Untukmu Ibu

Dalam jejak kasihmu

Ada kami dalam hidupmu
Menikmati belaianmu
Sempurna dalam senyummu .

Dalam rangkaian kasihmu
Ada kami dalam rangkulanmu
Menikmati tatapanmu
Sempurna dalam kehangatanmu.

Keindahan cinta kau ajarkan
Kehangatan keluarga kau wariskan
Ketegaran kau teladankan
Sendiri menanggung, hidup dengan sayap yang rak utuh

Kau perempuan setia menyimpan cinta
Kami akan mengikutimu
Kau perempuan tegar menanggung duka
Kami melihatmu
Kau perempuan yang penuh cinta
Untuk itu, kami harus mencintaimu lebih dari cintamu pada kami

Untukmu Ibu
Kumencintaimu dengan segala hati kami
Kumenyayangimu dengan segenap jiwa kami

Maafkan kami jika cinta kami belum sempurna.

Selamat ulang tahun yang ke 70
Doa terbaik untukmu Ibu

Love dari Makassar ❤️
Bani Setiawan

Makassar, 14 Desember 2015

Sajak Pejuang

Salam ‘alaika yaa pejuang

Engkau telah bekerja
Kita telah berkeringat bersama
Kalian telah menyaksikannya
Atas itu semua akan berbuah pahala

Jalan jalan telah engkau lewati
Kelokan demi kelokan telah kami rasakan
Desa demi desa telah menjadi saksi kehadiran kita
Bukit dan gunung telah engkau taklukkan
Sungai dan laut telah engkau belah dengan semangatmu
Batu dan pasir menjadi saksi perjalanan kita
Berdebu dan berderu sepanjang jalan
Semua menjadi saksi perjuangan kita.

Sahabat…
Aku tahu, masa ini ada mimpi yang terwujud
Ada impian yang tertunda nyatanya.
Itu hanya tentang waktu
Itu hanya tentang takdir
Karena engkau pejuang yang sesungguhnya
Bagi kalian yang telah bertarung sepenuh jiwa.

Sahabat…..
Ada sedih bagi impian yang tertunda
Tapi yakinkan aku, itu hanya sedih dalam jenak waktu yang singkat
Karena aku tak ingin melihatmu murung padahal kau seorang pejuang.

Saudaraku….
Tahukah engkau, bahwa kau tak sendiri
Menang kalahmu kita tetap bersama
Karena kita adalah saudara.

Sahabatku…
Engkau telah mengajarkan pada kami
Tentang nilai perjuangan
Tentang takaran pengorbanan
Tentang daya pertarungan.
Kami memberi penghormatan untukmu pejuangku.

Sambutlah harimu dengan senyum.
Berdiri setegar karang
Karena engkau adalah pejuang.

Gowa, 10 Desember 2015

Catatan Kecil Pilkada 2015

PDIP lebih siap
Walaupun sepenuhnya tidak betul, tapi inilah pembacaan saya selama proses pemenangan pilkada tahun ini.

Dari roadshow pilkada yang saya lakukan, saya mengamati PDIP yang paling siap menghadapi event ini.

DPPnya membuat kebijakan, anggota DPR RI harus kembali ke dapil untuk memenangkan pilkada di dapilnya.
Anggota DPR RI tidak boleh ada yang ke luar negeri jelang pilkada, semua harus fokus ke daerah pilkadanya.

Khusus Soppeng, saya mengamati aleg DPR RI nya demikian agresif.
Samsu Niang, dari dapil Sulsel 2 DPR RI, memback up SDM saksi. Ini sebuah langkah awal memegang kendali dan membangun jaringan untuk dirinya.
Pada pilkada tahun ini, dia menggarap dua daerah ( Pangkep & Soppeng ) sebagai basis suaranya untuk periode berikutnya menuju DPR RI.
Tokoh-tokohnyapun diturunkan saat kampanye akbar.
Nyaris tak ada panggung kampanye yang tidak disentuh oleh DPPnya.

