang lebih baik.

Mengapa harus menyalahkan nenek moyang kita ? Yang mewariskan budaya itu ?

Suatu masa, kitalah nenek moyang yang akan disebut-sebut oleh keturunan kita.
kita yang lebih maju peradabannya – dibanding moyang kita dulu – harus mewariskan nilai-nilai yang lebih baik bagi kehidupan keluarga anak cucu kita.

Sadarkah kita, ketika anak atau cucu kita melihat Ibunya mencium Ayahnya, atau Ayah mencium Ibu, maka ekspresi saling mencintai, saling menyayangi itu, akan berbekas sangat dalam di hati mereka.
Dan merekapun tumbuh dengan sifat penyayangnya.
Banyak nasehat yang tidak harus keluar dengan kata-kata.
Membiasakan mencium & memeluk adalah nasehat tentang saling menyayangi.

Mencium harus kita wariskan sebagai budaya harmonis dalam keluarga.

Mencium pasangan, mencium anak-anak, pun mereka telah beranjak remaja.

Karena dalam ciuman, mengalir rasa disayangi & menyayangi.
Tentunya hanya bagi orang-orang yang halal mendapatkannya.

Untukmu Ibu

Dalam jejak kasihmu

Ada kami dalam hidupmu
Menikmati belaianmu
Sempurna dalam senyummu .

Dalam rangkaian kasihmu
Ada kami dalam rangkulanmu
Menikmati tatapanmu
Sempurna dalam kehangatanmu.

Keindahan cinta kau ajarkan
Kehangatan keluarga kau wariskan
Ketegaran kau teladankan
Sendiri menanggung, hidup dengan sayap yang rak utuh

Kau perempuan setia menyimpan cinta
Kami akan mengikutimu
Kau perempuan tegar menanggung duka
Kami melihatmu
Kau perempuan yang penuh cinta
Untuk itu, kami harus mencintaimu lebih dari cintamu pada kami

Untukmu Ibu
Kumencintaimu dengan segala hati kami
Kumenyayangimu dengan segenap jiwa kami

Maafkan kami jika cinta kami belum sempurna.

Selamat ulang tahun yang ke 70
Doa terbaik untukmu Ibu

Love dari Makassar ❤️
Bani Setiawan

Makassar, 14 Desember 2015

Sajak Pejuang

Salam ‘alaika yaa pejuang

Engkau telah bekerja
Kita telah berkeringat bersama
Kalian telah menyaksikannya
Atas itu semua akan berbuah pahala

Jalan jalan telah engkau lewati
Kelokan demi kelokan telah kami rasakan
Desa demi desa telah menjadi saksi kehadiran kita
Bukit dan gunung telah engkau taklukkan
Sungai dan laut telah engkau belah dengan semangatmu
Batu dan pasir menjadi saksi perjalanan kita
Berdebu dan berderu sepanjang jalan
Semua menjadi saksi perjuangan kita.

Sahabat…
Aku tahu, masa ini ada mimpi yang terwujud
Ada impian yang tertunda nyatanya.
Itu hanya tentang waktu
Itu hanya tentang takdir
Karena engkau pejuang yang sesungguhnya
Bagi kalian yang telah bertarung sepenuh jiwa.

Sahabat…..
Ada sedih bagi impian yang tertunda
Tapi yakinkan aku, itu hanya sedih dalam jenak waktu yang singkat
Karena aku tak ingin melihatmu murung padahal kau seorang pejuang.

Saudaraku….
Tahukah engkau, bahwa kau tak sendiri
Menang kalahmu kita tetap bersama
Karena kita adalah saudara.

Sahabatku…
Engkau telah mengajarkan pada kami
Tentang nilai perjuangan
Tentang takaran pengorbanan
Tentang daya pertarungan.
Kami memberi penghormatan untukmu pejuangku.

Sambutlah harimu dengan senyum.
Berdiri setegar karang
Karena engkau adalah pejuang.

Gowa, 10 Desember 2015

google-site-verification: googlee1504fd57faec694.html

Design by pakmustain.info