Berselancar

Politik adalah dunia yang keras, maskulin. Itu kata sebagian orang. Ada pula yang mengatakan bahwa jika ingin menguji kuatnya kepalamu, masuklah ke politik.
Ada yang mengatakan, politik adalah seni.
Saya lebih suka dengan penamaan ini.

Sesungguhnya, saya “terlibat” di dunia politik sejak saya Sekolah Dasar (SD). Membersamai setiap pertemuan-pertemuan parpol Etta saya, membuat saya punya naluri politik.
Tumbuh di kampus bersama para aktivis, membuat saya sepertinya memang tak bisa jauh-jauh dari dunia yang hiruk pikuk ini.

Sibghoh politik dari orang-orang yang berpengaruh dalam hidupku tak kuasa kutampik.

Berselancar, kosa kata yang kukenal sejak awal saya terjun menjadi politisi.
Nasehat ini dari seorang senior, qiyadah dari jamaah ini.
Sejak saat itulah, kosakata itu kupakai dalam kehidupan politik saya.

Kau lihat peselancar? Ombak setinggi apapun dia berani menghadang tanpa harus terbenam ke dasar lautan atau terhempas bersama buih ke tepian.
Peselancar cerdas bermain dengan ombak. Ketinggiannya mengguncang adrenalin, gulungannya menguji batasan rasa takut.
Peselancar mencari tantangan, menunggu ombak yang menjulang untuk membuktikan nyalinya menghadapi alam.
Kau lihat bagaimana Ericson Core menjadikan film pointbreak demikian menakjubkan ? Johny Utah ( Luke Bracey ) sebagai peselancar ekstrem, mencari ombak terekstrem di dunia. Maut adalah tantangannya tapi dia berhasil menaklukkannya.

Demikianlah seorang politisi. Tidak menantang sepenuhnya jika tidak sepakat, juga tidak menerima sepenuhnya. Tapi tetap menjalankannya dengan melakukan penyesuaian-penyesuaian yang ada ruang-ruang ijtihadnya.
Karena sesungguhnya, qiyadah bukanlah yang ma’shum, bukanlah sumber kebenaran, tapi di dalamnya ada syuro yang harus dihormati, yang harus dijunjung tinggi.
Memadukan dua kutub, menyelaraskan dua warna dalam sebuah harmoni al qiyadah wal jundiyah tanpa harus merasa “tertekan” dengan keputusan-keputusan yang tidak kita sukai.

Ubah kendala jadi sebuah peluang dalam kecerdasan pikirmu.
Ubah ancaman menjadi sebuah tantangan dalam bijak sikapmu.
Tidak harus menambah daftar lawan, karena sesungguhnya bisa jadi di antara mereka ada yang bisa menghantarkanmu ke syurga.
Kurangi daftar nama lawanmu dalam tiap jenaknya, sehingga daftarnya menjadi zero dan bersih. Saat itulah kau menjadi orang yang diinginkan, respek mengalir untukmu.
Jangan mencari kompetitor, karena sesungguhnya manusia itu saudara, sesama politisi itu mitra. Maka tampilkanlah akhlak politikmu yang lebih agung dari mereka.
Senyumlah, sekalipun dihadapan orang yang telah merenggut hakmu, karena sesungguhnya kaulah pemenang atas dirimu.
Cintailah, sekalipun terhadap orang-orang yang mengkhianatimu, karena sesungguhnya janji Allah jelas bagi orang-orang seperti mereka.
Tak ada guna, melampiaskan amarah, meluluhlantakkan harga diri orang.

Tahukah kau, jika di dunia politik tidak mengenal jenis kelamin ? Ini memang dunia dengan gender sesungguhnya.

Kau tidak akan menemui, seorang yang empati pada mu karena seorang perempuan harus pulang malam karena rapat.
Tidak ada pertanyaan, tidak ada penawaran, tidak ada empati. Hatta sesama saudara separtai sekalipun.
Saat itu, jika kau sedih, sedihlah sendiri. Tidak ada yang peduli kecuali suami atau anak-anakmu atau sopirmu.

Maka buanglah rasa itu di dunia ini. Maka kuburlah rasa itu, bersama azzammu ingin berkhidmad di sini.

Ketika kau harus jaulah, sebagai bagian dari amanah partai, meninggalkan anak-anak yang masih belia, meninggalkan suami, ada rasa sedihmu, itu pasti. Tapi yang lebih harus kau pastikan, enyahkan sesegera mungkin agar kau bisa tetap tegar dihadapan para laki-laki.
Karena dunia ini tidak mengenal jenis kelamin, kecuali untuk pada batasan syariatnya.

Saat kau bersama para laki-laki, dimana mereka cepat dalam bertindak, gesit dalam langkah, maka kau jangan tertinggal dari mereka. Jangan pernah meminta kompensasi keterlambatan hanya karena kau seorang perempuan. Jangan pernah minta kau dimaklumi hanya karena kau seorang perempuan. Itu, jika kau ingin berkhidmad sepenuhnya di dunia ini.

Karena kau adalah peselancar.

Ikuti ritme ombaknya. Tanpa harus tergulung ke kedalaman atau terhempas ketepian.

Ingatlah, Berselancarlah !
Aku peselancar. I’m a surfer.

Paropo, 21 Desember 2015

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

google-site-verification: googlee1504fd57faec694.html

Design by pakmustain.info