PDIP cermat memilih lokus untuk dipush. Ini cara dia untuk menanamkan cengkramannya pada penguasa ( calon kuat ).

Gerindra lain lagi.

Penokohan Prabowo ditonjolkan. Dengan modal rekaman suara yang hanya berdurasi kurang dari 5 menit, Prabowo berhasil “hadir” di tengah keriuhan kampanye-kampanye akbar usungannya.
Suaranya yang khas, menggema lewat loudspeaker panggung, menyapa massa, yang disambut dengan gemuruh tepuk tangan.
Sepele, tapi cerdas mengambil momen.
Bukan hal yang baru. Bedanya adalah, Gerindra melakukannya, yang lain tidak.
Tak cukup dengan itu, Prabowo pun hadir dengan surat terbukanya yang ditulis tangan sendiri oleh Prabowo & dibacakan oleh kadernya di panggung-panggung kampanye.
Itulah Prabowo, berhasil menghadirkan kharismanya di hadapan massa tanpa harus hadir secara fisik.

Selamat Memilih!

Kurang 2 hari lagi pemilihan kepala daerah serentak dilakukan se Indonesia. Di Sulsel ada 11 daerah yang melakukan pilkada tahun ini. Di bagian utara Maros, Pangkep, Barru, Soppeng, Tator, Torut, Lutra, Lutim. Di bagian selatan ada Gowa, Bulukumba dan Selayar. Semua melalui proses yang sama dalam waktu yang sama.

Belajar dari proses pilkada tahun ini, penulis – yang membersamai proses pilkada ini sejak awal, membuat beberapa catatan penting dari sudut pandang sebagai kandidat dan juga sebagai pemilih.

Dalam proses menuju penetapan calon, sudah banyak kandidat yang berguguran. Semua daerah mengalami hal yang sama. Ada bakal calon yang gugur sebelum bertanding, batal jadi calon karena persyaratan dari KPU tidak terpenuhi.
Faktor penyebab kegagalan itu lebih banyak pada aspek keterpenuhan kursi pengusung, syarat parpol pengusung yang diatur dalam
PKPU No 9 tahun 2015. Yang mengharuskan 20% kursi bagi parpol pengusung.
Demikian juga dengan syarat dari KPU bahwa anggota DPRD harus melepaskan jabatannya ketika telah ditetapkan sebagai calon kepala daerah.
Dua faktor ini yang mendominasi gugurnya beberapa bakal calon bupati/wakil bupati.

Ketidakmampuan dalam komunikasi politik menjadi faktor utama kegagalan bakal calon mendapatkan dukungan kursi dari parpol sesuai yang disyaratkan oleh KPU.
Ini adalah hal yang sederhana tapi urgen dalam dunia politik.
Mungkin inilah asbabnya, mengapa politik didefinisikan sebagai sebuah seni. Ya.. Politisi harus mampu membangun komunikasi yang baik dengan semua pihak. Dari sekian banyak teori tentang komunikasi politik ( hypodermic, kepala batu, dll ) sepertinya teori empathy & teori hemopil efektif diterapkan dalam proses mencari partai pengusung dalam pilkada.
Dalam komunikasi politik, kemampuan memproyeksikan diri sendiri ke dalam titik pandang dan empati orang lain memberi peluang kepada seorang politikus untuk berhasil dalam pembicaraan politiknya. Akan tetapi, menempatkan diri sendiri sebagai orang lain itu memang sangat tidak mudah. Justru itu, empati dapat ditingkatkan atau dikembangkan oleh seorang politikus melalui komunikasi sosial dan komunikasi politik yang sering dilakukan.


Secara sederhana dapat disebutkan bahwa empati adalah kemampuan menempatkan diri pada situasi dan kondisi orang lain. Dalam hal ini K. Berlo (1960) memperkenalkan teori yang dikenal dengan nama influence theory of emphaty (teori penurunan dari penempatan diri kedalam diri orang lain). Artinya, komunikator mengandaikan diri, bagaimana kalau ia berada pada posisi komunikan. Dalam hal ini individu memiliki pribadi khayal sehingga individu-individu yang berinteraksi dapat menemukan dan mengidentifikasi persamaan-persamaan dan perbedaan masing-masing, yang kemudian menjadi dasar dalam melakukan penyesuaian.


