Bunda Rahmi : Amurwa Bhumi

LKH membuktikan dirinya sebagai novelis sejati bukan penulis sejarah apalagi sejarawan.

Jika pada novel edisi Gajah Mada kesan ilmiahnya sangat kental, benar-benar sebuah penelitian sejarah, sentuhan fiksinya hanya 10%, maka di novel Amurwa Bhumi ini kebalikannya.
Fiksinya mendominasi.

Karena karya LKH yang pertama saya baca adalah edisi GM, maka dia membentuk pikiranku terhadap sebuah realita sejarah yang bisa dipertanggungjawabkan. Sehingga tatkala saya membaca Amurwa Bhumi ini, saya nyaris tergiring meninggalkan logika.
Dan akhirnya, saya berhasil berdamai dengan diri sendiri. Ini sebuah fiksi.

Amurwa Bhumi ini, ceritanya jaman Singasari – jamannya Kertajaya, Ken Arok.
Penyebutan Makassar, Sulawesi, dalam novel tersebut, sebagai kota yang masih menyimpan hewan kalong, cukuplah mempertebal hubungan emosi dengan novel ini. Sekalipun yang dimaksud adalah Soppeng, bukan Makassar.
Saya memahami, mengapa LKH hanya menyebut Makassar, padahal tak perlu upaya ekstra untuk tahu kalo kota kalong di Sulsel adalah Soppeng. Pasti LKH tak ingin membuat pembacanya di luar Sulsel bingung dengan penyebutan itu. Makassar mewakili imajinasi pembaca.

Ada kisah yang berulang, dari novel ini. Pengulangan cerita saat GM menuju pengasingan dengan Parrameswara dalam petualangannya.
Ceritanya persis, pelakunya saja yang berbeda. Mungkin LKH suka dengan alur itu, sehingga harus dia ulang. Hehehe…..

Tapi saya takjub dengan imajinasinya yang mempertemukan ranah lampau dengan ranah masa depan.
Mempertemukan 3 generasi yang rentang waktu masing-masing ratusan tahun.

Sekalipun novel ini memiliki 980 halaman, tapi ternyata belum cukup untuk mewadahi tumpahan kata-kata LKH dalam menuntaskan kisahnya.

Anda yang sudah pernah membaca kisah Ken Arok & Ken Dedes, akan bertemu dengan sang Brahmana Loh Gawe, juga bertemu Empu Gandring bukan sekedar sebagai pandai besi.

Bagaimana nasib tokoh-tokoh ranah masa depannya ? LKH tidak menyelesaikannya di sini.

Itulah LKH, to be continue…..

Sebagaimana tetralogi Pramoedya ( Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca ) menurutku, karya terbaik LKH ada di pentalogi Gajah Mada.

Semoga tulisan ini bisa membantu Anda memilah.

#inspirasibunda

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

google-site-verification: googlee1504fd57faec694.html

Design by pakmustain.info