Dengan demikian, empati dalam komunikasi politik adalah sifat yang sangat dekat dengan citra seseorang politikus tentang diri dan tentang orang lain. Itulah sebabnya empati dapat dinegosiasikan atau dimantapkan melalui komunikasi antarpersonal.

Inilah hal paling mendasar yang harus dimiliki oleh politisi yang berniat maju di pilkada berikutnya.

Selain itu, politisi yang ingin maju pilkada melalui parpol, pandai-pandailah melihat track record parpol tersebut, bukan sekedar menjadi kendaraan tapi juga mesin politiknya bisa bekerja maksimal untuk kerja-kerja pemenangannya.

Pilkada tahun ini, sekaligus juga ajang menilai parpol yang bergerak untuk pemenangan kandidatnya. Yang punya niat maju pilkada, silahkan menilai parpol pd event ini.
Bagi parpol cerdas, mampu memanfaatkan event ini untuk melakukan konsolidasi suara grassroot, konsolidasi simpul-simpul vote getter. Yang jika parpol tersebut melakukannya, maka “nilai politik”nya akan melambung pada pilkada serentak putaran berikutnya.

Catatan penting yang sayang untuk diabaikan dalam proses pilkada ini, keterlibatan kandidat independen yang masih sangat minim.
Dari 11 daerah pilkada, hanya ada 3 daerah yang punya calon independen : Gowa, Pangkep & Bulukumba. Dari penelusuran penulis ke KPU, ternyata kegagalan mereka pada pemenuhan syarat dukungan KTP yang harus dipenuhi. Selain itu, peminat jalur ini memang sangat minim. Terbukti tidak semua daerah pilkada ada bakal calonnya dari jalur independen.
Ini berarti, jalur independen sepi peminat.
Penulis, sebagai politisi, menyarankan bagi yang ingin maju pilkada, lebih efektif melalui jalur parpol.
Mungkin pembaca mengatakan penulis subyektif karena penulis seorang politisi.
Biarlah nanit menjadi PR bersama bagi sahabat-sahabat saya pengamat politik, untuk menuliskan tentang plus minus jalur independen. Biar menjadi acuan bersama bg yang berniat maju pilkada berikutnya.

Bagian kedua dari tulisan ini, adalah tentang pemilih.
Parpol sudah bekerja mengusung kandidat, diarak dari desa ke desa, orasi dari panggung ke panggung. Pada akhirnya, pemilihlah yang menentukan kemenangannya. 1 suara jangan diabaikan.
Masa tenang ini benar-benar harus dimanfaatkan kandidat untuk mengamankan calon pemilih mereka.
Pada fase inilah, supply data dari konsultan pendamping sangat penting. Bagi calon yang memiliki manajemen kampanye yang rapi ( manajemem modern ), tepat dalam mengambil tindakan akhir, tentu saja tanpa mengabaikan Kehendak Allah SWT.

Akhirnya, masyarakat yang menentukan siapa pemimpin daerah mereka kelak. Dari deretan cabup/cawabup yang ada di 11 pilkada ini, beragam latar belakang. Ada pengusaha, ada birokrat, politisi, bahkan disinyalir ada yang background pendidikan paket C, semua punya peluang menang yang sama. Sekali lagi, kembali ke pemilih, kembali ke masyarakat nya.

Apa yang disampaikan oleh Abu Ishaq As Sabi’y ( seorang ulama ahli hadits ) : kamaa takuunuu, yuwalla ‘alaikum : sebagaimana kalian, demikian pula pemimpin kalian.

Mari kita lihat tanggal 9 besok.

Selamat memilih kepada saudara-saudaraku di Maros, Pangkep, Barru, Soppeng, Tator, Toraja Utara, Luwu Utara, Luwu Timut, Gowa, Selayar & Bulukumba.
Di tangan kalian pemimpin daerahmu.

Muhasabah Pagi

Siapa yang peduli dengan ragaku
Ketika dia telah terbujur tanpa nafas
Siapa yang peduli dengan jasadku
Ketika ruh sudah meninggalkannya

Siapa yang peduli dengan ragaku
Ketika dikembalikan ke perut bumi
Tempatnya dia berasal
Dalam tempat yang lapang sempitnya karenaa amalan
Yang terang gelapnya karena pahala

Kalian tak mungkin mengirimiku lentera
Kalian juga tak mungkin memperluas tempat jasadku
Kalian juga tak mungkin menungguiku
Menghadapi bersama para malaikat yang akan menghisabku
Kalian tak bisa apa-apa

Sekalipun kalian mencintaiku, karena Allah ataupun bukan karena Allah
Sekalipun kalian anak-anakku, yang dengan menghadirkannya ke dunia aku harus mendera rasa
Sekalipun kau suamiku, yang jiwanya menyatu dengan jiwaku
Kalian tak bisa apa-apa

Jika pernah ada kebaikan untuk kalian dari ku, doakanlah atas itu tempatku lapang.
Jika pernah ada kesungguhan kuwariskan untuk kalian, doakanlah atas itu mengalir kesejukan ke tempat ruhku
Jika pernah ada ilmu kuberikan untuk kalian, doakanlah atas itu mengalir pahala tak putus-putus untuk menerangi tempatku

Jika aku lalai pada kalian, maafkanlah, semoga atas itu, Allah melapangkan tempatku.

Sri Rahmi: Smartphone Tidak Bisa Gantikan Peran Buku

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR – Peran buku sebagai bacaan dan sumber ilmu, tidak bisa tergantikan dengan kehadiran ponsel pintar atau smartphone.

Demikian disampaikan anggota Komisi E DPRD Sulsel, Sri Rahmi pada workshop Speed Reading yang diselenggarakan Badan Perpustakaan dan Arsip Sulsel di Hotel Prima, Senin 2 November. “Secanggih apapun teknologi, membaca buku tidak akan sama dengan membaca lewat smartphone,” kata Sri Rahmi di depan peserta dari pustakawan dan guru se-Sulsel.

Lebih lanjut Sri Rahmi menyemangati para peserta untuk terus melestarikan minat baca. Dalam agama Islam, ayat yang pertama turun tentang perintah untuk membaca. Para peserta yang terdiri atas guru banyak mengeluhkan perpustakaan yang ada di sekolah-sekolah yang masih minim bahan bacaan.

Padahal minat baca juga ditentukan oleh ketersediaan buku bacaan. Sebagai anggota Komisi E yang membidangi pendidikan, Sri Rahmi mengatakan kondisi minat baca di Makassar masih sangat kurang. Selain membaca, Sri Rahmi juga mengajak peserta untuk menulis. (Nasrun Nur/jai)

Sumber : http://fajar.co.id/fajaronline-sulsel/2015/11/02/sri-rahmi-smartphone-tidak-bisa-gantikan-peran-buku.html#sthash.ImVsq3g5.dpuf

Sri Rahmi Bentuk Forum Cinta Anak

Laporan Wartawan Tribun Timur, Mahyuddin
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR -Maraknya kekerasan terhadap anak di Makassar menjadi perhatian legislator PKS Sulsel, Sri Rahmi. Sebagai bentuk perhatiannya Sri Rahmi membuka Forum Cinta Anak, Senin (2/11/2015).
“Forum Cinta Anak ini bertujuan untuk sharing para orang tua dalam mendidik anak-anaknya sehingga jauh dari kekerasan. Banyak terjadi kekerasan terhadap anak, banyak pula anak yang melakukan kekerasan, seperti kasus begal yang pelakunya kebanyakan anak-anak,” ujar Sri Rahmi.
Anggota forum yang terdiri dari kalangan perempuan tersebut menjadi fasilitator di kecamatannya masing-masing. Anggota Forum Cinta Anak. (*)

google-site-verification: googlee1504fd57faec694.html

Design by pakmustain.info